Secara tak sengaja Angkasa melihat Embun sedang jalan berdua dengan
seorang pria yang seumuran dengannya di sebuah pusat perbelanjaan.
Beberapa kali ia mengucek matanya hanya untuk meyakinkan bahwa ia tidak
salah lihat. Tampak oleh matanya Embun begitu sumringah berjalan
beriring dengan pria itu. Benar, Angkasa tidak salah lihat. Itu benar
Embun, saudara sepupunya yang cukup dekat dengannya. Sayangnya, Embun
tidak menyadari kehadiran Angkasa yang saat itu tengah mengamatinya.
Angkasa tidak mengenal siapa pria disamping Embun. Selama ini
Angkasa kenal betul siapa saja yang menjadi teman Embun. Mulai dari
teman kerja, teman mengaji hingga teman rumahnya. Karena memang rumah
Angkasa dan Embun bersebelahan.
Angkasa tidak langsung menyapa Embun seketika itu juga. Ia tidak mau
langsung membuat Embun malu jika ia melabraknya langsung. Angkasa
berusaha tetap berfikir positif.
,
***********
Sepulangnya Angkasa dari pusat perbelanjaan, ia terus saja memikirkan
apa yang baru saja dilihatnya. Ia seolah tak percaya. Sebelum pulang
kerumahnya, Angkasa sengaja mampir kerumah Pakde Ahmad, ayah Embun.
“Assalamu’alaikum Pakde.” Sapa Angkasa.
Pakde Ahmad yang kala itu sedang serius
menyelesaikan pekerjaannya sebagai tukang servis elektronik, menoleh.
“Wa’alaikumussalaam. Eh kamu Sa. Ayo masuk. Bude-mu sedang membuat
pisang goreng kesukaanmu.”
“Iya Pakde terimakasih.” Kata Angkasa sambil berjalan masuk kedalam rumah Embun.
Didapatinya Bude Fatma sedang sibuk menggoreng di dapur mungilnya.
“Hmmm… Baunya enak sekali nih Bude. Bikin perut Asa mendadak lapar.” Asa mendekati Budenya dan langsung mengambil posisi sejajar disebelahnya.
“Asa, tau saja kamu Bude sedang membuat makanan kesukaanmu. Tuh, ada yang sudah matang dimeja. Kamu ambil saja ya.”
Asa mendekati meja dan mengambil sepotong pisang goreng yang benar-benar menggugah selera dan memakannya dengan lahap.
“Oh iya Bude, Embun kok tidak kelihatan. Dia kemana ?” Tanya Angkasa sambil mengunyah pisang gorengnya.
“Embun dari tadi siang pergi. Katanya mau cari buku.”
“Sama siapa Bude ?”
“Bude tidak tahu Sa. Soalnya dari rumah Embun pergi sendiri dan dia tidak bilang juga kalau mau pergi sama siapa.”
Angkasa langsung terdiam. Dengan siapa Embun tadi.
**********
Usia Angkasa dan Embun hanya berbeda dua tahun. Sejak kecil mereka
bermain bersama. Ayah Embun adalah kakak dari ibu Angkasa. Dari SD
hingga SMU sekolah mereka sama. Angkasa ingat zaman SMU adalah masa
Embun berhijrah. Waktu itu, Embun kelas 1 SMU dan Angkasa sudah
menginjak kelas 3. Angkasa ingat betapa nakalnya Embun saat SMP, dia
sudah kenal yang namanya laki-laki. Embun memang memiliki paras yang
manis dan perangainya yang mudah bergaul. Jadi tidak heran jika banyak
yang tertarik dengannya. Masalahnya Embun masih teramat kecil,
pikirannya masih belum jernih. Orangtuanya sering mengingatkan hati-hati
bergaul dengan laki-laki, Embun menurut. Tapi jika ada teman lelakinya
yang mengajak pergi, ia tidak akan menolak. Itu dilakukannya tanpa
sepengetahuan kedua orangtuanya.
Biasanya, akulah yang sering memergoki Embun berduaan dengan teman
lelakinya. Embun seringkali memohon untuk tidak melaporkannya kepada
orangtuanya. Embun takut jika ayahnya tahu, maka penyakit jantungnya
akan kambuh.
Yang Angkasa heran, Embun tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan
penyakit ayahnya. Berkali-kali Angkasa memergoki dan berkali-kali
Angkasa selalu menasehati. Tapi Embun hanya bilang iya, iya tidak akan
diulangi. Dan besoknya. Angkasa kembali melihat Embun berkelakuan sama.
“Apakah Embun kembali seperti dahulu ?” Angkasa menerawang.
“Aah.. semoga saja tidak.” Angkasa kemudian mencoba menetralkan pikirannya.
Memasuki SMU, Embun perlahan berubah. Mungkin karena pergaulannya
kini telah berubah. Angkasa mengusulkan kepada ayah Embun untuk
memasukkan Embun disekolah yang sama dengannnya, agar bisa menjaga
Embun-alasannya.
Angkasa juga yang memperkenalkan Embun kepada kegiatan Rohis dan
kepada kepada kawan-kawan perempuan Angkasa yang mayoritas berjilbab dan
berakhlaq baik, insyaAllah. Alhamdulillah, Embun bukanlah anak yang
keras kepala, sehingga ia sangat terbuka dengan segala masukan yang
baik. Meskipun jiwanya masih sedikit labil. Paling tidak itu menjadi
langkah awal yang baik untuk menjaga Embun tetap berada dijalur yang
benar.
Ternyata pergaulan yang baik sangat berpengaruh untuk Embun. Kini,
Embun telah memakai jilbab. Bukan hanya sekedar penutup kepala, tetapi
jilbab yang benar-benar memenuhi syari’at. Pergaulan dengan lawan
jenispun, sudah mengurangi penurunan yang sangat drastis dibanding dulu.
Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dibanding ketika
Embun SMP.
“Embun, sekarang kamu sudah jarang banget jalan sama teman lelakimu ?” Tanya Angkasa iseng.
“Hehehe. Iya donk Mas. Aku sekarang mau jadi wanita shalihah, wanita
yang mahal yang tidak mudah tersentuh oleh lawan jenis. Biar Allah sayang sama aku dan nanti ketika aku menikah, aku bisa mendapatkan lelaki yang shalih Mas. Jadi aku mau jaga jarak.” Jawab Embun
“Pintar kamu sekarang. Tidak percuma Mas ajak kamu gabung sama Rohis.”
“Terima kasih Mas. Sekarang aku jadi lebih faham mengenai pergaulan antar lawan jenis. Doakan aku Mas, supaya tetap istiqomah.”
“InsyaAllah dek.”
**********
Menjelang pukul sembilan dilihatnya Embun baru pulang. Ia ingin langsung bertanya mengenai apa yang dilihatnya tadi siang.
“Baru pulang Bun, dari mana ?” Embun yang saat itu akan makan, terkejut.
“Mas Asa, kapan pulang ?” Wajah Embun seketika mengembangkan senyum
terlebarnya. Memang semenjak lulus sekolah, Asa memutuskan kuliah dikota
lain. Dan berlanjut hingga ia bekerja.
“Kemarin malam. Tapi kamu sudah tidur saat Mas pulang dan tadi
pagi-pagi sekali Mas ada janji dengan teman. Makanya kita baru ketemu
sekarang.”
“Oh, iya. Pertanyaan Mas belum kamu jawab. Kamu darimana kok jam segini baru pulang ?”
“Mas ini. Dari dulu tidak berubah. Selalu saja khawatir kalau aku
pulang malam. Padahal baru jam sembilan. Tadi aku dari toko buku Mas.
Ada yang dicari.”
“Ooh gitu. Sama siapa dek ?” Angkasa penasaran dengan jawaban Embun.
“Sama siapa ya ?” Embun malah membalasnya dengan candaan.
“Kamu kok ditanya bukannya dijawab, malah begitu Bun ?”
“Lagian Mas juga. Datang-datang bukannya tanya kabar Embun bagaimana.
Pekerjaan Embun bagaimana. Embun juga belum tanya keadaan Mas
bagaimana. Eeh malah Embun seperti diinterogasi seperti ini.”
“Iya maaf Bun. Langsung aja ya.” Airmuka Angkasa terlihat serius.
“Ada apa Mas ? kok tiba-tiba serius ?” Embun penasaran.
“Begini, tadi siang Mas melihat kamu di pusat perbelanjaan. Tapi Mas
lihat kamu tidak sendiri. Kamu berdua dengan lelaki. Dan Mas tidak tahu
dia siapa.”
Embun tersenyum.
“Apa ada sesuatu yang Mas belum ketahui dari kamu Bun ?”
“Iya Mas ada.”
“Maksudnya ?”
“Mas janji ya jangan cerita kesiapapun termasuk keluarga jauh kita.”
“Hmm.. InsyaAllah dek.”
“Sebenarnya yang Mas lihat tadi siang itu suamiku. Maaf jika Mas
tidak mengetahui pernikahan kami, karena Embun tidak mau merepotkan Mas
yang saat ini sedang dalam pendidikan dikantor. Apalagi jaraknya juga
lumayan kalau Mas harus pulang.”
“Memang sengaja aku merahasiakan pernikahanku. Karena suamiku sedang
dalam masa percobaan dikantornya dan tidak memperbolehkan karyawannya
untuk menikah dahulu dalam rentang waktu enam bulan. Baru dua minggu
kami menikah dan waktu itu hanya dihadiri keluarga dekat saja Mas.”
“Alhamdulillah, ternyata aku berpikir benar untuk tidak berprasangka
buruk dulu.” Angkasa mengelus dada, merasakan kelegaan yang sangat.
Meskipun sebenarnya, ia telah dilangkahi menikah oleh adik sepupunya.
“Jadi kalian belum tinggal bersama ?”
“Belum Mas.”
Tergambar kebahagiaan diwajah Embun. Sesuatu yang dia nantikan, kini telah ia jalani.
**********
Angkasa masih teringat ketika dua tahun lalu ia pulang. Saat itu usia Embun 23 tahun. Usia dimana perempuan sedang ingin dicintai dan mencintai. Dan Embun mengalami hal yang sama.
Angkasa masih teringat ketika dua tahun lalu ia pulang. Saat itu usia Embun 23 tahun. Usia dimana perempuan sedang ingin dicintai dan mencintai. Dan Embun mengalami hal yang sama.
“Mas, aku siap nikah. Bisa minta bantu mencarikan ?” Tanya Embun kala itu.
“Kamu sudah minta sama Guru Mengajimu ?” Angkasa balik bertanya.
“Sudah Mas, tapi belum ada tanggapan. Lagipula beliau terbuka kok.
Jika memang dari Mas ada calon, nanti aku akan cerita keGuruku.”
“Saat ini Mas belum ada calon untukmu, karena teman dekat Mas belum
ada yang menyampaikan keinginan untuk menikah dalam waktu dekat.”
“Ya udah Mas tidak apa. Mungkin nanti Mas bisa kabari aku jika ada yang sudah siap.”
**********
Embun. Adik sepupuku yang kusayang. Aku dan Embun sama-sama anak tunggal dan secara otomatis kami menjadi dekat. Meskipun kami berada di kota berbeda tetapi komunikasi antara kami tetap lancar. Meskipun tentang masalah pernikahannya, dia tidak mengabariku. Tapi aku sangat mengetahui mengenai proses pencarian Embun akan imam yang kelak menjadi pemimpinnya. Namun dengan lelaki yang kini menjadi suaminya kini, Embun belum pernah bercerita.
Embun. Adik sepupuku yang kusayang. Aku dan Embun sama-sama anak tunggal dan secara otomatis kami menjadi dekat. Meskipun kami berada di kota berbeda tetapi komunikasi antara kami tetap lancar. Meskipun tentang masalah pernikahannya, dia tidak mengabariku. Tapi aku sangat mengetahui mengenai proses pencarian Embun akan imam yang kelak menjadi pemimpinnya. Namun dengan lelaki yang kini menjadi suaminya kini, Embun belum pernah bercerita.
Proses pencariannya tidak bisa dibilang mudah. Beberapa kali mencoba
berta’aruf tapi belum satupun yang berhasil dilakukannya. Ketika ada
info mengenai lelaki yang siap menikah dan lelaki itu diceritakan
mengenai Embun secara garis besar, tiba-tiba saja pihak lelaki enggan
meneruskan dengan alasan yang tidak jelas. Akupun tidak tahu, dengan
suaminya kini dia telah menjalani proses ta’aruf berapa kali.
Embun selalu berusaha berfikir positif. Walau yang aku tahu,
keinginan dia untuk menyempurnakan setengah agamanya begitu kuat. Tapi
dia yakin, akan indah pada waktunya dan setiap manusia pasti ada
jodohnya. Juga seseorang yang baik pasti akan mendapatkan yang baik
pula. Begitulah cara Embun berusaha menguatkan diri.
Meski Embun harus melihat satu persatu teman dekatnya mengirim
undangan pernikahannya atau saat mendengar teman sebayanya telah
melahirkan anak pertamanya atau ketika ada kumpul-kumpul bersama
teman-temannya dan dia lihat ada temannya yang membawa pasangannya.
Sebagai wanita normal, jelas ia ingin merasakan juga. Dia juga pernah
sedih akan hal itu. Akulah yang selalu menjadi tempat curhat Embun
setelah Allah tentunya.
Yang aku salut dari Embun adalah keinginannya untuk tetap
mempertahankan kesabarannya untuk terus menunggu hari pernikahannya
tanpa disertai oleh proses pacaran sebelumnya. Ia tidak ingin Allah
tidak ridho akannya. Dengan wajah yang manis, bisa saja ia memancing
teman lelakinya untuk menyukainya dan mendekatinya. Tetapi itu tidak
dilakukan Embun. Justru sebelum ku tahu ia menikah, Embun lebih menjaga
jarak dengan teman-teman lelakinya dan mengurangi interaksi dengan lawan
jenis. Ia tidak ingin kesalahan masa lalunya untuk berpacaran terulang.
Cukup masa lalu menjadi pelajaran berharga. Ia berusaha untuk menjaga
hatinya untuk tidak lagi tergelincir kepada yang bukan haqnya.
Dan jika kini ia menikah. Adalah pasti buah dari kesabarannya selama
ini yang kutahu tidak mudah bagi seorang wanita menahan perasaannya.
Doaku yang terbaik untukmu dek. Semoga kamu bisa mengemudikan rumah
tanggamu hanya dalam naungan ridhoNya. Aamiin.
Nama Penulis: kiptiah hasan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar