Pagi ini Silli mandi dengan tergesa. Waktu seolah berlari
mengejarnya. “Mama, aku udah telat nih..” teriak Silli dari kamarnya
yang terletak di lantai atas. “Ya sudah buruan. Papa udah siap tuh!”
seru Mamanya. Silli meloncati anak tangga dua-dua saking tergesanya.
“Aaaaa” terdengar bunyi sesuatu terjatuh. “Silli ada apa?” tanya Mamanya
dari lantai bawah. “Hehee” Silli hanya cengengesan.
Di dalam mobil, Silli sibuk menengok jam setiap semenit sekali.
“Silli kenapa? kok gelisah betul nak?” “Silli udah telat Pa..” ucapnya
pias. “Iya tinggal satu belokan lagi sayang. Sabar ya” Papanya mencoba menenangkan Silli. “Good luck ya nak” ujar Papa menyemangati Silli. “Sip Pa!” kata Silli yakin.
Sesampainya di gedung tersebut, semua panitia dan juga peserta lomba festival band
sudah bersiap. Untungnya acara belum dimulai. Walaupun hanya sebagai
pengisi acara, tapi hati Silli tetap berdebar menanti penampilan
pertamanya., Silli berlari kecil menuju teman-temannya dan ikut latihan
bersama. Saat nama kelompoknya dipanggil untuk mengisi acara, Silli dan
temannya langsung bersiap di posisi masing-masing. ‘Semoga penampilan
perdana kami kali ini sukses. Amin’. Do’anya dalam hati.
Bunyi piano mengalun lembut. Suara emas Silli mulai terdengar melantunkan lagu ‘Rasa Ini’ dari grup
band Vierra. Setelah bait terakhir selesai dinyanyikan Silli, tepukan
penonton membahana di gedung tersebut. Rasa puas hinggap di dada Silli.
Bersama-sama mereka memberi hormat ke penonton. Di belakang panggung,
panitia dan para peserta menyalami mereka satu persatu. Beribu pujian
pun mereka terima. “Syukurlah penampilan perdana kita sukses besar. Ayo
kita rayakan sama-sama” ajak Vely. “Aku setuju” terima Shanan. “Aku juga
mau ikut!” seru Atya girang. “Sekarang tinggal kamu Sill.. ikut atau
enggak?” tanya Shanan ke Silli. “Pasti dong aku ikut” ucap Silli mantap.
Kemudian mereka berjalan bersama menuju café yang terletak di depan
gedung tempat mereka tampil tadi.
Saat tiba di café tersebut, semua kursi sudah penuh diduduki oleh
remaja-remaja yang menikmati libur mereka. “Yaah tempatnya penuh” ujar
Atya dengan nada sedih. “Kita harus duduk dimana?” tanya Silli kecewa.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki seumuran mereka menawarkan kursi kepada
Silli dan teman-temannya. “Hai” sapa anak laki-laki itu. “Kalian boleh
duduk disini kok, kebetulan aku sendirian duduk disini” sambungnya.
Tanpa ragu, Shanan mengambil kursi dan duduk di samping anak itu.
“Shanan” panggil Vely setengah berbisik. Shanan berpura-pura tidak
mendengar. Kemudian.. “Eem, aku ke toilet
sebentar ya. Kalian duduk aja” pamit anak itu. Setelah anak itu pergi,
Silli, Atya, dan Vely mengambil kursi dan duduk bersama di meja itu.
Mereka pun memesan makanan dan mengobrol sambil menunggu anak itu.
Selang beberapa saat, pesanan mereka tiba. Namun, anak laki-laki itu
tak kunjung terlihat batang hidungnya. “Hei, kok dia lama banget ya?”
celetuk Atya. “Dia siapa?” tanya Silli heran. “Anak laki-laki yang tadi,
yang ganteng itu lho” ucap Shanan sambil mencomot kentang goreng
pesanannya. “Cieee…” sorak teman-temannya kompak. “Shanan punya gebetan
baru nih” teriak Silli heboh. Semua mata tertuju pada Silli. Vely
langsung mendekap mulut Silli. “Maaf semuanya, teman saya penyakitnya
lagi kambuh” ucap Atya meminta maaf ke seluruh orang yang ada di cafe
itu yang sedang melihat tingkah polah mereka. “Silli apaan sih” ujar
Shanan berang. “Kidding Shanan” kata Silli sambil membuat tanda
V dari tangannya. “Malu nih” Shanan menutup mukanya. “Eh.. Eh.. tapi ke
toilet harus lama apa ya?” bingung Atya. “Iya juga ya” Vely
membenarkan. “Tapi, tadi kalian lihat nggak sih?” “Lihat apa?” “Wajahnya
itu loh…” “Wajahnya kenapa?” protes Shanan. “Eits, jangan marah Nan”
kata Vely. “Iya Nan dengar dulu…” kata Silli yang ikut protes ucapannya
dipotong. “Wajahnya tadi itu pucat banget. Mirip…” “Mirip apa?”
lagi-lagi Silli diprotes oleh Shanan. “Hei.. dengar dulu dong” sergah
Silli. “Wajahnya itu mirip sama Vampire” sambungnya. “Vampire?” ulang
Atya, Shanan dan Vely serentak. Hal itu sekali lagi menarik perhatian
pengunjung yang ada di café tersebut. “Kenapa kaget? Ada yang salah?”
tanya Silli. “Kebanyakan nonton kamu Sill” “Iya nih Silli, ada-ada aja”
ujar Vely dan Shanan tidak percaya. “Tapi, kalau dipikir-pikir bisa jadi
loh” ucap Atya yang setuju dengan pernyataan Silli. “Ah.. udahlah.
Nggak mungkin. Paling juga bentar lagi datang” ujar Shanan. “Yang
penting kita makan dulu aja.. aku udah lapar dari tadi nih” kata Vely
sambil memegang perutnya. “Vely.. Vely..”
Setelah selesai makan, mereka masih mengobrol dan belum berniat untuk
beranjak meninggalkan café itu. Meskipun banyak pengunjung lain yang
mengantri untuk bisa mendapatkan meja di café yang sangat terkenal di
kota Silli itu, namun mereka tak menghiraukannya. Bahkan sesekali
terdengar tawa dan canda mereka, sekalipun mungkin terlupa oleh mereka
sesosok anak laki-laki tadi yang Silli dan Atya kira dia adalah Vampire.
Tak berapa lama, mereka hampir dikejutkan oleh kedatangan anak
laki-laki tadi. “Ssst.. dilihat sekilas dia memang pucat, pantas kamu
menyebutnya seperti Vampire” bisik Shanan ke telinga Silli. “Kamu sih
nggak percaya” “Hai.. maaf ya agak lama, tadi ada permasalahan sedikit
di toilet. Maklumlah” cengir anak itu. “Oya karena tadi aku lupa
memperkenalkan diriku, namaku Vampi” ucap anak itu. “Vampi? Nama yang
lucu” kata Silli. “Oh ya? Aku justru menganggap nama itu aneh..” ucapnya
sedih. “Tapi, tidak apa karena kalian mau berteman denganku” kata Vampi
lagi. “Memangnya kamu nggak punya teman ya?” Tanya Atya penasaran.
Vampi tidak langsung menjawabnya, tapi mengalihkan pembicaraan ke hal
lain. Vely yang merasa aneh dengan penampilan serta gelagat Vampi hanya
diam. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Belum berapa lama mereka mengobrol, tapi Vampi berniat pamit untuk
pulang. “Aku sudah harus pulang sebelum matahari tenggelam. Lain kali
kita bertemu lagi” ujarnya sambil berlari kearah pintu keluar dan
langsung menerobos kaca pintu tanpa membukanya. Vely yang melihat
kejadian itu pun menjerit ketakutan. “D..d.. dia Hantuuuuuu” jeritnya.
“Apaaa?”
Cerpen Karangan: F. M. Melati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar