Terik. Hari ini begitu panas, sampai-sampai cahaya matahari membuat
kulitku hampir terbakar, jemuran pun sekejap kering. Bau asap-asap
polusi menyergap masuk ke paru-paru membuat kotor udara. Ditambah suara
bising kendaraan yang lalu lalang di hadapanku, membuat suasana
bertambah pengap dan panas. Aku hanya bisa melihat orang-orang itu di
dalam mobil dengan
AC yang membuat mereka sejuk, berbeda dengan diriku anak laki-laki
dengan baju kumalnya berdiri di tepi jalan sambil membawa payung di
genggamannya, aku hanya bisa menunggu hujan turun dan seseorang datang
untuk menggunakan jasaku.
Aku hanya seorang anak berusia 12 tahun yang hanya bisa bekerja. Aku
tidak seperti anak seumuranku yang waktunya habis untuk bermain dan
belajar. Kehidupan itu jauh sekali dalam hari-hariku, mana bisa aku
hanya memikirkan diriku sendiri sedang keluargaku kelaparan,. Hanya
bekerja aku dapat menyambung hidupku dan keluargaku, aku mempunyai dua
adik yang masih kecil-kecil, Bapakku sebulan yang lalu telah meninggal
dunia karena tertimpa beton saat bekerja, sedang Ibu sekarang
sakit-sakitan.
Sekarang akulah tulang punggung keluarga. Sudah begitu banyak
pekerjaan yang kulakukan dari menyemir sepatu, mengamen, menjual Koran,
menjual kue sampai menjadi tukang pengelap kaca mobil sudah pernah
kulakoni. Tidak mudah memang, karena terkadang tubuhku babak balur
dihajar anak-anak setempat yang menganggap aku merebut wilayah mereka,
dan hanya menjadi ojek payunglah sekarang yang bisa kulakukan.
Terkadang karena begitu sulitnya aku mendapatkan uang, teman-temanku
seperti Rojak mengajakku untuk menegemis saja, tapi aku bukanlah orang
pemalas seperti itu. Bagiku mengemis adalah pekerjaan yang gila,
bergantung dengan rasa kasian orang lain terhadap kita, lebih baik
tangan di atas dari pada tangan di bawah. Itu ungkapan Bapakku yang
masih kuingat hingga kini.
Hari ini tidak ada tanda-tanda
datangnya hujan, hujan adalah guyuran air dari langit, anugerah dari
Allah bagiku, karena dengan begitu aku akan mendapatkan penghasilan. Di
balik payung inilah kami menaruh harapan, di balik payung inilah tempat
berlindung kami dari kejamnya kehidupan.
Biasanya tempatku mencari penghasilan adalah pusat perbelanjaan di Tanjung
Karang atau pinggir jalan di kota Bandar Lampung ini. Yah, walaupun
tidak sesusah Jakarta, bagiku ini suatu hal yang tidak ada bedanya.
Sekarang kota Bandar Lampung pun sudah cukup padat dan sesak, banyak
pendatang baru datang yang didominasi dari suku Jawa.
Sudah kutawarkan pada orang-orang di sekitarku, tapi tetap saja
mereka lebih memilih becak dari pada ojek payungku. Sekarang aku hanya
terduduk lemas di Halte sambil menunggu orang menggunakan jasaku, karena
terlalu capeknya aku menunggu cacing di perutku sampai meronta-ronta
ingin diisikan makanan. Dan sudah berkali-kali ku usapkan bajuku yang
kumal ke wajahku, menghilangkan keringat yang terus-menerus mengalir,
tapi tetap belum ada yang menggunakan jasaku.
Kulihat bus
menurunkan orang-orang di Halte, kutawarkan mereka. Belum ada, belum ada
yang mau menggunakan jasaku, terkadang aku malah di caci maki karena
dikiranya aku ingin mencopet mereka.
“Nak, tunggu apa kau menyediakan jasa ojek payung?” Tanya seorang Ibu berbadan dua menepuk pundakku. Aku terkaget “hah, iya Ibu. Maaf Bu, Ibu mau diantarkan kemana dengan payungku ini?” tanyaku antusias.
“Antarkan Ibu ke Toko Buku seberang yah nak…” ucap Ibu itu dengan logat lampungnya yang kental.
“Baik Bu, aku akan antarkan Ibu ke tempat tujuan dengan selamat,” jawabku ceria.
“Nak, tunggu apa kau menyediakan jasa ojek payung?” Tanya seorang Ibu berbadan dua menepuk pundakku. Aku terkaget “hah, iya Ibu. Maaf Bu, Ibu mau diantarkan kemana dengan payungku ini?” tanyaku antusias.
“Antarkan Ibu ke Toko Buku seberang yah nak…” ucap Ibu itu dengan logat lampungnya yang kental.
“Baik Bu, aku akan antarkan Ibu ke tempat tujuan dengan selamat,” jawabku ceria.
Ku antarkan ibu itu hingga ke tempat tujuannya. Di sepanjang jalan Ia
bertanya padaku mengapa aku tidak sekolah, ku jelaskan alasanku
mementingkan bekerja dari pada sekolah. Saat kulihat wajahnya, matanya
memerah mungkin karena ceritaku terlalu menyedihkan untuknya.
“Nak, kamu tolong tunggu disina yah, sampai Ibu selesai membeli buku, nanti ibu akan membayarmu lebih.”
“Baiklah Bu”.
Begitu senang aku, Ibu berbadan dua itu mau menggunakan ojek payungku lagi dan membayarku lebih.
“Nak, kamu tolong tunggu disina yah, sampai Ibu selesai membeli buku, nanti ibu akan membayarmu lebih.”
“Baiklah Bu”.
Begitu senang aku, Ibu berbadan dua itu mau menggunakan ojek payungku lagi dan membayarku lebih.
Ibu itu terlihat seperti Ibu pejabat, pakaiannya terlihat mencolok
ditambah perhiasan emas yang menghiasinya. Penampilan Ibu itu bisa
meningkatkan hasrat para perampok. Aku bisa menebak Ibu itu berasal dari
suku Lampung, dari logat bicara dan penampilannya mirip sekali dengan
Ibunya Rojak, orang-orang suku Lampung memang paling senang
bermegah-megahan dan sangat menjunjung tinggi harga diri, ini merupakan
falsafah hidup mereka bisa disebut sebagai piil pesenggiri. Jika nanti
Ibu itu sudah keluar akan ku peringati dia, agar tak dirampok orang.
Kutunggu Ia sambil duduk memandang orang-orang kaya
itu keluar dari pusat perbelanjaan mengahabiskan uang dangan berbagai
kantung belanjaan di tangannya. Begitu mudahnya mereka
menhambur-hamburkan uang. Berbeda dengan diriku untuk membeli sekantung
beras pun sangat sulit kudapatkan. Tapi tetap saja memiliki banyak uang
dan jabatan yang tinggi belum bisa membuat mereka puas sampai-sampai
harus mengambil hak orang lain saperti para koruptor, jika difikir-fikir
beban pekerjan seperti kami ini lebih melelahkan dibandingkan dengan
mereka.
“Hey, Piyung sedang apa kau disini, melamun sendirian seperti anak idiot” suara Rojak mengagetkanku.
“Hey Rojak, kau telah membuat lamunanku buyar, aku disini sedang menunggu seorang pelangganku keluar dari toko Buku ini.”
“Pasti pengasilanmu tidak sebesar diriku, hanya bermodalkan baju robek yang kumal dan sebuah balutan perban aku dapat menghasilkan banyak uang hari ini. Berhentilah bekerja seperti ini Piyung, pekerjaan itu tidak menjanjikan untukmu. Lihatlah aku bisa makan Seruit kesukaanku tiap hari, sampai bisa membirakan Nyaikku tapis, yang semua orang tau, harganya mahal.” ungkap Rojak angkuh.
“Takabur sekali kau ini, kau yang seharusnya berhenti dari pekerjaanmu menjadi pengemis, meminta belas kasian orang lain untuk sebuah kebohongan seperti mu. Ingat kata Pak Ustad Anwar pengemis itu pekerjaan yang paling tidak disukai Allah. Sadarlah teman lebih baik menjual jasa dari pada menjual kemunafikkan,” Jelasku pada Rojak.
“Kau ini, bicaramu ini seperti orang yang tahu banyak hal. Tahu apa kau tentang kemunafikkan, lagipula ini pekerjaan yang halal, karena kita kan tidak memaksa seseorang memberikan uang mereka. Merekalah yang memberikannya dengan Ikhlas, karena sudah menjadi kewajiban mereka untuk memberi kepada orang miskin seperti kita Piyung…”
“Sudahlah, jika memang kau tak mau aku nasehati, aku malas berdebat dengan mu Rojak, kau saja tidak bisa membedakan halal dan haram, suatu hari kau akan mengetahui pendapat mana yang paling benar.” keras kepala Rojak membuat ku malas, jika diteruskan bisa-bisa kami bertengkar.
“Yaelah piyung, tentu akulah yang paling benar sebab aku kan seorang anak sekolahan berbeda dengan dirimu yang tidak sekolah yang tingkatannya pastilah lebih tinggi dari mu.”
Suara Rojak menghentakkanku seperti itu kah dia meremehkanku. Dengan tenang ku balas dia, “Rojak tidak ada yang mau di dunia ini punya nasib sepertiku, walau aku berhenti sekolah sekarang, bukan berarti kau bisa meremehkanku seperti itu Jak, aku juga masih belajar walau dengan buku seadanya. Sudah pergilah sana, malas sekali aku berdebat denganmu hari ini.”
Kuacuhkan Rojak, pandanganku berpaling ke arah pintu masuk Toko Buku itu. Kulihat Ibu berbadan dua itu keluar dari toko buku sambil membawa begitu banyak bungkusan buku di tangannya, kusapa dia dengan senyum dan salam, Ia membalasanya dengan senyum mengembang di pipinya.
“Hey anak muda, bantulah aku membawakan belanjaanku ini dan antarkan aku sampai ke halte lagi yah, aku tak mau calon bayiku ini kepanasan,” seru Ibu berbadan dua itu padaku.
“Hey Rojak, kau telah membuat lamunanku buyar, aku disini sedang menunggu seorang pelangganku keluar dari toko Buku ini.”
“Pasti pengasilanmu tidak sebesar diriku, hanya bermodalkan baju robek yang kumal dan sebuah balutan perban aku dapat menghasilkan banyak uang hari ini. Berhentilah bekerja seperti ini Piyung, pekerjaan itu tidak menjanjikan untukmu. Lihatlah aku bisa makan Seruit kesukaanku tiap hari, sampai bisa membirakan Nyaikku tapis, yang semua orang tau, harganya mahal.” ungkap Rojak angkuh.
“Takabur sekali kau ini, kau yang seharusnya berhenti dari pekerjaanmu menjadi pengemis, meminta belas kasian orang lain untuk sebuah kebohongan seperti mu. Ingat kata Pak Ustad Anwar pengemis itu pekerjaan yang paling tidak disukai Allah. Sadarlah teman lebih baik menjual jasa dari pada menjual kemunafikkan,” Jelasku pada Rojak.
“Kau ini, bicaramu ini seperti orang yang tahu banyak hal. Tahu apa kau tentang kemunafikkan, lagipula ini pekerjaan yang halal, karena kita kan tidak memaksa seseorang memberikan uang mereka. Merekalah yang memberikannya dengan Ikhlas, karena sudah menjadi kewajiban mereka untuk memberi kepada orang miskin seperti kita Piyung…”
“Sudahlah, jika memang kau tak mau aku nasehati, aku malas berdebat dengan mu Rojak, kau saja tidak bisa membedakan halal dan haram, suatu hari kau akan mengetahui pendapat mana yang paling benar.” keras kepala Rojak membuat ku malas, jika diteruskan bisa-bisa kami bertengkar.
“Yaelah piyung, tentu akulah yang paling benar sebab aku kan seorang anak sekolahan berbeda dengan dirimu yang tidak sekolah yang tingkatannya pastilah lebih tinggi dari mu.”
Suara Rojak menghentakkanku seperti itu kah dia meremehkanku. Dengan tenang ku balas dia, “Rojak tidak ada yang mau di dunia ini punya nasib sepertiku, walau aku berhenti sekolah sekarang, bukan berarti kau bisa meremehkanku seperti itu Jak, aku juga masih belajar walau dengan buku seadanya. Sudah pergilah sana, malas sekali aku berdebat denganmu hari ini.”
Kuacuhkan Rojak, pandanganku berpaling ke arah pintu masuk Toko Buku itu. Kulihat Ibu berbadan dua itu keluar dari toko buku sambil membawa begitu banyak bungkusan buku di tangannya, kusapa dia dengan senyum dan salam, Ia membalasanya dengan senyum mengembang di pipinya.
“Hey anak muda, bantulah aku membawakan belanjaanku ini dan antarkan aku sampai ke halte lagi yah, aku tak mau calon bayiku ini kepanasan,” seru Ibu berbadan dua itu padaku.
Dengan senang hati aku membawakan belanjaanya dan mengantarkannya
sampai ke halte. Sesampainya di halte, Ibu berbadan dua dengan jilbab
merah jambunya menyuruhku menungguinya sampai bus datang.
Ia mengeluarkan sebuah buku dari bungkusan yang Ia genggam sambil berkata, “Anak muda, ini kuberikan sebuah buku untukmu, aku harap buku ini berguna bagimu, buku ini akan memberikan banyak ilmu tentang kehidupanmu supaya hari-harimu tidak gelap.”
“Terimakasih banyak Bu, sekarang aku tidak terlalu membutuhkan buku, yang kubutuhkan adalah uang Bu, karena tanpa Uang kami tidak akan bisa menyambung hidup, maafkan saya Bu.”
“Astaghfirullah, saya hampir lupa, ini Uangnya.” kata Ibu itu sambil mengambil uang dari dompetnya.
“Terimkasih Bu, baiklah buku ini akan kukembalikan.”
“Jangan.. jangan kau kembalikan, ini untukmu, buku ini kuberikan padamu ikhlas, aku harap buku ini selalu memotivasimu untuk terus belajar walau kau sekarang tidak sekolah lagi.” Paksa Ibu itu pada ku.
Ia mengeluarkan sebuah buku dari bungkusan yang Ia genggam sambil berkata, “Anak muda, ini kuberikan sebuah buku untukmu, aku harap buku ini berguna bagimu, buku ini akan memberikan banyak ilmu tentang kehidupanmu supaya hari-harimu tidak gelap.”
“Terimakasih banyak Bu, sekarang aku tidak terlalu membutuhkan buku, yang kubutuhkan adalah uang Bu, karena tanpa Uang kami tidak akan bisa menyambung hidup, maafkan saya Bu.”
“Astaghfirullah, saya hampir lupa, ini Uangnya.” kata Ibu itu sambil mengambil uang dari dompetnya.
“Terimkasih Bu, baiklah buku ini akan kukembalikan.”
“Jangan.. jangan kau kembalikan, ini untukmu, buku ini kuberikan padamu ikhlas, aku harap buku ini selalu memotivasimu untuk terus belajar walau kau sekarang tidak sekolah lagi.” Paksa Ibu itu pada ku.
Aku terima buku itu dengan senang hati, Ibu yang asli suku lampung
ini terlihat sangat menjunjung tinggi Piil pesenggiri nya terutama Nemuh
nyimah atau sifat ramah tamahnya, benar-benar terlihat. Ini menambah
pesonanya.
“Ah.. aku lupa memberitahu Ibu itu tentang perhiasanya, semoga dia selalu dilindungi Allah SWT.”
“Ah.. aku lupa memberitahu Ibu itu tentang perhiasanya, semoga dia selalu dilindungi Allah SWT.”
Kulihat buku itu baik-baik, ku baca judul bukunya “Pelajari Kegagalan
untuk Setiap Langkah Menuju Impian”, tak sabar aku untuk membuka buku
itu, Judul bukunya saja sudah membuat aku ingin membacanya, cover
bukunya juga menarik berwarna gelap di satu sisi dan sisi yang lain
berwarna putih salju dan di tengah-tengahnya ada seorang anak berjalan
dari sisi kegelapan menuju sisi putihnya melalui pelangi yang Indah.
—
Kulangkahkan kakiku dengan cepat sambil membawa sekilo nasi dan
sebatang Tempe untuk makan, sebenarnya aku juga ingin membelikan Ibu
obat, tapi uangku saat ini tidak cukup. Aku hanya bisa membelikan ini
saja, tapi walaupun begitu Allah sudah banyak memberikan kemudahan lewat
Payung ini. Tak sabar rasanya ingin cepat sampai rumah, duduk
berbarengan dengan adik-adikku dan Ibu, mereka pastilah sangat senang
bisa makan nasi walau dengan tempe dan sambal, yang paling penting
adalah kebersamaan dan kami tak perlu lagi menghutang pada Ibu warung.
Kuketuk pintu rumahku yang sudah terlihat bobrok karena termakan
rayap. “Assalamu’alaikum.. Ibu, Rahma, Fatma, kakakmu pulang nih..”
Jeritku dengan semangat.
Seorang anak berbadan mungil membukakan pintu, menjawab salamku dengan suara lembut. Dia Fatma adikku, umurnya masih 6 tahun. Dengan muka ceria dia menyambutku, Ibu dan Rahma menyambutku juga dengan hangat dan senang ketika aku membawa bahan makanan untuk di masak, kuserahkan semua bahan kepada Ibu. Ibu sangat terlihat pucat, tiap malam diam-diam aku selalu memperhatikan Ibu yang bersembunyi di dapur, karena tidak bisa tidur dengan penyakit asmanya. Dia tidak ingin melihat kami khawatir, sedih rasanya melihat Ibu seperti itu.
Seorang anak berbadan mungil membukakan pintu, menjawab salamku dengan suara lembut. Dia Fatma adikku, umurnya masih 6 tahun. Dengan muka ceria dia menyambutku, Ibu dan Rahma menyambutku juga dengan hangat dan senang ketika aku membawa bahan makanan untuk di masak, kuserahkan semua bahan kepada Ibu. Ibu sangat terlihat pucat, tiap malam diam-diam aku selalu memperhatikan Ibu yang bersembunyi di dapur, karena tidak bisa tidur dengan penyakit asmanya. Dia tidak ingin melihat kami khawatir, sedih rasanya melihat Ibu seperti itu.
Tidak lama kami menunggu, masakan sudah tersedia di atas tikar lusuh,
dengan senang hati dan rasa syukur kami memakannya dengan lahap walau
hanya dengan secentong nasi, sepotong tempe dan sambal, rasa syukur kami
pada Allah tidak akan berkurang. Saat kami lahap makanan itu, tiba-tiba
tetesan air jatuh dari atas genting. Ternyata di luar hujan deras.
Beginilah keadaan rumah kami, genting yang bocor dimana-mana, ruangan
yang penuh sesak, dinding yang hanya terbuat dari geribik, lantai yang
hanya dari tanah dan pasir, semua itu jauh sekali dari kenyamanan. Tapi
kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, kenikmatan kami makan
tidak akan bisa dinganggu hanya dengan sebuah kebocoran.
Ibuku selalu bilang, “Jangan kau palingkan wajahmu ke atas,
tundukanlah selalu pandaganmu ke bawah maka kau akan selalu merasa
bersyukur.” Yah.. benar aku mengerti maksudnya, saat kita melihat orang
kaya maka kita akan selalu merasa kurang, tetapi ketika kita melihat
orang-orang yang lebih susah dari kita, maka kita akan merasa lebih dan
terus bersyukur. Akan kuingat selalu itu Ibu.
Ketika makananku sudah kuhabiskan, aku beranjak untuk mandi dan
mengambil air wudhu untuk sholat maghrib di mushola. Aku akan berdoa
untuk selalu di jaga rasa syukur kami pada-Nya. Walau hujan, aku tidak
akan mengurungkan niatku, karena aku selalu punya payung untuk
berlindung dan tentunya Allah swt. Yang Maha Melindungi.
Selesai sholat maghrib, hujan masih terus turun. Niatku dalam hati
ingin melanjutkan pekerjaanku sebagai jasa ojek payung, maka bergegaslah
aku menuju pusat perbelanjaan di Jalan Kartini yang memang tidak jauh
dari rumahku.
Saat di jalan tiba-tiba aku tersanduk batu besar, aku terjatuh,
payungku terlempar, tubuhku terlumuri lumpur semua. Rasanya tubuhku
tidak bisa bangun lagi, lemas sekali. Terlihat dari kejahuan sebuah
motor dengan kecepatan tinggi mendekat ke arah ku, keadaan jalan sangat
sepi dan gelap, lampu di jalanan juga Cuma seadanya, “tolong..
tolong..!!!” dengan sekuat tenaga aku berteriak, aku berusaha untuk
bangun, dan menghentikan motor itu, tapi rasanya tubuhku sangat sulit
untuk ditegakkan kembali.
Aku tidak ingin menyerah, aku ingin bisa melihat Ibu sembuh dari
sakitnya. “Ya Allah hamba mohon kepadamu jangan ambil nyawa hamba
sekarang, bagaimana dengan Ibu, Rahma dan Fatmah kalau aku meninggal,
akulah satu-satunya tulang punggung mereka Ya Allah,” mohonku dalam hati
pada Allah.
Motor itu sudah hampir dekat, tapi sepertinya motor itu semakin kencang dan “Aaaaaaaa…!!!”
Motor itu sudah hampir dekat, tapi sepertinya motor itu semakin kencang dan “Aaaaaaaa…!!!”
—
Pelan-pelan kubuka mataku. Aku merasa heran, apa yang terjadi padaku.
Ibu, Rahma dan Fatmah ada di sampingku sambil mengeluarkan air mata dan
seorang yang terlihat seperti dokter sedang memeriksaku, apa mungkin
aku ini berada di rumah sakit. Pelan-pelan ku buka mulutku dan
kutanyakan pada Ibu apa yang sebenarnya menimpaku, kenapa semua terlihat
bersedih, bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu malah keluar dari ruangan
sambil menangis seperti orang yang ditinggal kekasihnya.
Tiba-tiba Adikku yang paling kecil Rahma, menjawab pertanyaanku,
“Abang Piyung, Ibu menagis gara-gara tangan Abang tinggal setengah,
Rahma bingung Bang, kemana tangan Abang yang setengahnya,” ucapnya
polos.
“Apa.. tangan abang tinggal setengah..?” tanyaku balik sambil melihat ke arah tanganku, aku tersentak hebat dengan apa yang kulihat, tanganku yang sebelah kiri benar tinggal setengah. aku menjerit sejadi-jadinya, “Apa yang sebenarnya terjadi padaku Ya Allah, ujian ini amat besar bagiku, aku cacat sekarang, bagaimana nasib keluargaku, hanya akulah tulang punggung keluarga,” Ucapku dalam hati sambil menangis tak percaya dengan yang terjadi.
“Apa.. tangan abang tinggal setengah..?” tanyaku balik sambil melihat ke arah tanganku, aku tersentak hebat dengan apa yang kulihat, tanganku yang sebelah kiri benar tinggal setengah. aku menjerit sejadi-jadinya, “Apa yang sebenarnya terjadi padaku Ya Allah, ujian ini amat besar bagiku, aku cacat sekarang, bagaimana nasib keluargaku, hanya akulah tulang punggung keluarga,” Ucapku dalam hati sambil menangis tak percaya dengan yang terjadi.
Lima hari sudah aku berada di rumah hanya diam dan pasrah atas
keadaanku. Rasa putus asa selalu menyelimuti fikiranku, aku tidak
mungkin mengojek payung lagi, payungku rusak parah karena kecelakaan
kemarin. Keadaanku seperti ini membuat Ibu menggantikanku untuk bekerja
memenuhi kebutuhan dan membayar hutang-hutang pembayaran rumah sakit ku.
Aku merasa hanya menyusahkan Ibu dan adik-adikku, padahal Ibu sedang sakit-sakitan, tapi harus bekerja keras untuk menghidupi kami dan merawatku.
Aku merasa hanya menyusahkan Ibu dan adik-adikku, padahal Ibu sedang sakit-sakitan, tapi harus bekerja keras untuk menghidupi kami dan merawatku.
Lamunanku tiba-tiba terhenti, sebuah buku terjatuh dari atas lemari,
kuambil buku itu. Aku baru ingat buku itu di berikan oleh seorang Ibu
berbandan dua beberapa hari yang lalu, dan aku belum sempat membacanya,
kubuka buku itu lembar demi lembar.
Kuhabiskan dalam waktu semalam, kuhayati dalam-dalam kata demi kata
dalam buku itu, ceritanya benar-benar mirip dengan apa yang kualami,
akan tetapi di buku itu anak laki-laki lumpuh kedua kakinya, dan saat
dia hampir putus asa dia justru menemukan potensinya lewat lukisan,
kakinya memang lumpuh tapi tangannya tidak, Ia mencoba menggoreskan
sisa-sisa cat tak terpakai di atas selembar kain, tidak disangka
selembar lukisan itu membuahkan hasil, Ia bahkan bisa menyekolahkan
kelima adik-adiknya hingga lulus SMA. Luar biasa, begitu besar
semangtnya untuk bangkit kembali dari kegagalan. Putus asa yang selalu
kufikirkan, jadi hilang. Dan digantikan dengan motivasi yang kuat
sekarang.
“Tok.. tok.. tok.. Assalamu’alaikum Piyung.. Piyung..,” ketuk seseorang dari balik pintu.
“Aku Rojak Piyung, aku ngin menjengukmu. Bukakan pintu,” pinta Rojak padaku.
“Tok.. tok.. tok.. Assalamu’alaikum Piyung.. Piyung..,” ketuk seseorang dari balik pintu.
“Aku Rojak Piyung, aku ngin menjengukmu. Bukakan pintu,” pinta Rojak padaku.
Kujawab salam Rojak dengan senyum dan mempersilakkannya masuk,
rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat Rojak datang ke rumahku, aku takut
dia memintaku hal yang aneh-aneh.
“Benar Kau ingin menjengukku, bukan ingin menghinaku kan Jak…?” tanyaku ragu.
“Ah.. jelas tidak dong, aku justru ingin memberitahu kabar gembira untukmu. Kabar gembira yang akan membantumu lepas dalam kesulitan dan kecacatan ini Piyung…” Ucapnya dengan nada menyindir.
“Baru saja kuucapkan. Kau sudah mulai menghinaku, kabar gembira apa memang..?” tanyaku heran.
“Begini yah Piyung, aku ingin mengajakmu bergabung untuk menghasilkan uang. Jika kita bergabung, tentulah kita akan mendapatkan banyak uang dengan mudah, dengan keadaan cacatmu yang sekarang, rasa kasihan orang-orang akan bertambah padamu, dan uang akan kita dapatkan tanpa harus susah-susah bekerja. Ini juga dapat membantu keuangan keluargamu Piyung, kau mau kan. Tawaran ini hanya satu kali semumur hidupmu, kau tidak boleh menyia-nyiakannya Piyung,” Jelas Rojak.
“Apa… kau ingin mengajakku bergabung untuk melakukan hal bodoh seperti itu, kau tahu kan Rojak. Aku memegang teguh perinsipku bahwa sampai mati pun tak sudi aku untuk melakukan hal serendah itu Rojak. Walau aku cacat, tapi masih bisa aku lakukan hal yang lebih bermanfaat daripada melakukan hal rendahan seperti itu. Pergi kau Jak, malas aku mendengarkan buyonanmu itu,” usir Piyung pada Rojak dengan muka memadam.
“Hey.. ada apa dengan mu, sombong sekali kau, kau fikir bisa apa kau dengan mengandalkan satu tanganmu Piyung. Oke, jika itu maumu aku tidak akan membantumu lagi Piyung.” Sentak Rojak.
“oke.. pergilah..!!!” usirku, aku kesal Rojak tidak henti-hentinya menghasutku untuk melakukan hal bodoh itu. Aku jadi merasa kasihan padanya jika orangtuanya tahu pekerjaannya ini, mungkin ia akan diusir. Aku tahu betul karakter orangtuanya yang sangat menjunjung tinggi harga diri, pastilah mereka amat kecewa dengan Rojak. Aku berharap semoga Rojak di berikan petunjuk oleh-Nya.
“Benar Kau ingin menjengukku, bukan ingin menghinaku kan Jak…?” tanyaku ragu.
“Ah.. jelas tidak dong, aku justru ingin memberitahu kabar gembira untukmu. Kabar gembira yang akan membantumu lepas dalam kesulitan dan kecacatan ini Piyung…” Ucapnya dengan nada menyindir.
“Baru saja kuucapkan. Kau sudah mulai menghinaku, kabar gembira apa memang..?” tanyaku heran.
“Begini yah Piyung, aku ingin mengajakmu bergabung untuk menghasilkan uang. Jika kita bergabung, tentulah kita akan mendapatkan banyak uang dengan mudah, dengan keadaan cacatmu yang sekarang, rasa kasihan orang-orang akan bertambah padamu, dan uang akan kita dapatkan tanpa harus susah-susah bekerja. Ini juga dapat membantu keuangan keluargamu Piyung, kau mau kan. Tawaran ini hanya satu kali semumur hidupmu, kau tidak boleh menyia-nyiakannya Piyung,” Jelas Rojak.
“Apa… kau ingin mengajakku bergabung untuk melakukan hal bodoh seperti itu, kau tahu kan Rojak. Aku memegang teguh perinsipku bahwa sampai mati pun tak sudi aku untuk melakukan hal serendah itu Rojak. Walau aku cacat, tapi masih bisa aku lakukan hal yang lebih bermanfaat daripada melakukan hal rendahan seperti itu. Pergi kau Jak, malas aku mendengarkan buyonanmu itu,” usir Piyung pada Rojak dengan muka memadam.
“Hey.. ada apa dengan mu, sombong sekali kau, kau fikir bisa apa kau dengan mengandalkan satu tanganmu Piyung. Oke, jika itu maumu aku tidak akan membantumu lagi Piyung.” Sentak Rojak.
“oke.. pergilah..!!!” usirku, aku kesal Rojak tidak henti-hentinya menghasutku untuk melakukan hal bodoh itu. Aku jadi merasa kasihan padanya jika orangtuanya tahu pekerjaannya ini, mungkin ia akan diusir. Aku tahu betul karakter orangtuanya yang sangat menjunjung tinggi harga diri, pastilah mereka amat kecewa dengan Rojak. Aku berharap semoga Rojak di berikan petunjuk oleh-Nya.
Beberapa menit sesudah Rojak pergi, ada beberapa orang datang ke
rumah sambil membawa sembako dan amplom berisikan uang, entah apa yang
ingin dilakukan mereka. Mereka terus memujuk Ibuku dengan kata-kata
manis, tapi beberapa detik setelah itu Ibu mengusirnya dengan menhardik
mereka, “Simpan saja sembako dan uang itu, aku tidak ingin menukar
keyakinanku dan imanku hanya dengan hal-hal seperti itu, Pergi dan
jangan pernah kembali,” ucap Ibu kasar pada ketiga orang itu.
Aku mulai mengerti, ternyata orang-orang itu ingin menukarkan sembako
dan uang itu kepada orang-orang susah seperti kami dengan agama yang
mereka anut, memang sudah banyak warga di kampungku yang menjadi korban
mereka, kebanyakan adalah orang miskin. Tentu saja mereka mau
menukarkanya, karena mereka tidak mempunyai cukup iman untuk
menghadapinya.
Dua godaan setan sudah kami hadapi hari ini dengan menolak nya, lebih baik mati kelaparan dari pada hidup dengan mempermainkan orang lain dan agama.
Dua godaan setan sudah kami hadapi hari ini dengan menolak nya, lebih baik mati kelaparan dari pada hidup dengan mempermainkan orang lain dan agama.
Aku bersyukur Ibu tidak terjerumus, aku pun akan berusaha semampuku
untuk bangkit kembali, memperbaiki payungku dan membuat banyak kerajinan
untuk dijual, semoga ini awal yang baik untuk mengubah nasib kami,
dengan terus bermimpi dan berusaha bangun untuk mewujudkannya, aku yakin
kami pasti bisa bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan ini.
Cerpen Karangan: Hesty Juwita Sari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar