Hai teman-teman, namaku Siska Wati aku anak kedua dari tiga
bersaudara, umurku sekarang 21 tahun, kebiasaan burukku terjadi ketika
aku masih duduk di kelas 3 SMA, umurku waktu itu 18 tahun, kebiasaan
burukku ialah sering datang terlambat ke sekolah, aku malas
merapikan kamarku, dan aku selalu menunda-nunda mengerjakan PR dari
sekolah. Oh.. iya teman-teman jangan tiru kebiasaanku yang buruk itu ya!
Pasti teman-teman ingin mendengarkan lagi ceritaku yang lebih lanjut,
begini ceritanya:
Waktu itu, aku duduk di kelas 3 SMAN Karya Bangsa, hidupku tak begitu
indah setiap hari, aku terus dimarahi oleh ibu karena hidupku yang
tidak disiplin., Mulai dari kamarku yang berantakan, buku-buku di kamarku
yang berserakan, dan baju-baju yang bertebaran, sampai bau kamarku
tidak sedap. Aku malas untuk merapikan dan membersihkannya. Bukan hanya
itu, ibuku juga sering marah karena aku selalu menunda-nunda
mengerjakaan PR dari sekolah, aku paling benci dimarahi oleh bu guru
karena aku sering datang terlambat. Aku tidak bisa mengubah kebiasaanku ini, walaupun ibu telah menasehatiku setiap hari dan mengajarkanku tentang kedisiplinan.
Suatu malam mataku tidak bisa dipejamkan.Aku pun tertidur pada pukul
01.00 WIB.Paginya, pada pukul 05.30 WIB jam wekerku berdering, yang
bunyinya seperti ini “Kring… kring… kring” jam weker itu aku abaikan,
karena aku sangat mengantuk sekali. Sesudah satu jam, ibu masuk ke dalam
kamarku. dan membangunkanku “Siska… bangun… ayo bangun, sudah jam
07.00” aku menjawabnya dengan mata yang mengantuk “Aghh… ah Ibu aku
masih ngatuk!” ibu memperlihatkan jam weker kepadaku. Aku pun terkejut
dibuatnya, “Astaga, kenapa Ibu tidak membangunkanku?” ibu pun menjawab
“Ibu telah membangunkan kamu tetapi, kamunya yang tidak mau bangun!” aku
pun berlari menuju kamar mandi, ketika di tengah perjalanan menuju
kamar mandi, aku pun terpeleset karena bajuku yang bertebaran “Aduh…
sakit” jeritanku, ibu terdiam sejenak, dan menggelelengkan kepalanya,
ibu pun mengatakan kepadaku “Ayo cepat! Ibu tunggu di ruang makan” ibu
pun keluar dari kamarku.
Setelah mandi aku mencari pakaian seragamku, aku pun mengacak-acak
semua pakaianku, setelah mengacak-acak semua pakaianku akhirnya, baju
seragam itu pun dapat kutemukan. Waktu terus berjalan, aku semakin cemas
karena aku takut kena marah lagi oleh bu guru, aku langsung menyiapkan
buku-buku untuk pelajaran hari ini, lagi-lagi bukuku hilang tidak dapat
ku temukan kembali “Ya.. Tuhan kemana bukuku?” ucapanku di dalam hati,
aku jadi bingung karena semua bukuku berserakan, akhirnya sudah beberapa
menit akhirnya buku itu dapat ku temukan “Haa… ini dia”
kataku dengan wajah yang lega, “Siska… ayo keluar Nak!. Sebentar lagi
kita akan sarapan! Ayah, Kakak, dan Adikmu sudah menunggu,” teriak ibu
dari ruang makan “Baik Bu… tunggu sebentar ya!” jawabku.
Aku pun langsung memakai kaos kakiku dengan terburu-buru, tanpa tak
kusadari terpasang olehku kaos kaki yang tidak sama. Setelah itu aku
mengambil sepatuku, dan langsung memakainya. Aku pun keluar untuk
sarapan, dengan terburu-buru aku hampir saja menabrak guji kesayangan
ibu “Huftt… hampir saja” kataku. Aku pun tiba di ruang makan “Sekarang, menu
kita nasi goreng dan roti selai ya” kata ibu, aku pun duduk “Bu aku
hanya ingin roti selai saja Bu” kataku, ibu menjawabnya “Kok… gitu, kamu
nggak mau makan nasi goreng buatan Ibu dulu?” aku menjawabnya
“Terimakasih Bu tapi, Siska harus buru-buru, nanti Siska kesiangan Bu”
ibu menjawab “Oh.. kalau kamu mau roti, ambil saja ya!”. Aku pun
mengambil roti selai, aku melihat ada selai stroberry dan saos sambal
cabe, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.25 WIB dengan
terburu-buru aku tidak sengaja mengoleskan saos sambal cabe ke rotiku.
Aku pun langsung mencium tangan kedua orangtuaku, dan berpamitan “Ayah,
Ibu aku berangkat dulu ya!” kataku “Pergilah… Nak! hati-hati ya di
jalan” kata ayah dan ibuku
Aku pun pergi ke sekolah dengan mobil
pribadiku “Ayo… Pak kita jalan!” kata ku kepada sopirku, aku pun
memakan roti selaiku tadi, setelah dua gigitan aku merasa kepedasan
“Aduhh… aduh.. pedas” jeritanku. Kulihat jam tanganku kembali sudah
menunjukkan pukul 07.30 WIB “Ayo.. lebih cepat lagi Pak!”. Setiba di
sekolah aku berlari dengan kencangnya, ketika tiba di pintu gerbang ku
lihat pintu gerbang sudah ditutup oleh Pak satpam. Lalu, aku pun
mengetok pintu gerbang itu “Pak.. tolong dibukain dong pintu gebangnya!”
perintahku. Satpam itu terdiam sejenak, dan mengatakan “Maaf… Dek siswa
yang datang terlambat, tidak boleh masuk!” aku menjawabnya “Mohon Pak
sekali ini saja kok, please!” satpam itu menjawab kembali “Tidak boleh!
kemarin terlambat lagi, kemarinya lagi terlambat, sekarang terlambat
lagi pokoknya Siswa yang terlambat tidak boleh masuk!” aku pun berdebat
dengan satpam itu, setelah itu bu guru mendekati satpam itu, jantungku
berdetak-detak dengan kencang, aku cemas sekali “Stop-stop ada apa ini
ribut-ribut?” tanya bu guru, “Ini Buk.. Siswa ini paksa Saya untuk
dibukain pintu gerbangnya” jawab satpam itu. “Apa benar, yang
dikatakannya tadi Siska?” tanya bu guru lagi, dengan wajah yang cemas
aku menjawabnya “Betul… Bu Guru”.
“Sudah Pak, buka saja gerbang ini!” perintah bu guru kepada satpam itu “Terimakasih ya… Buk” kataku, bu guru berkata kepadaku lagi “Sekarang, kamu cepat masuk kelas!” aku menjawabnya “Baik.. Bu” lalu, aku pun berjalan menuju kelas. Setelah beberapa langkah bu guru berteriak kepadaku “Hmmm… tunggu, kalau kamu masih terlambat lagi lebih dari tiga kali, kamu akan saya skor selama satu Minggu lima hari!” aku menjawabnya “Baik.. Bu Saya tidak akan terlambat lagi”
“Sudah Pak, buka saja gerbang ini!” perintah bu guru kepada satpam itu “Terimakasih ya… Buk” kataku, bu guru berkata kepadaku lagi “Sekarang, kamu cepat masuk kelas!” aku menjawabnya “Baik.. Bu” lalu, aku pun berjalan menuju kelas. Setelah beberapa langkah bu guru berteriak kepadaku “Hmmm… tunggu, kalau kamu masih terlambat lagi lebih dari tiga kali, kamu akan saya skor selama satu Minggu lima hari!” aku menjawabnya “Baik.. Bu Saya tidak akan terlambat lagi”
Aku pun masuk ke dalam kelas, setiba di kelas aku ditertawakan oleh
semua teman-temanku, “Haaa… haaa… haaaa” tawa teman-temanku, aku berkata
di dalam hatiku “Apa ada yang salah dengan penampilanku? kenapa aku
menjadi bahan tawaan?” lalu, aku berjalan menuju tempat dudukku, setiba
di tempat dudukku aku pun langsung duduk. Pagi ini aku belajar pelajaran
matematika, aku lupa
membuat PR matematika “Astaga… aku lupa membuatnya… bagaimana ini?”
ucapanku di dalam hatiku, setelah itu Bu Guru masuk ke dalam ruangan
kelas ku, mukaku menjadi pucat dibuatnya “Asslammualaikum Anak-anak”
kami menjawabnya “Walaikummsalam Buk”.“Sekarang kumpulkan PR yang telah
Bu Guru berikan Minggu lalu!” kata bu guru, teman-temanku pun
mengumpulkan PR mereka masing-masing, mukaku tambah menjadi pucat
“Siska… kenapa kamu Nak? kamu sakit?” tanya bu guru aku menjawabnya
dengan wajah yang gugup “Nggak… Bu saya tidak sakit kok” bu guru pun
pergi ke papan tulis “Sekarang… siapa yang tidak mengumpulkan PR?” tanya
bu guru dengan wajah yang pucat aku mengangkat tanganku dan berkata
“Saya Bu Guru”. “Sekarang kamu berdiri di depan kelas sebagai hukuman
untuk kamu yang tidak membuat PR!” perintah bu guru, aku pun berjalan
menuju depan kelas rasanya malu sekali karena, aku sering sekali dihukum
oleh bu guru hanya gara-gara tidak membuat PR “Siska kamu angkat salah
satu kakimu lalu, pegang kedua daun telingamu!” perintah bu guru lagi,
aku pun mengangkat salah satu kakiku, dan memegang kedua daun telingaku.
Teman-teman mentertawakanku lagi “Haaa… haaa… haaaaa” tawaan mereka
semua kecuali sahabatku, “Huuhhh kenapa sih hidupku selalu sial, mulai
dari terlambat ke Sekolah, masuk kelas ditertawakan, dapat hukuman
karena tidak membuat PR, sekarang malah jadi bahan tawaan lagi.. Ihhhh
aku kan jadi malu!” kataku didalam hati kecilku bu guru menjadi marah
dan berkata “Kenapa kalian mentertawakan Siska?” mereka menjawabnya
dengan serentak “Karena kaos kakinya tidak sama, Bu!” aku pun terkejut
dan langsung melihat kaos kakiku, memang berbeda yang satu berwarna
hijau, yang satunya lagi berwarna merah, aku jadi malu dibuatnya, pipiku
menjadi pink kemerahaan “Sudah… sudah… diam” kata bu guru dengan wajah
yang marah lalu, bu guru mengajarkan kepada siswa tentang segitiga,
setelah beberapa menit perutku menjadi mulas dan mengeluarkan kentut
“Pump…” bunyi kentutku, teman-teman mulai mencium bau yang tak sedap
itu, dan teman-teman mulai ribut dan menutup hidungnya masing-masing
“Siapa yang kentut?” tanya bu guru dengan wajah yang geram.
Para siswa terdiam sejenak, “Ayo… mengaku siapa yang kentut?” tanya
bu guru lagi, aku berkata di dalam hatiku “Uhhh… ini pasti gara-gara
selai cabe yang tadi aku makan” aku pun kembali cemas dengan malu-malu
aku mengangkat tanganku “Saya Bu Guru,” kataku, bu guru menjawab “Siska…
kamu lagi… kamu lagi… sekarang kamu bersihkan WC perempuan!” bentak bu
guru, aku pun berjalan menuju WC untuk membersihkannya, setelah beberapa
menit aku membersihkan WC malu rasanya dilihat oleh siswa-siswa yang
lain, lonceng sekolah pun berbunyi “Teng… teng…” itu artinya jam
pelajaran kedua sudah dimulai bu guru mendekatiku di ruangan WC “Siska…
maafkan Saya, yang telah menghukum kamu terlalu berat. Kamu harus hidup
disiplin!” aku menjawabnya “Baik… Bu Guru maafkan Saya juga yang tidak
disiplin Bu Guru” aku pun kembali ke ruangan kelasku.
Lagi-lagi teman-teman mentertawakankun lagi “Dasar… tukang kentut
sembarangan, emangnya ini WC… dasar!” kata temanku, “Haaaaa… haa” tawa
mereka. Telingaku terasa panas mendengar cacian mereka “Eehhh biasa aja
kali kalau Aku kentut emangnya kamu terasa terbebani hah? Aku yang
kentut kamu yang sewoot lagian, kalau Aku kentut bearti aku manusia
normal dong!” temanku itu menjawabnya lagi “Eh.. iya dong aku merasa
terbebani soalnya baunya gak enak banget, terserah kalau kamu mau bilang
manusia normal, idiot, dan lain-lain, pokoknya kamu itu tukang kentut
sembarangan!” aku pun mencoba untuk sabar “Sudahh… cukup!” kata
sahabatku, lima menit kemudian lonceng pun berbunyi, “Nah, sekarang
saatnya jam pelajaran IPA (Fisika) nih, ayo Siska kamu duduk ke tempat
dudukmu!” kata sahabatku, aku pun berjalan menuju tempat dudukku bersama
sahabatku “Huhuhuuhu” ejek temanku tadi.
Pak guru memasuki ruangan kelasku “Asslammulaikum… Anak-anak” kami
semua menjawabnya “Waalaikumsalam Pak”. “Sekarang simpan semua buku yang
berhubungan dengan pelajaran fisika” kata pak guru yang mengajar
pelajaran fisika “Berarti sekarang kita ulangan dong… Pak” kata kami
semua “Memang betul… saya akan melihat kemampuan kalian semua” aku pun
terkejut mendengarnya, “Ya… Tuhan cobaan apa lagi yang Engkau berikan
kepadaku?” kataku di dalam hatiku, aku pun menyimpan buku fisikaku pak
guru berkata lagi “Sekarang saya akan membagikan nilai ulangan kalian
semua yang kedua” saat pak guru membagikan nilai ulanganku jantungku
berdetak-detak lebih kencang lagi, aku cemas akan nilai ulanganku itu,
kemudian pak guru berkata kepadaku “Siska… nilai ulangan kamu tidak ada
perubahan, nilai ulangan kamu yang pertama 30, yang kedua 40” aku
menjawabnya “Yah.. Pak itu kan ada kenaikkan 10 Pak”. “Huuuu…” kata
teman-temanku. Aku jadi malu, “Sudah.. sudah.. ayo kalian kerjakan soal
ulangan ini” kata pak guru. Lalu, aku pun mengerjakan soal ulangan itu
“Kenapa soal ini sulit sekali” ucapanku di dalam hati soal itu berjumlah
20, sedangkan aku baru menyelesaikan 8 buah soal
Waktu tinggal sedikit lagi, keringatku mulai berteteran “Ya… Tuhan
berilah keringanan sedikit untukku” akhirnya aku dapat menyelesaikan 17
soal, 20 menit telah berlalu “Teng… teng… teng” bunyi lonceng sekolahku,
waktunya jam untuk pulang sekolah, para Siswa mengumpulkan lembar
jawaban mereka begitu pun aku juga mengumpulkan.
Aku pun pulang “Ayo Pak kita pulang” perintahku kepada supirku, di
tengah perjalanan “Ehhh… hmmm bagaimana kita ke Mall dulu!” kataku.
Setelah itu aku pun sampai di Mall aku berkata kepada sopirku “Pak..
tunggu sebentar ya… aku mau belanja dulu” aku pun masuk ke dalam Mall.
Lalu, aku belanja baju-baju yang banyak, dan makan siang di restaurant
terdekat, sedangkan ibu di rumah panik memikirkan aku, ibu menelephoneku
tetapi, handphoneku mati karena baterainya habis, aku menghabiskan
waktuku di Mall. Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 15.30
WIB, aku menuju ke mobilku “Ayo.. Pak kita pulang!” kataku kepada
sopirku.
Setiba di rumah aku berteriak kepada ibu “Ibu… Ibu… aku pulang”. Aku
pun masuk ke dalam rumah “Hmmm..sekarang sudah jam berapa?” tanya ibu
sambil wajah yang sedikit marah aku menjawabnya “Sekarang… sudah pukul
15.45 WIB” ibu bertanya lagi “Kok.. kamu baru pulang sekolah? Ibu telfon
handphone kamu, tapi kok gak masuk-masuk?” aku menjawabnya “Taaadi..
aku pergi ke Mall dulu Bu, terus baterai handphoneku habis Bu” ibu
berkata lagi kepadaku “Kalau mau ke Mall atau kemana pun lain kali kamu
harus kasih tahu ibu dulu karena ibu cemas memikirkan kamu Nak!” aku
menjawabnya “Baik Bu.. maafkan aku ya Bu” ibu menjawabnya “Iya kali ini
Ibu maafkan.. tetapi, lain kali kamu harus disiplin ya!” aku menjawabnya
“Baik.. Bu lain kali Siska akan kasih tahu Ibu dulu” ibu berkata
kepadaku lagi “Oh, iya kamu sudah makan Siska?” aku menjawabnya “Sudah
kok Bu” ibu menjawab “Syukurlah kalau begitu”
Aku pun masuk ke dalam kamarku, kulihat dan kupandang selah belik
kamarku tidak serapi, dan tidak sebagus kamar kakakku. Mataku tidak
senang melihatnya, aku berkata di dalam hatiku “Kenapa hidupku seperti
ini, dan mengapa aku tidak bisa hidup disiplin?” aku bingung dibuatnya.
Malamnya aku datang ke kamar kakakku, kamarnya lebih rapi, indah, dan
harum pula. Nyaris aku putus asa, aku termenung di kamar kakakku “Siska…
ayo keluar kita akan makan malam nih!” ajak kakakku aku menjawabnya
“Baik.. Kak” aku pun keluar untuk makan malam, setelah makan aku
langsung masuk ke dalam kamarku, kulihat dan kupandang lagi kamarku. Aku
selalu berpikir kenapa aku tidak bisa disiplin? kupandang kamarku
bagaikan kapal pecah, pecah, dan pecah. “Ya… Tuhan kenapa hidupku begini
aku merasa aku hanya hidup di putaran waktu yang sia-sia?” tanya ku
kepada Sang Illahi setelah itu terdengar suara “Tok… tok.. tok Siska,
apakah ibu boleh masuk Nak?” tanya ibu, aku pun menjawab “Boleh.. kok
Bu” ibu pun masuk dan membuka pintu “Iya.. Bu ada apa?” tanyaku, Ibu
memandang kamarku dengan seriusnya.
Aku pun heran melihat ibu seperti ini “Ibu… Ibu… Ibu” kataku sambil menatap mata ibu sedalam-dalamnya “Siska..siska..” kata ibu sambil melihat seluruh ruangan kamarku, “Iya… Bu ada apa?” jawabku dengan heran, ibu berkata lagi “Ohhh… iya ibu kesini untuk mengatakan bahwa, kamu harus belajar untuk disiplin ya Nak!” aku menjawabnya “Ahhh… Ibu, Ibu kan sudah tahu kalau Siska ini tidak bisa merubah kebiasaan ini Bu” ibu menjawabnya sambil menepuk pundakku “Iya.. iya.. ibu tahu tetapi, kamu tidak bisa hidup seperti ini Nak” aku menjawab “Iya.. iya Bu aku akan mencobanya tetapi, butuh waktu untuk mencobanya Bu” ibu menjawab “Nah.. kalau gitu baru anak ibu yang hebat” aku tersenyum “Sudah, kamu sekarang kamu belajar besok Ibu akan siapkan bekal untuk kamu ke sekolah ya” kata ibu lagi, “Terimakasih ya Bu” kataku dengan senyuman yang hangat ibu pun membalasnya dengan senyuman yang manis, ibu pun keluar dari kamarku.
Aku pun heran melihat ibu seperti ini “Ibu… Ibu… Ibu” kataku sambil menatap mata ibu sedalam-dalamnya “Siska..siska..” kata ibu sambil melihat seluruh ruangan kamarku, “Iya… Bu ada apa?” jawabku dengan heran, ibu berkata lagi “Ohhh… iya ibu kesini untuk mengatakan bahwa, kamu harus belajar untuk disiplin ya Nak!” aku menjawabnya “Ahhh… Ibu, Ibu kan sudah tahu kalau Siska ini tidak bisa merubah kebiasaan ini Bu” ibu menjawabnya sambil menepuk pundakku “Iya.. iya.. ibu tahu tetapi, kamu tidak bisa hidup seperti ini Nak” aku menjawab “Iya.. iya Bu aku akan mencobanya tetapi, butuh waktu untuk mencobanya Bu” ibu menjawab “Nah.. kalau gitu baru anak ibu yang hebat” aku tersenyum “Sudah, kamu sekarang kamu belajar besok Ibu akan siapkan bekal untuk kamu ke sekolah ya” kata ibu lagi, “Terimakasih ya Bu” kataku dengan senyuman yang hangat ibu pun membalasnya dengan senyuman yang manis, ibu pun keluar dari kamarku.
Aku mencoba untuk hidup disiplin, dengan cara membersihkan kamarku,
mulai dari merapikan buku-buku yang bertebaran di kamarku, baju-baju
yang berserakkan aku rapikan, dan aku masukkan ke dalam lemari bajuku.
Setelah itu kamarku yang sangat kotor aku bersihkan menggunakan sapu,
dan bau kamarku yang tidak sedap ku beri pewangi ruangan. Setelah
merapikan kamar aku belajar dengan seriusnya jam telah menunjukkan pukul
08.30 WIB. Aku pun langsung menyiapkan buku-buku untuk pelajaran besok
setelah itu, aku juga mengatur jam wekkerku agar aku tidak terlambat
lagi. Aku pun langsung tidur, paginya jam wekkerku berdering yang
bunyinya seperti ini “Kring… kring…” aku mendengar bunyi itu, aku pun
langsung bangun dari tempat tidurku, sebenarnya mataku berat sekali
untuk bangun tetapi, aku harus bangun lebih awal agar tidak terlambat
lagi, dan aku pun langsung merapikan tempat tidurku. Setelah itu, aku
berlari menuju kamar mandi untuk mandi setelah mandi, aku mencari
pakaian seragamku di lemari baju “Nah… ini dia seragamku” ujarku, aku
tidak perlu lagi mengacak-acak semua pakaianku karena, semua pakaianku
telah aku rapikan. Aku pun langsung memakainya. Setelah memakai seragam
aku pun langsung mengambil kaos kakiku dan sepatuku yang ada di rak
sepatu, aku melihat kaos kakiku apakah ini sama atau berbeda dengan
hati-hatinya “Senangnya.. hidup seperti ini” ucapanku setelah aku
memakai kaos kaki, ibu masuk ke dalam kamarku, ibu sedikit terkejut
karena melihat perubahan kamarku yang bagus, rapi, dan indah, ibu pun
terdiam sejenak “Ibu… Ibu…” kata ku kepada ibu “Hmm iya.. sekarang kamu
keluar ya untuk sarapan!” ajak ibu “Baik.. Bu” jawabku. Aku pun keluar
untuk sarapan, ibu berkata di dalam hatinya “Wah… akhirnya Siska bisa
berubah untuk menjadi orang yang disiplin walau pun itu hanya sedikit
demi sedikit” aku terlalu ceria pagi ini setiba di ruang makan, aku
langsung duduk “Oh.. iya kamu mau apa Siska? susu atau roti?” tanya ibu
“Aku mau roti saja kok Bu” aku mengambil roti dan melihat selai yang
akan aku oleskan ke roti agar tidak salah lagi “Wah.. nampaknya Siska
sudah mulai cepat nih! biasanya sih terlambat terus” kata kakakku “Iya..
ya Kak, Kak Siska kini sudah mulai cepat” ucap Adikku, Ibu pun
tersenyum kepadaku.
Setelah sarapan aku pun langsung berpamitan kepada kedua orangtuaku
dan mencium kedua tangan mereka, aku pun berjalan menuju mobil pribadiku
“Sissskaaa… tunggu Nak, ini bekal makananmu ketinggalan” teriak ibu,
aku pun berbalik untuk mengambil bekal yang ketinggalan “Makasih ya..
Bu, aku pergi dulu ya..” aku pun masuk ke dalam mobil setelah tiba di
sekolah aku langsung menuju ruang kelasku, ternyata aku yang paling
pertama tiba, menunggu bel bunyi aku sempatkan untuk membaca buku Bahasa
Inggris. Setelah beberapa menit bel pun berbunyi, semua siswa masuk ke
dalam ruangan kelas mereka masing-masing setelah itu, Bu guru pun masuk
ke dalam kelasku “Selamat pagi Anak-anak” kami menjawabnya “Selamat pagi
Bu”. “Sekarang Bu Guru akan melihat sampai mana kemampuan kalian semua,
dalam mempelajari semua materi Bahasa Indonesia.” ujar bu guru “Yah..
kok gitu sih Bu” kata semua siswa-siswi “Tenang-tenang, kalian kan tahu
bahwa sebentar lagi kalian akan menghadapi UN, disinilah hasil nilai
belajar kalian selama 3 tahun di Sekolah ini, apakah kalian nanti lulus
atau tidak lulus nah, tujuan Bu Guru sekarang adalah supaya kalian ingat
apa yang telah Saya ajarkan kepada kalian semua di UN nanti, jadi
ananda siswa-siswi Bu Guru mengertikan?” ucap bu guru dengan seriusnya.
Para siswa termenung sejenak “Mengerti Bu”. Setelah beberapa menit
kemudian “Sekarang kalian simpan buku-buku yang bersangkutan dengan
materi Bahasa Indonesia” perintah bu guru, bu guru pun membagikan
soal-soal yang akan dibahas selain itu para siswa menyimpan buku-bukunya
ke dalam tas mereka masing-masing. “Ya.. tuhan tolonglah aku dalam
menghadapi soal-soal ini” do’aku di dalam hati.
Semua siswa mengerjakan soal tes ini dengan hati-hati dan teliti
bagiku, semua soal itu tak begitu sulit karena aku telah belajar dengan
sungguh-sungguh tadi malam dan mengulangnya pagi tadi. Waktu terus
berjalan seiringnya, aku mengerjakan soal itu dengan seriusnya, waktu
telah menunjukkan 12.30 WIB sebentar lagi waktunya pulang, setelah
beberapa menit lonceng pun berbunyi “Teng… teng.. teng” aku mengumpulkan
lembaran jawabanku “Selesai, tidak selesai harus dikumpulkan” tegas bu
guru semua siswa menggumpulkan lembaran jawaban mereka masing-masing ke
depan kelas dengan wajah yang sangat kecewa, semua pulang dan berpamitan
kepada bu guru begitu pun aku juga pulang.
Setiba di rumah aku membuka sepatuku dan meletakkan ke tempatnya, dan
mengganti pakaianku dengan pakaian rumah, aku pun meletakkan seragam
sekolahku ke lemari pakaianku. Aku pun beristrirahat sebentar “Siska..
ayo turun Nak.. kita akan makan siang” teriak ibu dari ruang makan aku
pun keluar dan menuju ruang makan, setelah makan aku langsung masuk ke
dalam kamar untuk belajar kembali aku berkata di dalam hatiku “Kenapa
ya, aku dulu tidak seperti ini saja?” kata-kataku penuh dengan tanda
tanya, aku sangat menyesal sekali “Andaikan saja waktu bisa diputar
kembali, pasti aku akan berubah semua sikap tetapi, nasi telah menjadi
bubur, aku akan merubah sikapku ini untuk lebih baik lagi” ucapku ibu
menengokku dari balik jendela kamarku dan mendengar semua pembicaraanku
tiba-tiba “Krek… krek” suara pintu. Ibu masuk ke dalam kamarku “Hmm, Nak
yang penting kamu sudah bisa untuk berubah itu pun sudah cukup bagi
Ibu” kata ibu, aku tersenyum kepada ibu “Oh.. iya Ibu dengar dua Minggu
lagi kamu akan menghadapi UN ya? apa itu benar Siska?” tanya ibu “Betul
Ibu, mankannya aku belajar nih, ya hitung-hitung untuk bekal nanti”
jawabku, “Sudah.. sudah lanjutkan belajarmu Ibu tidak mau mengganggumu”
kata ibu. Ibu pun keluar dengan berangsur-angsur dan menutup pintu
kamarku.
Malam pun tiba, “Krek krek” kakakku membuka pintu kamarku “Siska.. ke
ruang makan yuk! Ayah, Ibu, dan Adikmu sudah nunggu tuh” ajak kakakku.
Aku pun keluar untuk makan malam, setelah tiba di ruang makan aku pun
duduk dan menyantap hidangan makan malam yang telah dihidangkan oleh ibu
dan kakakku “Siska.. Ayah mau tanya, prestasimu selama di kelas 3 ini
ada peningkatan” tanya ayah “Huukt…” aku tercekik “Kenapa..?” tanya ayah
“Nggak… apa-apa kok Yah” jawabku. Aku terdiam sejenak semua mata
tertuju padaku keringatku mulai berjatuhan, hatiku resah dan gelisah tak
menentu “Aaada kok Yah… sedikit demi sedikit” kataku “Wah.. bagus tuh
yang Ayah tanya, apakah kamu ada perubahan, nyatanya ada kan?” jawab
ayah, hatiku merasa lega dan tidak merasa gelisah lagi.
Satu minggu lima hari telah berlalu, seiringnya dekatnya waktu UN
yang akan aku hadapi. Hari Sabtu pun tiba paginya, ibu membangunkanku
“Siska.. ayo bangun Nak!” sambil menegakkan badanku “Ugghaahh… hmm Ibu,
emangnya sudah jam berapa Bu?” tanyaku “Sudah jam 06.00 Siska” jawab
ibu. Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan pergi mandi setelah
mandi aku memakai seragam sekolahku, jam telah menunjukkan 07.00 WIB aku
sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah setelah sarapan aku
langsung berangkat ke sekolah, seperti biasanya. Aku pun telah sampai di
sekolah, setelah lima menit lonceng sekolah pun berbunyi para siswa
masuk ke ruangan mereka masing-masing. Kepala sekolah pun masuk ke dalam
kelasku “Anak-anak yang kami sayangi hari Senin besok kalian akan
menghadapi UN, nah pada hari ini kita tidak belajar tetapi, kita
mempersiapkan hal-hal penting untuk UN nanti “ujar kepala sekolah
“Horeeee” sorak gembira para siswa, para siswa dan guru-guru pun mempersiapkan segala sesuatu yang dirasa perlu untuk UN nanti, aku pun langsung mengambil nomor ujianku setelah selesai itu, aku langsung pulang ke rumah.
“Horeeee” sorak gembira para siswa, para siswa dan guru-guru pun mempersiapkan segala sesuatu yang dirasa perlu untuk UN nanti, aku pun langsung mengambil nomor ujianku setelah selesai itu, aku langsung pulang ke rumah.
Setiba di rumah aku langsung menukar bajuku, dan makan siang setelah
itu, aku langsung belajar untuk UN nanti, malam pun tiba aku dan
keluargaku makan malam di ruang makan “Siska kamu harus LULUS dengan
cara belajar yang giat!” kata ayah “Baa..ik Yah Siska akan belajar lebih
giat lagi, biar bagaimana pun Siska harus LULUS dan memberikan nilai
yang terbaik untuk Ayah dan Ibu” jawabku dengan wajah yang
bersungguh-sungguh, selesai makan aku mencuci piring dan langsung
belajar kembali, malam pun berganti dengan pagi. Hari Minggu pun tiba
paginya aku sarapan setelah itu, aku belajar kembali “Rasanya cemas
untuk menghadapi UN besok” kataku, ibu ku mengintip dari kejauhan “Tidak
ada yang perlu di cemaskan Siska!” kata ibu sambil memegang bahuku, aku
tersenyum pada ibu “Siska kamu harus pasrah Nak! Ini mungkin hal yang
harus kamu tempuh untuk menjadi seorang yang sukses “nasehat ibu. Aku
berpikir sejenak “Hmm, betul juga sih, apa yang dikatakan Ibu itu
benar”, Ibu pun tersenyum kepadaku “Ya.. sudah kamu lanjutkan lagi ya
belajarnya!” kata ibu “Iya.. Ibu” jawabku. Aku belajar dengan
sungguh-sungguh demi membahagiakan kedua orangtuaku.
Malam pun tiba aku membiarkan perutku kosong hanya untuk terus
belajar demi UN besok “Siska… ayo turun Nak! Kita makan!!” Teriak ibuku
“Iya.. Bu nanti dulu” jawabku “Kelihatannya Siska sangat sibuk sekali ya
Bu. Dia belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi UN besok” ujar
ayah “Hmm begitulah anak kita Yah, anak itu pantang menyerah sekali
nampaknya, semua itu dia lakukan semata-mata hanya untuk kita” jawab
ibu. Aku pun turun untuk makan siang, aku makan sambil membaca buku
“Akktff…” jeritanku aku tercekik karena makan sambil membaca “Hati-hati
dong..” kata ibu sambil menyodorkan air minum “Belajar sih boleh tapi
nggak kayak gini juga kali Siska, belajarnya diberhentikan dulu ya Siska
sekarang kamu makan dulu, kalau kamu sakit nanti kamu tidak bisa ikut
ujian” nasehat ibu “Iya maafkan Siska ya… Bu”. Setelah makan aku
langsung ke kamarku untuk kembali belajar, malam pun tiba aku terus
belajar, ibu mengintipku kembali dari kejauhan “Anak itu, tak
berhenti-hentinya belajar semangat belajarnya sangat tinggi, seperti
karang yang tidak pernah hancur walaupun diterpa ombak yang sangat
besar” kata ibu.
Aku terus belajar tak ada lelah dan letih sedikit pun, kulihat jam
dinding sudah menunjukkan jam 22.00 WIB. Setelah beberapa menit aku pun
tertidur di atas meja belajaku, malam berganti dengan pagi “Kring…
Kring…” bunyi jam wekkerku, aku pun terkejut mendengarnya “Adu.. aduh..
bagaimana ini sudah jam 05.25 WIB” ucap ku dengan wajah yang panik aku
pun langsung mandi aku shalat subuh, setelah itu aku memakai seragam
sekolahku dan aku pun langsung menyiapkan peralatanku untuk ujian nanti
tak lama kemudian terdengar suara teriak ibu dari ruang makan “Siska..
ayo sarapan nak!” aku langsung ke bawah untuk sarapan setelah sarapan
aku lansung mencium tangan kedua orangtuaku dan meminta do’a restu
“Ayah, Ibu do’akan Siska ya supaya bisa menjawab soal-soal nanti!” ayah
menjawabnya “Iya, kamu harus hati-hati menjawab soal itu” lain halnya
dengan ibu, ibu hanya tersenyum kepadaku setelah itu aku langsung pergi
menuju mobilku, setelah beberapa langkah ibu mengucapkan sesuatu “Siska
ingatlah Aku Belajar Setiap Waktu Batu Nisan Akan Menjadi Ijazahku” aku
pun membalasnya dengan senyuman yang manis dan aku pun langsung
berangkat ke sekolah.
Setiba di sekolah aku langsung duduk di tempat dudukku menurut nomor
ujianku. Sebelum lonceng berbunyi aku sempatkan untuk membaca buku
kembali, setelah beberapa menit pak guru menghampiriku “Siska ayo ambil
kertas ini,” ucap pak guru “Maaf ya Pak, kertas ini apa?” jawabku
“Kertas ini berisi kunci jawaban UN mata pelajaran sekarang” jawab pak
guru “Maaf ya Pak, bukannya Siska menolak atau sombong. Tapi, Siska
nggak mau menerimanya Pak” jawabku “Kenapa kamu nggak mau menerimanya?”
tanya pak guru “Karena, Siska sudah belajar sungguh-sungguh dari pagi
sampai malam Pak, kalau Siska menerima kunci itu, percuma saja Siska
belajar selama ini Pak” jawabku, pak guru termenung sejenak “Ya sudah
sekarang kunci itu Pak Guru berikan saja kepada teman-teman yang lebih
membutuhkan itu” ucapku “Hmmm, ya sudah Siska, Pak Guru pergi dulu ya”
kata pak guru
Tak lama kemudian lonceng sekolah pun berbunyi itu merupakan tanda
waktunya masuk jam ujian yang pertama “Selamat pagi anak-anak” ucap bu
guru, para siswa menjawab dengan serentak “Selamat pagi bu” bu guru
langsung memberi kan soal dan lembar jawaban siswa “Anak-anak, dalam UN
sekarang kita memiliki 20 paket soal” para siswa pun menjawab soal itu
dengan teliti tak terkecuali dengan aku, sebelum aku menjawab soal-soal
aku berdo’a kepada ALLAH SWT terlebih dahulu supaya aku diberikan
keringanan untuk menjawab soal-soal UN, setelah itu baru aku menjawab
soal-soal itu.
Tiga jam berlalu “Teng.. teng.. teng..” bunyi lonceng sekolah yang
pertanda jam ujian hari ini telah habis saatnya untuk pulang “Nah..
Anak-anak kumpulkan soal-soal dan kertas lembaran jawaban kalian,
setelah itu kalian boleh pulang!” perintah bu guru. Aku pun pulang ke
rumah setelah sampai di rumah aku langsung menuju kamar “Huffft rasanya
lelah sekali” kataku, tanpa mengganti seragam aku pun tidur
siang.Setelah beberapa jam aku pun bangun “Hahh.. ya ampun aku tidur,
tanpa mengganti seragam sekolahku” ucapku sambil tergesa-gesa aku pun
mengganti seragamku.
Tiga hari telah berlalu “Yess… akhirnya selesai juga UN, tapi
bagaimana ya? jika aku tidak lulus” dengan wajah bahagia sedikit cemas,
“Haa.. apa-apaan sih, kok mikirnya kayak gitu. Hmm, sabar Siska kamu
pasti LULUS kok!” ucap kata hatiku. Setelah beberapa hari, besoknya
merupakan puncaknya yaitu pengumuman hasil LULUS atau TIDAK LULUS
malamnya mataku susah untuk dipejamkan “Huuh.. kok jadi deg-degan gini
sih!” ucapaku. Jam telah menunujukkan pukul 09.00 WIB aku tidak bisa
tidur sampai jam 10.00, tak lama kemudian aku pun tertidur.
Paginya “Kring… kring..” bunyi jam wekkerku, aku pun terkejut dan
langsung bangun, “Aduhh… aku telat nih!” ucapku sambil berlari menuju
kamar mandi, setelah mandi aku memakai seragam sekolahku, jam telah
menunjukkan 06.32 WIB aku pun tergesa-gesa olehnya, aku pun pergi ke
ruangan makan untuk sarapan setelah sarapan aku mencium kedua tangan
orangtuaku.
Ayah dan ibuku pun memberi nasehat sebelum aku pergi kesekolah
“Siska… Kalau sudah tiba di sekolah kamu jangan takabur ya, walaupun
perasaanmu mengatakan bahwa kamu pasti LULUS dan apabila kamu tidak
lulus jangan bersedih dan berkecil hati karena kegagalan merupakan kunci
dari kesusesan dikemudian hari, Ayah mengerti perasaan kamu misalkan
kamu tidak lulus pasti ada tergores di hati kamu kepedihan yang sangat
sakit namun itu harus kamu terima dengan lapang dada, mungkin itu
merupakan suratan takdirmu dan jangan menyerah untuk mencapai
kenginan-keinginan kamu ya!” nasehat ayah, “Baik, Yah!” jawabku.
Langkah demi langkah kulalui, “Bismillahhirahmani’rahim” Kataku, aku
pun masuk ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah, setiba di sekolah
semua teman-temanku berbaris di Mading (Majalah Dinding) untuk menunggu
pengumuman ditempelkan “Siska… Kamu pasti LULUS soalnya kamu akhir-akhir
ini pintar lho!” kata temanku, aku hanya membalasnya dengan senyuman
dan aku pun teringat pada pesan ayah kalau aku tidak boleh takabur.
Setelah satu jam, pengumuman itu pun ditempelkan dimading ”Yesss”
teriak histeris siswa-siswi yang LULUS, ada yang menangis, ada yang
pingsan, dan ada juga yang tertawa sambil menangis. Aku pun langsung
melihat namaku di pengumuman itu ternyata oh ternyata aku pun LULUS
“Yeah…” teriakku, “Ya.. Allah terimakasih.. Ya Allah, tanpamu aku tidak
bisa LULUS” kataku.
Aku pun pulang untuk memberitakannya kepada ibu dan ayah, setelah
tiba di rumah “Ibu.. Ibu aku pulang Bu!” teriakku memanggil ibu “Iya..
ada apa?” jawab Ibu. Ibu pun menghampiriku “Kenapa?” tanya Ibu “Aku
LULUS Bu.. Aku LULUS” kataku “Wah.. bagus deh” jawab ibu dengan senyuman
yang manis, nanti kamu kasih tau ayah ya!” perintah ibu, “Baik Bu”
jawabku.
Malam pun tiba “Siska.. Siska ayo turun nak! kita makan” teriak Ibu,
“Iya.. Bu” jawabku dan aku pun turun untuk makan malam, setelah makan
ayah bertanya kepadaku “Siska kamu sudah lihat pengumuman LULUS atau
TIDAK LULUS?” aku pun menjawabnya “Sudah Yah”, “Apakah… kamu LULUS”
tanya ayah lagi “LULUS kok Yah” jawabku dengan hati yang riang “Hmm..
bagus deh setelah keluarnya Ijazah kamu langsung mendaftar kuliah
perguruan tinggi ya!” perintah ayah, “Baik Yah” jawabku “Karena kamu
LULUS Ayah aku memberi hadiah kepadamu” kata ayah “Wow.. apa itu Yah”
jawabku dengan hati yang sangat riang “Kak.. bawa kesini hadiahnya”
perintah ayah. Kakak pun mengambil hadiah itu dan memberikannya kepada
ayah “Nah.. ini hadiahnya Siska” kata ayah, aku pun mengambil hadiah itu
dan membukanya “Apaan sih hadiahnya aku kan jadi penasaran?” jawabku
sambil membuka hadiah itu, ternyata hadiahnya itu adalah sebuah kertas
kecil yang berisikan tentang Pergi Liburan “Wah.. beneran Yah tapi
kemana Yah?” tanyaku “Kemana ya? kalau menurut Ayah lebih baik kita
pergi ke museum tempat peninggalan Sejarah Indonesia” jawab ayah “Wah…
Ide yang bagus tuh Yah, ehh tunggu dulu deh Yah ngomong-ngomong Ayah
dapat ide dari mana Yah?” tanyaku “Ohh.. soal itu Ayah dari Ibu lho,
tadi Ayah sudah ditelpon Ibu kalau kamu LULUS dan Ayah berpikir bahwa
Ayah akan pergi liburan bersama Ibu dan kalian semua dilibur semester
nanti” jawab ayah “Makasih ya Ayah, Ibu, dan Kakakku yang cantik serta
Adikku yang baik” kataku “Iya sama-sama” jawab ayah ibu, kakak, adikku
dengan nada yang serentak kami pun tertawa riang bersama dengan suasana
keluarga yang hangat..
Setelah makan aku pun menuju kamar untuk tidur “Wah.. tak kusangka
semua yang aku lakukan berujung kemanisan, terimakasih Ya Allah SWT”
ucapku, “Cie.. cie ada yang lagi seneng nih” kata kakakku di depan pintu
“Ahh.. Kakak ada-ada saja kebahagianku juga kebahagian Kakak juga kan?”
jawabku, kakakku tersenyum kepadaku dan pergi berlalu, jam telah
menunjukkan 20.00 WIB, tak lama kemudian aku pun tertidur.
Pagi pun tiba aku pun pergi ke sekolah untuk mengambil Ijazahku
setelah tiba di sekolah aku pun langsung mengambil dan meminta tanda
tangan kepala sekolahku untuk Ijazahku. Setelah itu aku pun pulang dan
membantu ibu di dapur, dua minggu telah berlalu, aku menerima pengumuman
dari temanku bahwa telah dibuka calon Mahasiswa dan Mahasiswi baru di
Universitas Pajdjajaran dan aku pun langsung melamar dan mendaftarkan
diri ke Universitas Pajdjajaran dengan persyaratan yang sudah
ditentukan.
Setelah selesai aku pun pulang, hari demi hari pun telah berlalu, air
terus mengalir, roda terus berputar, silih pun berganti dengan seiring
keluarnya hasil penerimaan calon mahasiswa dan mahasiswi di Universitas
tersebut “Assalammualaikum..” teriak petugas Universitas
“Walaikumsalam.. maaaf Bapak siapa ya?” tanyaku “Saya ini, merupakan
petugas dari UNPAD yang membawa hasil pengumuman penerimaan calon
mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Pajdjajaran” jawabnya sambil
menyodorkan amplop yang berisi pengumuman tersebut “Oh.. makasih ya
Pak!” jawabku “Iya sama-sama ya Dek”. Aku pun membuka isi amplop itu
ternyata isinya adalah aku diterima menjadi mahasiswa Universitas
Padjjajaran, dan aku pun langsung memberitahukan kepada kedua orangtuaku
dan kakakku.
Hari demi heri berganti dan seiring tibanya libur semester. Aku dan
keluargaku pun pergi liburan ke Museum tersebut. Setelah puas melihat
peninggalan sejarah yang beranekaragam aku pun pulang ke rumahku.
Setelah satu minggu kemudian tibalah saatnya aku masuk hari pertama
kuliah “Ayah… Ibu aku berangkat kuliah dulu ya!” ucapku “Iya..” kata
ayah aku pun mencium tangan kedua orangtuaku “Oh..iya Yah, Kakak kemana
ya dari tadi Siska gak lihat Kakak?” tanyaku kepada Ayah “Oooo.. Kakak,
tadi pagi dia sudah berangkat subuh-subuh katanya sih pergi percobaan
kuliahnya di Bank” jawab ayah “Owwh… kalau gitu Yah, Siska pergi dulu ya
Yah, Ibu” kataku “Iya.. hati-hati di jalan ya!” kata Ayah “Ok Yah”
jawabku. Aku pun menuju mobil “Ayo Pak kita jalan” perintahku kepada pak
supir.
Aku pun tiba di Universitas Padjajaran dan mulai mengenal selah belik
Universitas ini dan mengalami masa Ospek setelah masa Ospek aku
mendapatkan banyak teman. Setelah beberapa hari kuliah aku pun merasakan
bagaimana rasanya mengecap sebagai Mahasiswi baru dan setelah itu aku
pun menjalani kehidupanku yang lebih baik dari biasanya dengan senyuman.
Nah kawan-kawan beginilah ceritaku semasa SMA hingga sekarang aku
kuliah, oh iya teman-teman jangan mengambil sikap yang negatif aku ya,
karena itu tidak baik. Teman-teman boleh kok ambil sikap positif aku,
dan jangan lupa ya teman-teman Disiplin itu penting lho karena itu
merupakan kunci dari meraih kesuksesan, Oh iya udah dulu ya! sampai
jumpa episode versi yang lainnya ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar