Pagi datang dan bersemayam seperti biasa, tentang embun yang
tergelincir di daun, gelap yang perlahan mulai memudar, sampai embus
angin saat suara sunyi malam mulai reda.
Gemericik air
samar-samar terdengar hingga kamarnya. Dia perlahan mulai memaksa agar
bisa terjaga. Setelah memijat-mijat matanya dengan jari telunjuk dan
jempol kanan, samar-samar pandangannya mulai menjadi jelas.
Seseorang sedang berwudu
Di remang-remang ruang kamar, tangannya menjelajah mencari telefon
genggam yang tadi malam dia simpan di samping bantal. Masih pukul empat
pagi, udara dingin masih beredar, mengancam orang-orang untuk tetap
bersembunyi di balik selimut. Setengah sadar dia terdiam melihat layar
telefon genggamnya. Tidak memedulikan lagi suara gemericik tadi, dia
kembali pada lelap yang tak bisa tertahan lagi.
Juga, suara gemericik itupun mulai berhenti
,
*****
Lantunan tembang suci sayup terdengar dari celah-celah ruang musala.
Ketika itu juga embus semilir angin membawa sejuk kepada tiap yang
sempat mendengarkan.
Selepas salat tahajud dan berzikir dia langsung membaca lembar-lembar
suci itu secara lambat. Karena umurnya yang sudah tidak muda, suaranya
mulai serak dan pelan, tetapi begitu damai ketika dia membaca huruf demi
huruf keagungan Tuhan, begitu juga jika ada yang sempat mendengarkan,
niscaya tentramlah hatinya.
Sampai puji-pujian dari pengeras suara masjid berhenti, dia menyelesaikan bacaannya.
“Sodaqollahul adzim”
Petunjuk baca yang sedari tadi dipakainya ditaruhnya di tengah kitab,
terhimpit di lembar terkahir yang dia baca, melipat halaman dengan
menunjuk salah satu ayat.
Perlahan tangan lemah itu melepas kacamata sederhana tanpa bingkai
mewah dan bahkan salah satu lengan kacamatanya mulai bengkok, jika
dilihat saksama kacamata itu tidak simetris lagi.
Dia perlahan bangun dari duduknya, berniat membangunkan anaknya.
Dia perlahan bangun dari duduknya, berniat membangunkan anaknya.
*****
Azan subuh berkumandang dari pengeras suara masjid, menembus udara
pagi hingga kepada telinga orang-orang yang masih terlelap. Seruan agar
menghabiskan sedikit waktunya untuk menghadap Tuhan dan bermunajat, atau
sekadar berkeluh-kesah.
Asshalatu khoirun minannaum
Setelah selesai seruan azan, terdengar tembang pujian.
Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)…
Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)…
*****
Dia masih terlelap, masih asik berkutat dengan mimpinya. Hingga jejak langkah itu datang dan mulai mendekat.
“Bangun, sudah subuh”, dengan menggoyang-goyangkan lengannya.
“Hmm..”
“Salat subuh dulu”, dengan suara yang lemah.
“Iya-iya nanti, sana-sana!”, sedikit membentaknya.
“Hmm..”
“Salat subuh dulu”, dengan suara yang lemah.
“Iya-iya nanti, sana-sana!”, sedikit membentaknya.
Nafasnya terembus perlahan keluar, menyerah, Dia lalu bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.
Sesampainya di masjid, salat sunah qobliah ditunaikannya. Dia terdiam
duduk di atas sajadah. Lemah, dia mencoba bangkit untuk melaksanakan
salat subuh ketika ikamah diserukan. Dia menarik nafasnya dalam-dalam.
“Allahuakbar”
Namun saat sujud sebelum tahiyat akhirnya, dia terdiam. Jemari
kakinya mulai dingin, mulutnya berusaha mengucapkan sesuatu, namun tak
bersuara. Itu adalah sujud terakhirnya, ketundukannya pada Tuhan yang
segera didatanginya.
Malaikat-malaikat sedari tadi sudah mengelilingi sambil memerhatikannya.
*****
Jam empat pagi keesokan harinya, masih dengan pagi yang sama, embun
yang sama, dan embus angin yang sama. Gemericik terdengar, dia teringat,
kemarin dia mendengarkan gemericik yang sama. Tanpa susah payah matanya
langsung nyalang. Berusaha menjaga kesadarannya, dia berlari ke tempat
berwudu, namun tidak ada siapa-siapa di sana.
Ternyata gerimis
Air mata tergelincir di pipi
lalu bibirnya. Di pagi ini, dingin hendak menyampaikan
kenangan-kenangan yang terlalu jauh darinya. Dia segera bersiap-siap
melaksanakan salat tahajud.
Setelah melaksanakan salat tahajud, dia membuka kitab suci yang di
taruh di meja kecil. Membuka halaman yang di dalamnya terhimpit petunjuk
baca. Dia sangat mengenal petunjuk baca itu. Dia menahan air matanya
untuk jatuh lagi, mengusap kedua matanya dengan telunjuk dan jempol
kanannya. Dia melihat ayat terakhir yang tertunjuk dengan lipatan di
halaman itu.
Al-An’am ayat 61
“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua
hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga
apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia
diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kamu itu
tidak melalaikan kewajibannya”.
Cerpen Karangan: Muhammad Adhimas P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar