Kamis, 01 Mei 2014

DIA ANEH TAPI NYATA

Pagi ini Silli mandi dengan tergesa. Waktu seolah berlari mengejarnya. “Mama, aku udah telat nih..” teriak Silli dari kamarnya yang terletak di lantai atas. “Ya sudah buruan. Papa udah siap tuh!” seru Mamanya. Silli meloncati anak tangga dua-dua saking tergesanya. “Aaaaa” terdengar bunyi sesuatu terjatuh. “Silli ada apa?” tanya Mamanya dari lantai bawah. “Hehee” Silli hanya cengengesan.
Di dalam mobil, Silli sibuk menengok jam setiap semenit sekali. “Silli kenapa? kok gelisah betul nak?” “Silli udah telat Pa..” ucapnya pias. “Iya tinggal satu belokan lagi sayang. Sabar ya” Papanya mencoba menenangkan Silli. “Good luck ya nak” ujar Papa menyemangati Silli. “Sip Pa!” kata Silli yakin.
Sesampainya di gedung tersebut, semua panitia dan juga peserta lomba festival band sudah bersiap. Untungnya acara belum dimulai. Walaupun hanya sebagai pengisi acara, tapi hati Silli tetap berdebar menanti penampilan pertamanya., Silli berlari kecil menuju teman-temannya dan ikut latihan bersama. Saat nama kelompoknya dipanggil untuk mengisi acara, Silli dan temannya langsung bersiap di posisi masing-masing. ‘Semoga penampilan perdana kami kali ini sukses. Amin’. Do’anya dalam hati.
Bunyi piano mengalun lembut. Suara emas Silli mulai terdengar melantunkan lagu ‘Rasa Ini’ dari grup band Vierra. Setelah bait terakhir selesai dinyanyikan Silli, tepukan penonton membahana di gedung tersebut. Rasa puas hinggap di dada Silli. Bersama-sama mereka memberi hormat ke penonton. Di belakang panggung, panitia dan para peserta menyalami mereka satu persatu. Beribu pujian pun mereka terima. “Syukurlah penampilan perdana kita sukses besar. Ayo kita rayakan sama-sama” ajak Vely. “Aku setuju” terima Shanan. “Aku juga mau ikut!” seru Atya girang. “Sekarang tinggal kamu Sill.. ikut atau enggak?” tanya Shanan ke Silli. “Pasti dong aku ikut” ucap Silli mantap. Kemudian mereka berjalan bersama menuju café yang terletak di depan gedung tempat mereka tampil tadi.
Saat tiba di café tersebut, semua kursi sudah penuh diduduki oleh remaja-remaja yang menikmati libur mereka. “Yaah tempatnya penuh” ujar Atya dengan nada sedih. “Kita harus duduk dimana?” tanya Silli kecewa. Tiba-tiba seorang anak laki-laki seumuran mereka menawarkan kursi kepada Silli dan teman-temannya. “Hai” sapa anak laki-laki itu. “Kalian boleh duduk disini kok, kebetulan aku sendirian duduk disini” sambungnya. Tanpa ragu, Shanan mengambil kursi dan duduk di samping anak itu. “Shanan” panggil Vely setengah berbisik. Shanan berpura-pura tidak mendengar. Kemudian.. “Eem, aku ke toilet sebentar ya. Kalian duduk aja” pamit anak itu. Setelah anak itu pergi, Silli, Atya, dan Vely mengambil kursi dan duduk bersama di meja itu. Mereka pun memesan makanan dan mengobrol sambil menunggu anak itu.
Selang beberapa saat, pesanan mereka tiba. Namun, anak laki-laki itu tak kunjung terlihat batang hidungnya. “Hei, kok dia lama banget ya?” celetuk Atya. “Dia siapa?” tanya Silli heran. “Anak laki-laki yang tadi, yang ganteng itu lho” ucap Shanan sambil mencomot kentang goreng pesanannya. “Cieee…” sorak teman-temannya kompak. “Shanan punya gebetan baru nih” teriak Silli heboh. Semua mata tertuju pada Silli. Vely langsung mendekap mulut Silli. “Maaf semuanya, teman saya penyakitnya lagi kambuh” ucap Atya meminta maaf ke seluruh orang yang ada di cafe itu yang sedang melihat tingkah polah mereka. “Silli apaan sih” ujar Shanan berang. “Kidding Shanan” kata Silli sambil membuat tanda V dari tangannya. “Malu nih” Shanan menutup mukanya. “Eh.. Eh.. tapi ke toilet harus lama apa ya?” bingung Atya. “Iya juga ya” Vely membenarkan. “Tapi, tadi kalian lihat nggak sih?” “Lihat apa?” “Wajahnya itu loh…” “Wajahnya kenapa?” protes Shanan. “Eits, jangan marah Nan” kata Vely. “Iya Nan dengar dulu…” kata Silli yang ikut protes ucapannya dipotong. “Wajahnya tadi itu pucat banget. Mirip…” “Mirip apa?” lagi-lagi Silli diprotes oleh Shanan. “Hei.. dengar dulu dong” sergah Silli. “Wajahnya itu mirip sama Vampire” sambungnya. “Vampire?” ulang Atya, Shanan dan Vely serentak. Hal itu sekali lagi menarik perhatian pengunjung yang ada di café tersebut. “Kenapa kaget? Ada yang salah?” tanya Silli. “Kebanyakan nonton kamu Sill” “Iya nih Silli, ada-ada aja” ujar Vely dan Shanan tidak percaya. “Tapi, kalau dipikir-pikir bisa jadi loh” ucap Atya yang setuju dengan pernyataan Silli. “Ah.. udahlah. Nggak mungkin. Paling juga bentar lagi datang” ujar Shanan. “Yang penting kita makan dulu aja.. aku udah lapar dari tadi nih” kata Vely sambil memegang perutnya. “Vely.. Vely..”
Setelah selesai makan, mereka masih mengobrol dan belum berniat untuk beranjak meninggalkan café itu. Meskipun banyak pengunjung lain yang mengantri untuk bisa mendapatkan meja di café yang sangat terkenal di kota Silli itu, namun mereka tak menghiraukannya. Bahkan sesekali terdengar tawa dan canda mereka, sekalipun mungkin terlupa oleh mereka sesosok anak laki-laki tadi yang Silli dan Atya kira dia adalah Vampire. Tak berapa lama, mereka hampir dikejutkan oleh kedatangan anak laki-laki tadi. “Ssst.. dilihat sekilas dia memang pucat, pantas kamu menyebutnya seperti Vampire” bisik Shanan ke telinga Silli. “Kamu sih nggak percaya” “Hai.. maaf ya agak lama, tadi ada permasalahan sedikit di toilet. Maklumlah” cengir anak itu. “Oya karena tadi aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Vampi” ucap anak itu. “Vampi? Nama yang lucu” kata Silli. “Oh ya? Aku justru menganggap nama itu aneh..” ucapnya sedih. “Tapi, tidak apa karena kalian mau berteman denganku” kata Vampi lagi. “Memangnya kamu nggak punya teman ya?” Tanya Atya penasaran. Vampi tidak langsung menjawabnya, tapi mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Vely yang merasa aneh dengan penampilan serta gelagat Vampi hanya diam. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Belum berapa lama mereka mengobrol, tapi Vampi berniat pamit untuk pulang. “Aku sudah harus pulang sebelum matahari tenggelam. Lain kali kita bertemu lagi” ujarnya sambil berlari kearah pintu keluar dan langsung menerobos kaca pintu tanpa membukanya. Vely yang melihat kejadian itu pun menjerit ketakutan. “D..d.. dia Hantuuuuuu” jeritnya. “Apaaa?”
Cerpen Karangan: F. M. Melati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar