Jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Chintya Aryanto menuju ke ruang
kelas perkuliahan dengan langkah gontai. Ketika sampai dalam kelas, Ibu
Darmayanti, dosen matakuliah Pengantar Ekonomi Makro menyambut dengan
nada sinis, “selamat sore,” diikuti dengan gelak tawa mahasiswa dalam
kelas tersebut. Seolah sudah terbiasa dengan perlakuan tersebut, Chintya
dengan cuek langsung menuju ke tempat duduk kosong di pojok kanan
belakang kelas. Hari ini adalah hari pertama perkuliahan semester
genap di Universitas Merah Putih Jakarta. Namun Chintya, salah satu
mahasiswi Jurusan Ekonomi-Akuntansi yang kini menjajaki semester kedua
perkuliahan sudah datang terlambat selama 60 menit. Pantas saja dosen
bersikap ketus padanya. Selama perkuliahan pun, Chintya nampak tidak
mempedulikan kicauan Ibu Darmayanti yang menyerukan permasalahan ekonomi
makro. Chintya malah asyik menggambar-gambar dengan pensil 2B yang
menari-nari di atas kertas A4. Tidak terasa, jam akhirnya berputar
sampai pukul 09.00 WIB. “Sekian materi saya hari ini, sampai jumpa di
pertemuan berikutnya,” kata Ibu Darmayanti mengakhiri perkuliahannya.
“Yes,” seru Chintya dalam hati sambil merapikan mejanya dan segera
menuju perpustakaan.
,
Perpustakaan Universitas Merah Putih tergolong elite. Buku-bukunya lengkap, tersedia fasilitas wifi,
dan ruangannya besar. Namun, bukan hal-hal tersebut yang membuat
Chintya suka menghabiskan waktunya di tempat ini. Yang paling membuat
Chintya betah adalah adanya kafe dalam perpustakaan ini. Selain dapat
makan dan minum dengan leluasa, di kafe perpus terdapat meja yang
ukurannya cukup untuk meletakkan kertas gambar berukuran A3. Chintya
memang mempunyai hobi menggambar. Melukis, desain, sketsa, dan karikatur
adalah dunianya. Bahkan setelah lulus SMA, Chintya sebenarnya ingin
mengambil perkuliahan desain grafis namun tidak diizinkan oleh kedua
orang tuanya. Maklum, Chintya adalah anak tunggal sehingga kedua orang
tuanya begitu protektif terhadap dirinya. Menurut kedua orang tua
Chintya, menggambar atau melukis bukanlah kegiatan yang akan menjadikan
masa depan anak semata wayangnya menjadi cerah. Sungguh pandangan yang
kolot! Namun apa boleh buat. Chintya pun tidak mampu menentang keinginan
orang tuanya yang menghendakinya menjadi pengusaha atau bussiness
woman. Maka dari itu, Chintya mencemplungkan dirinya ke perkuliahan
Akuntansi, dunia yang sungguh tidak dikehendakinya! Ya, itulah alasan
mengapa Chintya ogah-ogahan dalam menjalani perkuliahannya. Menekuni
suatu bidang yang tidak kita minati sungguh merupakan siksaan batin.
Perpus kafe menjadi saksi bisu kehidupan dewasa awal Chintya.
“Self assessment system
adalah sistem perhitungan pajak dalam suatu negara dimana besaran pajak
di hitung sendiri sedangkan official assessment system adalah
perhitungan pajak oleh pihak fiscus,” terang Pak Martin, dosen
matakuliah Perpajakan yang sedang mengajar. Tiba-tiba pintu kelas
terbuka dan Chintya masuk dengan kepala menunduk. “Kok jam segini baru
datang?” Pak Martin bertanya sambil melihat jam tangannya yang
menjelaskan bahwa mahasiswa ini sudah terlambat selama 55 menit. “Iya,
maaf pak,” jawab Chintya tanpa memberikan keterangan lebih lanjut dan
langsung mencari tempat duduk. “Namanya juga ‘Princess of Late’ gitu
lho, kalau datengnya on time, bisa-bisa matahari terbit
dari barat,” celetuk salah seorang mahasiswi bernama Merry diikuti
gelak tawa satu ruang kelas kecuali Pak Martin dan si subyek penderita,
Chintya. Sejak semester satu, Chintya selalu datang terlambat ke kelas.
Dulu, ia hanya terlambat sekitar 30 menit. Di semester ini lebih parah,
keterlambatannya sampai satu jam! Hingga teman-teman sekelasnya
memberikannya julukan sebagai ‘Princess of Late’ alias tuan puteri yang
suka terlambat. “Sekarang kita akan mempelajari teori asas pemungutan
pajak,” Pak Martin lanjut mengajar setelah suara tawa reda.
“Duh, perpajakan apa sih, bikin pusing aja,” dumel Chintya dalam hati
sambil melangkah ke kafe perpus seusai kuliah Perpajakan. Sesampainya
di tempat favoritnya, Chintya memesan coklat panas dan mulai melakukan
ritualnya. Pensil 2B-nya bergerak di atas kertas A3 menggoreskan
Doraemon dan kawan-kawannya yang sedang terbang dengan baling-baling
bambu. Entah mengapa, ia tiba-tiba saja merindukan masa kanak-kanaknya
sehingga dituangkannya itu lewat kartun favoritnya semasa kecil. Pak Martin
adalah dosen baru di Jurusan Akuntansi Universitas Merah Putih dan kali
ini beliau mencoba mengunjungi kafe perpus. Setelah memesan roti bakar
keju, ia mencari tempat duduk dan dilihatnyalah sosok yang tidak asing
lagi. Ia melihat seorang gadis manis berambut panjang dan rambutnya itu
dimasukkan dalam lubang belakang topi berlidah. Dialah Chintya dengan
gaya khasnya setiap ke kampus. “Halo. Kamu mahasiswa saya kan? Boleh
saya duduk di sini?” Pak Martin menyapa Chintya sembari meminta izin
duduk semeja dengannya. “Iya pak. Boleh pak. Silakan,” jawab Chintya.
“Oh, ternyata kamu suka menggambar ya? Bagus ya gambar kamu,” puji Pak
Martin ketika melihat sketsa gambar Chintya. “Terima kasih pak,” jawab
Chintya sambil tersenyum. “Kenapa kamu gak ambil jurusan desain grafis
aja? Kayaknya kamu berbakat deh,” Pak Martin lanjut bertanya. “Iya,
maunya sih gitu pak. Tapi gak boleh sama orang tua saya,” jawab Chintya
dengan raut wajah agak sedih. “Oh, begitu, tanggap Pak Martin singkat.
Seminggu kemudian, jurusan akuntansi semester kedua kembali
mendapatkan matakuliah Perpajakan. Kedatangan Pak Martin sudah
dinanti-nantikan oleh para mahasiswi. Bagaimana tidak, Pak Martin adalah
sosok dosen muda berumur 31 tahun yang wajahnya tampan, perawakannya
tinggi, dan masih lajang. Kriteria terakhir itulah yang membuat para
mahasiswi tambah antusias. Bahkan personal genk Sweety Girls, genk
terpopuler di jurusan akuntansi, yang beranggotakan Merry, Kirana, dan
Santy rela berdandan habis-habisan dan membeli pakaian baru untuk
menghadiri kuliah Perpajakan. Wow! “Untuk minggu depan, kalian akan saya
berikan tugas untuk merangkum materi yang telah kita pelajari selama
dua minggu ini. Tugasnya di buat dalam kelompok yang beranggotakan empat
sampai lima orang,” jelas Pak Martin. Para mahasiswa segera membagi
dirinya dalam kelompok. Kemudian Cindy, sang komti kelas segera
menyerahkan kertas berisi daftar kelompok kepada Pak Martin. “Semuanya
sudah dapat kelompok ya,” Pak Martin memastikan. “Palingan Chintya tuh
yang belum dapet, biasaaa,” ujar Santy. “Maklum pak, anak yang gak mau
bergaul, di kelas kerjaannya gambar-gambar aja, IP-nya bottom five di
jurusan,” Kirana memberi penjelasan mewakili kenyataan. Pak Martin
melihat ke kertas yang sedang dipegangnya dan tidak ditemukan nama
Chintya. “Chintya, kamu gabung ke kelompoknya Cindy ya,” Pak Martin
memutuskan.
Pada jam istirahat, Chintya dan Pak Martin bertemu kembali di kafe
perpus seperti sebelumnya. Pertemuan ini tidak direncanakan, tanpa
janji, namun mereka bertemu bak jodoh! “Kamu suka kemari ya?” Tanya Pak
Martin. “Iya pak, ini tempat favorit saya. Kalau ada jeda kuliah, saya
pasti ke sini. Bapak juga suka tempat ini?” Chintya balik bertanya.
“Roti bakar di sini enak, makanya saya balik lagi, hehehe,” jawab Pak
Martin. “Sori nie, kok saya liat, kamu kuliah kaya
gak niat gitu? Kasian lho orang tua kamu yang udah biayain kuliah kamu
mahal-mahal,” ucap Pak Martin. “Aduh… gimana yaa,” Chintya kebingungan
menjawab pertanyaan Pak Martin. Ia nampak mempunyai jawaban yang kuat
untuk pertanyaan tersebut namun sulit sekali dijelaskan. Pak Martin
dapat membaca situasi ini maka ia berkata, “Udah gak usah di jawab kalau
gak bisa di jawab. Yang jelas saya punya tawaran buat kamu.” “Tawaran
apa pak?” Tanya Chintya penasaran. “Saya bisa bantu kamu supaya enjoy
dalam kuliah dan mungkin ke depannya IP kamu ikut membaik. Saya
dengar-dengar, IP kamu kurang baik kan?” Ujar Pak Martin. “Iya sih pak,
IP saya gak bagus. Oh ya? Kita kan baru kenal pak, kok bapak baik banget
sama saya sampe nawarin bantuan seperti itu?” Tanya Chintya heran.
“Yaa… karena kamu cantik,” kata Pak Martin cuek. “Hahahaa… gak kok, saya
bercanda tadi. Saya kan dosen kamu. Yah sebagai tanggung jawab moral
aja,” sambungnya santai. “Bapak mau ajarin saya tentang matakuliah?
Hmm…, boleh deh,” jawab Chintya. “Oke, kalau begitu, kita ketemuan ya
setiap hari Kamis selesai kamu kuliah di tempat ini,” balas Pak Martin.
Sesuai perjanjian, Chintya dan Pak Martin bertemu di kafe perpus
setiap hari Kamis seusai kuliah. Dari minggu ke minggu petemuan ini
menimbulkan gosip di Jurusan Akuntansi. Banyak mahasiswa yang memergoki
mereka. Mereka tampak asyik mengobrol berduaan dan kadang sampai
tertawa-tawa. Apa sih yang mereka lakukan berdua? Apa sih yang mereka
bicarakan? Kayaknya seru banget. Pertanyaan itulah yang muncul di benak
semua orang yang melihatnya. Mereka berpacaran! Itulah prediksi paling
jitu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Salah satu personel
sweety girl, Merry, mahasiswi yang paling tergila-gila pada Pak Martin
bagaikan cacing kepanasan karena pria idamannya jatuh ke tangan
mahasiswi yang baginya tidak ada apa-apanya. Merry mengakui bahwa
Chintya memang lebih manis daripadanya. Namun, prestasi akademis Chintya
itu hancur mina, tidak disiplin, dan kurang pergaulan. Bagaimana bisa
dosen yang sempurna seperti Pak Martin dapat tertarik pada mahasiswi
yang modelnya seperti itu? “Chintya, lo ngaku deh. Lo sama Pak Martin
itu pacaran kan?” Tanya Merry pada Chintya. “Gue sama Pak Martin itu ya
cuma mahasiswa sama dosen, Merry, gak lebihlah. Mesti berapa kali sih
gue bilang? Ini tuh sudah lebih dari sepuluh kali lo nanya ke gue
pertanyaan yang sama. Lo gak bosen apa? Gue aja udah bosen banget tahu.
Apalagi bukan lo aja yang nanya gitu. Anak-anak yang lain juga, sama
aja,” celoteh Chintya. “Ya terus lo ngapain berdua-duaan mulu sama Pak
Martin di kafe perpus? Pandang-pandangan, senyum-senyum, ketawa-ketawa.
Udah, lo jujur aja deh sama gue. Gue janji gak nyebarin pengakuan lo ke
anak-anak lain. Soalnya gue tahu, lo takut kan kebukti pacaran sama Pak
Martin? Nanti dekan bakal ngegubris hubungan kalian. Pake pelet apa sih
lo? Sampe Pak Martin bisa ada hati sama lo,” oceh Merry panjang lebar.
“Iyaa… gue pacaran sama Pak Martin. Peletnya ada di topi gue. Makanya
tiap hari gue pake topi ke kampus. Puas lo?” Jawab Chintya yang telah
kewalahan.
Semenjak kedekatannya dengan Pak Martin, Chintya mengalami kemajuan
yang cukup pesat dalam aktivitas perkuliahannya. Sang ‘Princess of Late’
tidak lagi datang terlambat pada waktu kuliah. Tugas mandiri yang
diberikan dosen selalu dikerjakannya dan dikumpulkan tepat waktu. Pada
saat matakuliah, ia tidak lagi menggambar-gambar seperti biasanya
melainkan mau memfokuskan perhatian pada dosen yang sedang mengajar.
Peralatan menggambar yang dibawanya hanya digunakan pada saat istirahat.
Sedikit-sedikit, Chintya mulai membaurkan diri dengan teman-teman
sekelasnya. Pada saat pembagian kelompok kerja, ia aktif mencari teman
kelompok. Teman-temannya pun dengan mudah menerima kehadirannya karena
ia sudah dapat memberikan kontribusi dalam tugas kelompok, tidak seperti
dahulu yang hanya ‘menitipkan nama.’ Selain itu, di semester dua ini,
Chintya berhasil meraih IP 2,9. Bila dibandingkan dengan IP-nya semester
lalu yang berkisar 1,8, ini berarti peningkatan yang signifikan!
“Ternyata cinta itu mempunyai kekuatan yang luar biasa ya. Cinta bisa
mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Cinta bisa menjadikan yang
buruk menjadi indah. Cinta juga dapat mengubah sikap, dari malas menjadi
rajin, dari ogah-ogahan menjadi semangat. Dan gue baru tau, kalau cinta
itu bisa naikin IP. Liat aja Chintya. Sejak dia sering berdua-duaan
sama Pak Martin di kafe perpus alias
pacaran, dia mulai berubah jadi mahasiswa yang disiplin, nilainya juga
lumayan. Tadinya gue pikir, cinta itu destruktif lho. Kalau kita tiap
hari pacaran, SMS-an, BBM-an, terus malam minggu jalan-jalan mulu, kan
buang-buang waktu. Entar jadinya gak ada waktu buat belajar sama
ngerjain tugas secara maksimal. Ujung-ujungnya IP turun… Makanya sampe
sekarang gue milih ngejomblo. Ngejomblo demi prestasi, hahaa…,” ujar
Cindy, sang komti kelas yang IPK-nya selalu top three di Jurusan
Akuntansi. “Tepatnya, cinta itu adalah sumber air yang mempunyai dua
arus, yaitu prospektif dan desktruktif. Balik lagi ke sikap kita, yang
bakal nentuin ke arus mana kita terbawa,” balas Bella, sahabat Cindy
yang tengah mengobrol bersamanya. Seperti itulah rata-rata tanggapan
mahasiswa Akuntasi mengenai progres perkuliahan Chintya.
Pada semester berikutnya, Pak Martin tidak lagi mengajar Jurusan
Akuntansi angkatan Chintya karena beliau ditugaskan mengajar matakuliah
semester awal. Jadwal kuliah Chintya juga berbeda dengan jadwal mengajar
Pak Martin. Oleh karena itu, Chintya dan Pak Martin tidak pernah lagi
bertemu di kafe perpus. Gosip mengenai kedekatan mereka kian lama kian
pudar. Ada yang mengatakan bahwa mereka sudah putus, ada juga yang
menerka kalau mereka bertemu di luar kampus. Namun, sikap baik Chintya
yang ditunjukkannya belakangan tetap bertahan, yakni kedisiplinan dan
ketekunannya. Bahkan di semester paling akhir, Chintya mampu
menghasilkan prestasi yang terbaik, yaitu mendapat IP 4 di semester itu.
“Chin, selamat yaa… Nilai lo bagus banget. Pasti berkat diajarin sama
Pak Martin. Hoki bener lo punya cowok kaya gitu, hahahaa…,” ucap Rio,
teman sekelas Chintya yang sedang melihat nilai bersamanya di papan
pengumuman. “Yup, selamet juga ya buat lo, nilai lo juga memuaskan kan?
Yahh… lo ada-ada aja. Gue belajar sendiri donk, hahahaa…” jawab Chintya
santai.
Akhirnya, tiba juga hari ini. Hari spesial yang dinantikan oleh
Chintya dan semua teman-teman kuliahnya. Anak-anak perempuan tampil
anggun dengan kebaya warna-warni dan rambut yang disanggul. Chintya yang
kesehariannya tampil tomboi dengan kaos, celana panjang, dan memakai
topi, kini menunjukkan sisi femininnya. Ia mengenakan kebaya berwarna
ungu muda berhiaskan bunga-bunga kecil. Merry, Kirana, dan Santy juga
tak kalah cantik. Mereka bertiga sama-sama mengenakan kebaya berwarna
merah muda untuk menunjukkan kekompakan genk mereka dan penggunaan warna
merah muda ini dimaksudkan juga sebagai simbol manis dan centil, sama
seperti kepribadian mereka. Cindy mengenakan kebaya warna putih dan
beberapa temannya menggodainya mau menikah. Masih banyak warna lain yang
bertebaran seperti hijau, oren, biru, merah, kuning, dan lain-lain.
Warna-warni yang menampilkan keceriaan sama seperti hati mereka.
Sementara anak-anak lelaki tampil gagah dengan celana panjang, kemeja
lengan panjang, dipadukan dengan dasi kupu-kupu. Mereka semua telah
berkumpul di auditorium kampus. Ya, inilah Hari Wisuda Universitas Merah
Putih Jurusan Akuntansi. Acara ini berbentuk formal namun dapat diikuti
dengan santai oleh semua peserta karena mereka berasal dari satu
jurusan, yakni akuntansi. Jadi, wisuda mereka tidak perlu tercampur oleh
mahasiswa-mahasiswa asing yang berasal dari jurusan lain. Suasana
kekeluargaan begitu terasa karena semua mahasiswa telah saling mengenal,
paling tidak wajahnya tidak asing lagi. 127 mahasiswa beserta orang
tuanya, Rektor, Wakil Rektor, Dekan Fakultas Ekonomi, Ketua Jurusan
Akuntasi, dosen-dosen akuntansi, termasuk Pak Martin hadir memenuhi
ruangan itu.
Acara dimulai tepat pada waktunya. Pembawa acara mengawalinya dengan
doa, dilanjutkan dengan pidato dari Rektor, Dekan, dan Ketua Jurusan.
Semua mahasiswa diundang berdiri untuk menyanyikan “Himne Universitas
Merah Putih.” Tibalah saatnya pelantikan wisudawan-wisudawati. Satu
persatu nama mereka di panggil untuk dinobatkan secara resmi sebagai
sarjana dengan gelar S.E yang disematkan di belakang nama mereka.
Kemudian, Bapak Yanto, selaku Ketua Jurusan Akuntansi mengumumkan nama
mahasiswa yang mendapatkan juara tiga besar berdasarkan IPK. “Juara tiga
dicapai oleh… Surya Chandra. Juara kedua… Carissa Wilmona. Dan juara
satu… Cindy Putri.” Para top three maju ke depan untuk menerima piala
dan foto bersama. “Berdasarkan peraturan universitas yang dimandatkan
oleh Bapak Rektor kepada saya, akan diberikan penghargaan kepada satu
orang mahasiswa di setiap jurusan sebagai ‘Mahasiswa Teladan,’ Pak Yanto
melanjutkan pembicaraannya. “Saya telah melakukan observasi dan
menerima laporan mengenai perkembangan pembelajaran setiap mahasiswa
selama empat tahun. Oleh karena itu, saya telah memutuskan bahwa
mahasiswa yang berhak menerima predikat sebagai Mahasiswa Teladan
adalah…” Semua mahasiswa saling berpandang-pandangan. “Chintya
Aryanto…,” seru Pak Yanto. Semua hadirin bertepuk tangan dan Chintya
diundang maju ke depan. “Predikat Mahasiswa Teladan tidak harus jatuh ke
mahasiswa yang paling pintar atau paling sering mewakili universitas
mengikuti perlombaan. Predikat ini sebagai wujud penghargaan bagi
mahasiswa yang mau berusaha dan mengalami progres yang banyak selama
perkuliahan. Bapak tahu Chintya. Di semester awal, sikap dan prestasinya
tidak baik. Namun, di luar dugaan, di semester selanjutnya ia
memperbaiki diri. Pihak Jurusan menghargai usaha Chintya. Maka predikat
Mahasiswa Teladan layak diterima oleh Chintya. Chintya, bisa ceritakan
sedikit tentang keberhasilan kamu?” Pak Yanto mempersilakan Chintya
untuk berbicara. “Segala yang saya peroleh pada saat ini tidak lepas
dari bantuan seseorang yang begitu menginspirasi hidup saya. Semuanya
tentu sudah bisa menebak siapa dia. Iyaa, dia adalah Pak Martin. Dulu,
saya kuliah ogah-ogahan karena masuk jurusan yang tidak saya inginkan.
Saya minatnya ke desain grafis makanya sering gambar-gambar. Tapi orang
tua saya gak setuju. Mereka mau saya belajar perekonomian. Sulit banget
rasanya ngejalanin kuliah yang gak sesuai minat. Lalu, saya bertemu Pak
Martin. Beliau memotivasi saya bahwa segala halangan yang menghadang
ketika kita ingin mencapai kesuksesan harus dianggap sebagai batu
loncatan. Semakin tinggi batu loncatan, kita belajar semakin tinggi
melompat, dan di balik itu ada pemandangan yang indah. Bila di jalan
kesuksesan kita bertemu tembok penghalang, tembok itu harus di panjat,
bukannya berdiam diri di baliknya. Meloncati batu loncatan atau memanjat
tembok penghalang tidak akan menimbulkan kelelahan atau membuat kita
kehabisan tenaga melainkan akan menghasilkan kekuatan diri, maka nikmati
saja prosesnya,” cerita Chintya penuh semangat. “Wah, ternyata Pak
Martin selain dosen juga motivator ya? Hebat bisa kasih pencerahan
seperti itu. Pak Martin, boleh diceritakan dari mana anda mendapatkan
kata-kata mutiara seperti itu?” Pak Yanto turut mengundang Pak Martin
maju ke depan. “Kata-kata itu bersumber dari pengalaman pribadi saya.
Dulu setelah lulus SMA, saya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan
tinggi. Namun, bermasalah di biaya. Orang tua saya mempunyai sejumlah
uang yang kira-kira cukup untuk biaya kuliah saya. Tetapi mereka meminta
saya agar menggunakan uang tersebut sebagai modal membuka toko. Membuka
dan menjaga toko bukan minat saya. Saya lebih menyukai dunia
perkantoran. Saya dulu buka toko plastik dan jaganya ogah-ogahan. Orang
yang mau belanja tidak saya layani dengan baik. Lalu, saya sadar jika
saya ogah-ogahan, yang capek adalah diri saya sendiri. Saya berusaha
bersemangat mengurus toko tersebut walaupun sulit rasanya. Saya mencoba
melengkapi barang dagangan dan melayani pembeli dengan ramah. Toko saya
jadi ramai dan untungnya banyak. Dari sana, saya dapat menabung untuk
biaya kuliah saya. Jadi, tercapailah impian saya. Malahan saya bisa
kuliah sampai S2,” kenang Pak Martin. “Itulah yang diceritakan Pak
Martin pada saya. Pada kesempatan ini, saya juga ingin mengkonfirmasi
hubungan saya dengan Pak Martin, bahwa kami tidak pernah berpacaran.
Kami bisa dekat karena persamaan nasib dan Pak Martin memberikan teladan
pada saya. Sungguh beliau dosen yang baik. Waktu itu saya pernah bilang
sama Merry kalau kami berpacaran karena saya sudah jera dengan
pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan saya. Saya dan Pak Martin adalah
mahasiswa dan dosen, tidak lebih,” tegas Chintya. “Oh ya, pada
kesempatan yang baik ini, saya ingin mengumumkan sesuatu. Dua minggu
lagi, saya akan menikah. Mohon doa restu dari kalian agar semuanya
lancar,” pinta Pak Martin. “Huaaahhh… terus nasib gue gimana dong?
Huhuhuu…” jerit Merry diikuti tawa para mahasiswa sementara Kirana dan
Santy berusaha menenangkannya. “Kalau begitu, berarti Pak Martin telah
mendapatkan apa yang dia impikan. Dia hanya perlu meneruskannya.
Chintya, apa rencana kamu selanjutnya untuk mencapai impian kamu?” Pak
Yanto bertanya pada Chintya. “Selama ini saya telah berusaha memperbaiki
IPK. Di samping itu, sambil kuliah saya sering mengikuti lomba gambar
yang saya dapatkan lewat internet, poster, koran, majalah, atau tabloid.
Ada yang menang ada yang gak. Yang penting usahanya. Dan itu semua akan
saya jadikan sebagai kualifikasi saya untuk melamar beasiswa kuliah
desain grafis di Inggris.”
Cerpen Karangan: Nita Setiawan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar