Pagi yang cerah di kawasan real estate Surabaya. Kicauan burung yang merdu ditambah dengan hembusan angin sejuk di pagi hari membuat suasana kian indah.
Di kawasan itulah Pak Alan dan aku tinggal. Kala itu aku melihat Pak Alan seperti biasanya, beliau hendak berangkat kerja. Namun ada hal yang aneh kali ini. Pak Alan menghentikan langkahnya sejenak, dan kemudian menuju ke sebuah rumah megah. Aku penasaran dengan tingkah laku Pak Alan yang tidak biasanya. Aku mengikuti langkah Pak Alan dari belakang. Semakin dekat, aku mendengar suara sayup-sayup tangisan, mungkin itulah yang membuat Pak Alan penasaran. Pak Alan masuk ke rumah megah itu, aku yang mengikutinya dari belakang hanya bisa melihat dari balik pintu rumah.
Di kawasan itulah Pak Alan dan aku tinggal. Kala itu aku melihat Pak Alan seperti biasanya, beliau hendak berangkat kerja. Namun ada hal yang aneh kali ini. Pak Alan menghentikan langkahnya sejenak, dan kemudian menuju ke sebuah rumah megah. Aku penasaran dengan tingkah laku Pak Alan yang tidak biasanya. Aku mengikuti langkah Pak Alan dari belakang. Semakin dekat, aku mendengar suara sayup-sayup tangisan, mungkin itulah yang membuat Pak Alan penasaran. Pak Alan masuk ke rumah megah itu, aku yang mengikutinya dari belakang hanya bisa melihat dari balik pintu rumah.
Ternyata suara tangisan itu berasal dari seorang perempuan paruh baya
yang tengah duduk di samping seorang tubuh laki-laki, tua yang tidak
sadarkan diri. Pak Alan dengan cepat mengangkat tubuh laki-laki tersebut
dan memindahkannya ke sofa. Pak Alan kaget setelah mengetahui jika
denyut nadi dari kakek itu telah menghilang. Pak Alan bertanya kepada
nenek itu yang ternyata adalah istri almarhum tentang kejadian apa yang
telah terjadi. Istri almarhum bercerita jika suaminya itu sedang sarapan
bersama di ruang tamu, namun tiba-tiba beliau jatuh dan tidak sadarkan
diri. Mendengar cerita istri almarhum, Pak Alan dengan cepat memberitahu
tetangga sekitar. Semua tetangga datang menghampirinya. Semua tetangga
yang di beritahu kelihatan terharu, mereka terlihat sedih. Namun mereka
hanya berkata “Innalilah Wa Inna IllahiRoji’unnn…” dan kemudian mereka
pamit untuk berangkat kerja. Mereka ternyata takut dipecat dari
pekerjaan mereka karena membantu tetangga yang meninggal.
Melihat semua tetangga yang sibuk bekerja, akhirnya Pak Alan
memutuskan untuk mengurus semua pemakaman dan acara tahlil dengan di
bantu oleh istri almarhum. Aku sempat takut dan merinding ketika disuruh
Pak Alan mengambilkan air untuk memandikan jenazah almarhum. Tangan ini
bergetar hebat ketika menyiramkan air ke tubuh almarhum. Mungkin
melihat aku ketakutan, Pak Alan buru-buru menyuruhku keluar dan membantu
istri almarhum mempersiapkan acara tahlil dan menyebarkan undangan
tahlil.
Setelah pak Alan selesai memandikan jenazah dan melakukan sholat
jenazah, Pak Alan lantas menyewa beberapa orang untuk membantu
mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Pemandangan yang menyedihkan kembali terlihat saat acara pemakaman itu berlangsung. Lagi-lagi, tidak ada satu pun tetangga yang ikut menghadari acara pemakaman tersebut. Di malam hari, acara tahlil pun digelar. Kali ini, para tetangga nampak datang menghadiri acara tersebut dan menanyakan kabar.
Pemandangan yang menyedihkan kembali terlihat saat acara pemakaman itu berlangsung. Lagi-lagi, tidak ada satu pun tetangga yang ikut menghadari acara pemakaman tersebut. Di malam hari, acara tahlil pun digelar. Kali ini, para tetangga nampak datang menghadiri acara tersebut dan menanyakan kabar.
Pak Alan yang ternyata berasal dari Jajar Kanigoro, desa Jajaretan, Blitar, Jawa Timur,
kini tau betapa hebatnya masyarakat yang mendiami kawasan real estate
termegah di kota Surabaya itu. Ternyata masyarakat elit itu lebih
mementingkan pekerjaan pribadi mereka ketimbang membantu tetangga yang
meninggal dan tidak ada yang mengurusnya.
Dari situ aku mendapatkan pengalaman berharga dari seorang Pak Alan.
Beliau tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi yang menghancurkan moral
bangsa. Dampaknya sangat besar terhadap sikap masyarakat yang cenderung
Individualistis. Generasi sekarang mulai meninggalkan prinsip gotong
royong dan saling tolong menolong. Dari situ aku mempunyai penilaian
jika masyarakat di kota lebih besar terpengaruh arus globalisasi yang
mengakibatkan sifat Individualistis tersebut. Sedangkan Pak Alan yang
hidup di desa, sampai saat ini masih memegang teguh prinsip dasar
Pancasila dan UUD 1945.
Akhirnya aku penasaran dengan masa kecil pak Alan, aku mencoba
bertanya tentang masa kecil Pak Alan. Beliau tersenyum kepadaku dan
menceritakan masa kecilnya kepadaku.
“Dulu saya ini hidup di keluarga yang melarat. Bapak saya mengidap
penyakit Stroke dan Ibu saya bekerja sebagai buruh tani. Sedangkan saya
sendiri adalah anak tunggal dan saya harus menjadi tulang punggung
keluarga di kala umur saya yang masih 14 tahun. Biasanya setelah pulang
sekolah, saya menggembala kambing milik tetangga untuk saya bawa ke
padang rumput yang luas. Saya tidak mengeluh tentang kehidupan masa
kecil saya, karena saya ini punya martabat dan tau diri tentang keluarga
saya yang memang kurang mampu. Prinsip saya adalah miskin punya
martabat dan kaya bermanfaat.” ceritanya.
Air mataku nyaris jatuh mendengar cerita masa kecil Pak Alan yang
serba kekurangan. Aku malu terhadap diriku yang hidup serba kecukupan,
namun aku selalu berharap lebih dan mengeluh tentang kehidupanku yang
bisa di bilang mewah itu. Kali ini air mataku benar-benar jatuh
membasahi pipi.
Aku tak kuasa menahan tangis ketika aku sadar jika selama ini
akumengeluh. Pak Alan yang melihat ku menangis, langsung memelukku dan
mengusap-usap kepalaku. Tangisku kian keras dan air mata ini tumpah ruah di pelukan Pak Alan. Sampai-sampai tangisan ku membuat bahu pak Alan basah.
“Mulai sekarang anda harus lebih bijak menjadi generasi bangsa yang muda. Anda harus bisa mengalahkan arus globalisasi dan bermanfaat bagi orang di sekitarmu” Tutur pak Alan. Aku yang masih menangis itu hanya manggut-manggut dan terus memeluk Pak Alan dengan erat.
“Mulai sekarang anda harus lebih bijak menjadi generasi bangsa yang muda. Anda harus bisa mengalahkan arus globalisasi dan bermanfaat bagi orang di sekitarmu” Tutur pak Alan. Aku yang masih menangis itu hanya manggut-manggut dan terus memeluk Pak Alan dengan erat.
Setelah tangisan ku berhenti, Pak Alan mengajakku untuk mengunjungi
rumahnya. Aku bisa membayangkan bagaimana rumah Pak Alan yang besar dan
mewah, pasti ada mobil
mobil mewah yang kinclong. Namun sebaliknya, aku dibuat tercengang
ketika melihat rumah Pak Alan yang begitu sederhana dan kecil.Ternyata
di tengah besar dan mewahnya rumah di kawasan tersebut, masih ada orang
yang hidupnya sederhana. Dengan kehidupan Pak Alan yang begitu
sederhana, membuatku ingin bertanya sesuatu ke pak Alan. “Buat apa
jauh-jauh ke kota Pak? Kalau di kota Pak Alan tetap hidup sederhana
layaknya di desa.” tanyaku. Pak Alan tersenyum mendengar pertanyaan ku
“Buat apa mencari yang mewah dan sempurna? Jika sederhana saja dapat
membuat bahagia.” jawabnya.
Satu kali lagi pak Alan membuatku terkesan dengan kalimatnya, beliau begitu bijak dan hidup sangat sederhana.
Satu kali lagi pak Alan membuatku terkesan dengan kalimatnya, beliau begitu bijak dan hidup sangat sederhana.
Tidak terasa jika obrolan ku dengan Pak Alan sudah lama. Hari mulai
gelap, aku pun pamit dan mencium tangan beliau. Aku berjalan menuju
rumah dengan banyak pikiran. Pak Alan membuatku tidak bisa berkata
apa-apa. Sesampainya di rumah, aku melihat Abahku duduk santai sambil
membaca koran di ruang tamu. Tak tau kenapa, aku berlari dan memeluk
Abah sambil menangis. Sontak Abahku meletakan korannya dan kaget serta
kebingungan “Lhoh kenapa le? Kok dateng-dateng nangis?” tanyanya
khawatir. “Maafin aku bah, selama ini aku banyak mengeluh ke Bunda dan
Abah. Padahal aku sudah hidup berkecukupan.” jawabku sambil menangis
tersedu-sedu. Abahku tersenyum dan mengusap kepalaku. “Maafkan Abahmu
juga ya, belum bisa membuat kamu dan bundamu bahagia” sesal Abahku. Aku
terus menangis di pelukan Abah. Tapi bau yang teramat menyengat
menghentikan tangisan ku, setelah aku cium bau apa yang sangat kurang
sedap ini. Ternyata bau itu berasal dari Abah. “Abah habis pulang kerja?
Baunya asem Bah, belum mandi toh Bah?” tanyaku sambil menutup hidung.
“Hehehe.. kamu mencium bau Abahmu ya? Ya beginilah aroma Abahmu kalau
habis kerja. Wangi kan aroma Abahmu?” candanya, kami pun tertawa lepas
bersama, hingga aku pamit meninggalkan Abah untuk tidur.
Keesokan paginya, aku mendengar suara Abah yang kebetulan mengobrol
dengan Bunda di ruang makan. “Ding, kemarin malam anak kita nangis
sambil meluk aku lho. Dia katanya minta maaf karena sering mengeluh ke
kita.” kata Abah. Ading merupakan panggilan sayang Abahku ke Bunda.
“Masa to Bah? Kenapa anak itu? Kok gak kayak biasanya, tapi baguslah
kalau dia sudah sadar” jawab Bundaku.
Takut aku ketahuan mendengar pembicaraan beliau berdua, aku buru-buru ikut ke meja makan.
“Pagi Abah, Bunda.” sapa ku. “Lha itu anaknya, pagi juga sayang” jawab Bunda ku.
“Kemarin malem kamu kenapa meluk Abah sambil nangis? Padahal Abah belum mandi lho” terus Bunda.
“Aku merasa bersalah terhadap Bunda dan Abah. Selama ini aku diberikan orang tua yang sayang banget ke aku, tapi aku selalu berharap lebih dan mengeluh. Maafin aku sekali lagi ya Bunda, Abah” Jawabku sedikit menyesal. “Tuh! Liatkan Ding? Anaknya siapa dulu dong? Anak Abah gitu lho” celetuk Abah. “Udah sana Bah cepetan berangkat, sekalian antar anak kita ke sekolah” Perintah Bundaku.
“Iya iya Ding, tunggu Abah habisin teh ternikmat bikinan istriku tersayang” rayu Abah.
“Cie si Abah, pagi-pagi begini masih sempat ngrayu Bunda. Nanti malem aja Bah kalau mau ngrayu Bunda.” Ejek ku. Kami pun tertawa bahagia bersama, sungguh pengalaman yang amat manis yang jarang sekali aku dapatkan.
Takut aku ketahuan mendengar pembicaraan beliau berdua, aku buru-buru ikut ke meja makan.
“Pagi Abah, Bunda.” sapa ku. “Lha itu anaknya, pagi juga sayang” jawab Bunda ku.
“Kemarin malem kamu kenapa meluk Abah sambil nangis? Padahal Abah belum mandi lho” terus Bunda.
“Aku merasa bersalah terhadap Bunda dan Abah. Selama ini aku diberikan orang tua yang sayang banget ke aku, tapi aku selalu berharap lebih dan mengeluh. Maafin aku sekali lagi ya Bunda, Abah” Jawabku sedikit menyesal. “Tuh! Liatkan Ding? Anaknya siapa dulu dong? Anak Abah gitu lho” celetuk Abah. “Udah sana Bah cepetan berangkat, sekalian antar anak kita ke sekolah” Perintah Bundaku.
“Iya iya Ding, tunggu Abah habisin teh ternikmat bikinan istriku tersayang” rayu Abah.
“Cie si Abah, pagi-pagi begini masih sempat ngrayu Bunda. Nanti malem aja Bah kalau mau ngrayu Bunda.” Ejek ku. Kami pun tertawa bahagia bersama, sungguh pengalaman yang amat manis yang jarang sekali aku dapatkan.
Setelah selesai sarapan, aku dan Abahku siap-siap berangkat. Ketika
akan memasuki mobil, “Baah..! Nanti jangan lupa beli martabak manis ya!”
pesan Bundaku, “Iya iya Ding, apa sih yang enggak buat istriku
tersayang.” jawab Abahku. “Udah yuk Bah berangkat, nanti keburu telat
lho. Berangkat dulu ya Bunda!” seru ku. Kami pun langsung tancap gas ke
tempat tujuan. Tak berselang lama, aku melihat sosok yang tidak asing
sedang berjalan ke arah yang sama. Setelah aku lihat ternyata beliau
adalah Pak Alan. “Stop Bah, STOOPP!” teriakku, dengan seketika Abahku
mengentikan laju mobilnya. “Ada apa le? Kok nyuruh Abah stop mendadak.
Ada yang ketinggalan?” tanya Abahku kaget. “Itu ada Pak Alan, Pak Alan
bareng sama kita ya Bah, kasian beliaunya jalan kaki.” pintaku. Abah pun
manggut-manggut seraya menyuruhku untuk memanggil Pak Alan. “Pak
Alaaann!” teriakku, Pak Alan pun balik badan dan tersenyum. “Ada apa
anda memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Alan.
“Ah enggak, Pak Alan naik mobil bareng saya saja yuk! Nanti Pak Alan bisa ngobrol sama Abahku di mobil” ajakku. “Waah.. Anda baik sekali, tapi gimana ya?” jawab Pak Alan bingung. “Udah, nanti Pak Alan telat lagi ke kantornya, ayuk deh Pak buruan. Tenang saja Pak Alan gak usah malu-malu.” paksaku.
Akhirnya Pak Alan manggut-manggut dan ikut bersama menaiki mobil. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya aku sampai di sekolah. Aku pamit sambil mencium tangan beliau berdua, “Yang pinter ya di sekolah, jangan nakal! Abah mau berangkat kerja dulu dengan Pak Alan” pesan Abahku.
“Iya iya Bah, hati-hati di jalan” Jawabku. Kemudian mobil yang dinaiki oleh Abahku itu telah hilang dari pandangan.
Seperti biasa, aku mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan sungguh-sungguh.
“Ah enggak, Pak Alan naik mobil bareng saya saja yuk! Nanti Pak Alan bisa ngobrol sama Abahku di mobil” ajakku. “Waah.. Anda baik sekali, tapi gimana ya?” jawab Pak Alan bingung. “Udah, nanti Pak Alan telat lagi ke kantornya, ayuk deh Pak buruan. Tenang saja Pak Alan gak usah malu-malu.” paksaku.
Akhirnya Pak Alan manggut-manggut dan ikut bersama menaiki mobil. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya aku sampai di sekolah. Aku pamit sambil mencium tangan beliau berdua, “Yang pinter ya di sekolah, jangan nakal! Abah mau berangkat kerja dulu dengan Pak Alan” pesan Abahku.
“Iya iya Bah, hati-hati di jalan” Jawabku. Kemudian mobil yang dinaiki oleh Abahku itu telah hilang dari pandangan.
Seperti biasa, aku mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan sungguh-sungguh.
Tak berselang lama, bel panjang berbunyi. Aku pun siap-siap pulang dan menelfon Abahku.
“Abah jemput aku, udah sore nih. Nanti aku takut pulangnya” kataku. “Bentar ya le, Abah lagi meeting. Kamu naik taksi saja dulu, nanti biar di bayar sama Bunda di rumah” jawab Abahku. Dengan terpaksa, aku menunggu taksi di dekat sekolah.
“Abah jemput aku, udah sore nih. Nanti aku takut pulangnya” kataku. “Bentar ya le, Abah lagi meeting. Kamu naik taksi saja dulu, nanti biar di bayar sama Bunda di rumah” jawab Abahku. Dengan terpaksa, aku menunggu taksi di dekat sekolah.
Tiba-tiba “Braaaakkk!” suara yang sangat keras terdengar dari
pertigaan jalan yang sepi. Aku pun berlali sekencang-kencang nya untuk
melihat apa yang sedang terjadi. Aku kaget setengah mati, melihat gadis
kecil yang tergeletak dengan banyak darah di sekitar kepalanya. Rupanya
gadis itu korban tabrak lari, aku bingung ingin berbuat apa, takut,
sedih, gemetar, pokoknya campur aduk. Tapi aku ingat kata-kata Pak Alan,
kata beliau “Hidup itu harus saling tolong menolong, jangan mentang
kaya dan udah jadi orang elit, lupa akan hal itu.” Tanpa berfikir lama,
aku menghentikan sebuah taksi dan cepat-cepat menggendong gadis yang
malang itu. “Pak! Pak cepat antar saya ke RS terdekat. Tolong cepat ya
Pak!” Kataku ke Pak Sopir. Lantas tanpa bertanya-tanya Pak Sopir tancap
gas ke RS terdekat. Begitu sampai, aku berteriak meminta bantuan petugas
RS itu. Sontak semua suster dan petugas yang ada disana menghampiriku
dan langsung membawa gadis kecil itu ke UGD. Aku kian panik, aku takut,
aku bingung harus melakukan apa. Akhirnya aku memutuskan untuk menelfon
Abahku, “Bah! Abah! tadi ada gadis korban tabrak lari, terus kubawa ke
RS dekat rumah kita. Cepet kesini ya Bah, aku takut” kataku. “Beneran
le? Waduh bentar-bentar, Abah nanti kesana. Bentar lagi meeting nya
selesai. Sabar dulu ya sayang” kata Abah coba menenangkanku. Aku juga
menelfon Pak Alan agar datang ke rumah sakit. “Wah?! Yang benar anda?
Baiklah saya akan langsung menuju ke rumah sakit. Anda tunggu disana,
janga kemana-mana” kata Pak Alan.
Tak berselang lama, Abahku datang dengan menggunakan mobil
kesayangannya. “Gimana le tadi kejadiannya? Kok sampai separah itu?”
tanya Abahku penasaran. “Gak tau Bah, aku tadi lagi nunggu taksi di
depan sekolah. Tapi tiba-tiba ada suara tabrakan keras dan tau-tau ada
gadis tergeletak dan kepalanya berdarah “kataku dengan gugup. Abahku
manggut-manggut sambil menepuk bahuku dan berjalan menuju tempat
administrasi. 2 jam kemudian, Pak Alan datang dengan ditemani sepasang
suami istri. Aku tidak tau siapa yang diajak oleh Pak Alan, yang jelas
beliau berdua memakai pakaian resmi. “Dimana gadis yang anda temukan
itu? ” kata Pak Alan dengan cepat, lantas aku menunjukkan tempat dimana
gadis itu sedang ditangani. Semuanya nampak menegang, semuanya tampak
gelisah dan cemas termasuk aku. Pintu tempat gadis itu dirawat tiba-tiba
terbuka, Dokter yang menangani gadis itu keluar dan menatap kami semua.
“Gimana keadaan putri saya Dok? Apakah masih bisa terselamatkan?” tanya
Bapak tadi yang ternyata orang tua dari gadis kecil tersebut.
“Alhamdulilah anak bapak baik-baik saja, untung saja cepat dibawa ke
rumah sakit. Karena putri bapak kehilangan banyak sekali darah.” jelas
Dokter itu. “Alhamdulillah..!!” kata kami bersamaan. Bapak dari gadis
itu menghampiri ku sambil tersenyum padaku. “Terima kasih ya, kamu telah
menyelamatkan nyawa putri saya.” kata bapak itu.
Oh iya, nama saya Pak Cipto, Brigadir Polisi di Sektor Surabaya. Sekali lagi terima kasih banyak telah menyelamatkan putri saya.” lanjutnya. “Iya Pak sama-sama, kata Pak Alan kita harus saling tolong menolong, meski kita sudah mapan, tapi jangan lupakan hal tersebut.” kataku sambil agak gugup.
“Wah enggak! anda hebat, anda hebat sekali, masih kecil anda sudah menjadi pahlawan, hebat hebat, anda hebat pokoknya” kata Pak Alan memujiku. “Abah bangga sama kamu le, gak salah Abah punya anak yang baik dan penolong seperti kamu.” kata Abahku sambil memelukku. Melihat hari sudah larut, kami pun pamit pulang ke Pak Cipto dan istrinya.
Oh iya, nama saya Pak Cipto, Brigadir Polisi di Sektor Surabaya. Sekali lagi terima kasih banyak telah menyelamatkan putri saya.” lanjutnya. “Iya Pak sama-sama, kata Pak Alan kita harus saling tolong menolong, meski kita sudah mapan, tapi jangan lupakan hal tersebut.” kataku sambil agak gugup.
“Wah enggak! anda hebat, anda hebat sekali, masih kecil anda sudah menjadi pahlawan, hebat hebat, anda hebat pokoknya” kata Pak Alan memujiku. “Abah bangga sama kamu le, gak salah Abah punya anak yang baik dan penolong seperti kamu.” kata Abahku sambil memelukku. Melihat hari sudah larut, kami pun pamit pulang ke Pak Cipto dan istrinya.
Di perjalanan pulang, Abah terus-terusan memujiku, aku dibuat malu
oleh Abahku sendiri. Sesampainya di rumah, Abahku berjalan cepat sambil
berteriak-teriak “Ding! Ading! dimana kamu Ding?!” kata Abahku sambil
bingung mencari Bunda.
“Di dapur Bah, lagi masak buat makan malam. Sini aja Bah” sahut Bundaku.Tiba-tiba Abah memeluk Bunda sambil mesam-mesem. Sontak Bunda dibuat kaget, “Lhoh Bah kenapa ini? Pakai meluk-meluk, malu Bah dilihat sama anak kita. Abahkan belum mandi, jangan peluk-peluk dulu deh Bah, mandi dulu sana, habis itu makan.” kata Bundaku kaget, “Anak kita habis nyelametin nyawa anak dari Brigadir polisi sector Surabaya, namanya Pak Cipto”
“Yang bener Bah?” kata Bundaku penasaran. “Ya bener toh ding, anaknya siapa dulu dong? Lama-lama tak cubit lho pipi kamu, kalau terus tanya-tanya.” canda Abahku. Bunda langsung mendekatiku dan bertanya-tanya soal kejadian tadi, dan rumah kami pun menjadi meriah dan penuh dengan kegembiraan. Sampai mata yang ngantuk ini membuat kebahagiaan itu tidak bisa berlanjut.
“Di dapur Bah, lagi masak buat makan malam. Sini aja Bah” sahut Bundaku.Tiba-tiba Abah memeluk Bunda sambil mesam-mesem. Sontak Bunda dibuat kaget, “Lhoh Bah kenapa ini? Pakai meluk-meluk, malu Bah dilihat sama anak kita. Abahkan belum mandi, jangan peluk-peluk dulu deh Bah, mandi dulu sana, habis itu makan.” kata Bundaku kaget, “Anak kita habis nyelametin nyawa anak dari Brigadir polisi sector Surabaya, namanya Pak Cipto”
“Yang bener Bah?” kata Bundaku penasaran. “Ya bener toh ding, anaknya siapa dulu dong? Lama-lama tak cubit lho pipi kamu, kalau terus tanya-tanya.” canda Abahku. Bunda langsung mendekatiku dan bertanya-tanya soal kejadian tadi, dan rumah kami pun menjadi meriah dan penuh dengan kegembiraan. Sampai mata yang ngantuk ini membuat kebahagiaan itu tidak bisa berlanjut.
Keesokan paginya, seperti biasa aku berangkat sekolah dengan Abah.
Setelah sampai di sekolah, tiba-tiba ada pengumuman. Ternyata pengumuman
itu menyuruhkami para siswa-siswi untuk berkumpul di halaman depan
sekolah. Ketika sampaidi halaman depan, aku terkaget-kaget. Aku melihat
Pak Cipto bersama para personil polisinya datang dengan Pak Kepala
Sekolah. “Perhatian semuanya, hari ini kita kedatangan tamu dari
kepolisian, mohon semuanya untuk tenang. Marikita sambut Pak Cipto untuk
maju ke depan.” sambut Pak Kepala Sekolah. “Selamat pagi anak-anak,
salam sejahtera bagi kita semua.” Sambutan Pak Cipto. “Baiklah langsung
saja. Kemarin putri saya mengalami kecelakaan di dekat sekolah sini.
Namun ada anak yang pemberani dan berjiwa besar yang telah menyelamatkan
nyawa putri saya. Untuk itu saya disini untuk berterima kasih
kepadanya. Mohon anak yang kemarin saya temui maju ke depan” lanjut Pak
Cipto menjelaskan tujuannya datang ke sekolah.
Semua siswa yang ada di lapangan saling bertatapan, mungkin mereka
penasaran dengan orang yang telah menolong anak dari Pak Brigadir itu.
Dengan perasaan agak malu dan bangga, aku maju ke depan. Semua orang
menatapku. Aku berjalan menuju ke depan dengan diiringi tepuk tangan
yang meriah. Sesekali aku menunduk sambil menutup mata untuk mengurangi
rasa malu ku. Setelah sampai di depan, Pak Cipto menatapku sambil
memberikan senyuman untukku. Pak Cipto memberiku sebuah penghargaan
keberanian dan sejumlah beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang kuliah.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh, ternyata
beliau adalah Pak Alan. Ternyata Pak Alan memberikan sedikit sambutan
untuk kami semua. “Pagi anak-anak! Kemarin saya dikagetkan oleh tindakan
anak yang di samping saya ini. Saya mengenal anak ini baru 3 hari yang
lalu, namun dia telah membuat saya kagum. Silahkan buat anda semua yang
mau ditraktir, pasti Pak Cipto akan memberikan amplop untuknya.” kata
Pak Alan sambil bercanda. Semua orang yang ada di lapangan itu tertawa
lepas.
Tanpa aku sadari, ketika melihat deretan guru sebelah samping, aku
kaget. Ternyata Abah dan Bundaku sedang melihatku. Bundaku menangis
bahagia di pelukan Abahku, sedangkan Abahku tersenyum sambil
manggut-manggut ke arahku. Pertemuan dengan Pak Alan yang dulunya orang
miskin, membuatku menjadi sadar dan malu dengan kehidupanku saat ini.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Alan.
“Miskin harus Bermartabat. Jika sudah kaya, harus Bermanfaat”.
“Miskin harus Bermartabat. Jika sudah kaya, harus Bermanfaat”.
Sungguh pertemuan dengan seorang Pak Alan yang luar biasa.
Cerpen Karangan: Fajar Rofinanda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar