Tarian hujan di atas genting semakin meramaikan pementasan alam malam
ini. Belum lagi nyanyian gerimis yang menjadi pembuka acaranya.
Sempurna memang. Sesempurna Tuhan yang telah menciptakan sesosok bunda
kepadaku. Walaupun bunda tidak mengindahkan kehadiranku. “Kamu mati
saja” bosan aku mendengarya. kalimat itu yang selalu bunda lontarkan
kepadaku.
“Kamu dari mana saja tolol?” jam segini baru pulang. Kamu enggak lihat di luar hujan deras?”
“Maaf bun, tadi di sekolah ada pelajaran tambahan.” Aku menjawabnya senang. Setidaknya bunda menghawatirkannya.
“Apa kamu senyum-senyum Dera? cepat siapkan makan untuk nanti”
Kutundukan kembali kepalaku, senyumku redup setelah sedikit menyala tadi. “Ah bunda. Tak peduli seberapa keras kau meyuruhku mati. Aku akan tetap hidup untuk menjagamu” gumamku sambil berjalan ke arah dapur.
,
“Maaf bun, tadi di sekolah ada pelajaran tambahan.” Aku menjawabnya senang. Setidaknya bunda menghawatirkannya.
“Apa kamu senyum-senyum Dera? cepat siapkan makan untuk nanti”
Kutundukan kembali kepalaku, senyumku redup setelah sedikit menyala tadi. “Ah bunda. Tak peduli seberapa keras kau meyuruhku mati. Aku akan tetap hidup untuk menjagamu” gumamku sambil berjalan ke arah dapur.
Seperti biasa. Suara sendok yang bertabrakan dengan piring menghiasi
makan malam yang sunyi. Bagaimana tidak. Di terlas ini hanya ada dua
orang wanita. Aku dan Bunda. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan
ayahku. Pernah aku menanyakan tentang ayah kepada bunda. Tapi bunda
memarahiku sambil berkata “Ayah? kamu mati dulu baru bisa bertemu dengan
ayahmu itu di neraka”. Bunda merawatku seorang diri sampai sekarang
berumur 16 tahun. Bicara bunda memang kasar. Belum lagi tangannya yang
selalu aktif memukul badanku saat bunda marah. Tapi aku belum menemukan
alasan untuk bisa membenci bunda hanya karena sikap bunda.
Makan malam pun selesai. Bunda langsung kembali ke kamarnya tanpa
sekalipun melihat ke arahku. “Selamat malam bunda” kataku sambil
melambaikan tangan ke arah kamar bunda.
Pagi harinya. “Dera. Cepat bangun!” tangannya memukul-mukul pipiku
keras. Aku langsung bangun sambil memegang pipiku. Sakit rasanya.
Setibanya di sekolah, guru dan semua teman menanyakan kenapa pipiku biru dan bengkak. Aku hanya menjawab aku jatuh di jalan.
“Bunda, kenapa bunda sangat membenciku” bisiku sambil mengetuk pintu
rumah. Bunda pun membukanya. “Sini bodoh, kenapa kamu tadi tidak sarapan
dulu sebelum berangkat sekolah?” Ibu kembali bertingkah brutal. Ibu
melemparkan piring kaca berisi nasi ke kakiku. Kakiku berdarah tapi
bunda terus saja melempari barang ke arahku. “Ampun bun, tadi aku
buru-buru berangkatnya. Jadi tidak sempat sarapan”. Tapi bunda malah
menjambak rambutku. Ingin rasanya aku berontak melawan bunda. Tapi rasa
sayangku ke bunda selalu menahanku agar jangan terpancing. Aku hanya
diam menahan sakitku. Sampai akhirnya bunda kelelahan memukuliku. Dia
pun pergi meninggalkanku yang babak belur.
Siang hari aku disuruh bunda membeli obat ke warung. Di jalan
orang-orang melihatku. Mereka sudah tau siapa yang membuatku menjadi
begini. Warga sini memang sudah terbiasa melihat aku dipukuli Bundaku.
Sesudah membeli obat, aku singgah dulu makan bakso yang ada di dekat
warung itu. Saat aku sedang melahap bakso itu. Ada seseorang menariku,
dan itu bunda. “Kamu disuruh beli obat malah makan bakso. Kamu ini bego
apa?” ucapnya keras. Semua pembeli disana menatapku iba. Aku dipukul
lalu diseret ke rumah. Di rumah aku menangis sekerasnya. Bukan karena
pukulannya yang keras itu. Tapi karena sakit hati. Tadi ketika ibu
memukuliku, orang berkata kalau ibuku sudah gila. Aku sesak mendengarnya.
Ternyata obat itu bunda berikan kepadaku. Sewaktu tadi bunda
memukulku. Tak sengaja bunda menyentuh keningku. Suhu badanku panas.
“Makan obat itu” kata bunda melangkah pergi. Aku bahagia bukan main.
Tapi kenapa bunda terus bersikap seperti itu? Aneh.
Seperti biasa makan malam malam yang sunyi menghiasi kami. Tak
sengaja aku menjatuhkan gelas sampai pecah. Aku tau bunda akan
menyergapku lalu menonjok badan yang sudah bengkak ini. Seperti biasa,
aku hanya diam menahan sakitnya bunda menyiksaku. Tapi kali ini terasa
beda. Pukulan bunda tak bertenaga. Aku khawatir. Selepas bunda pergi,
aku lihat bunda ke kamar. Bunda sedang terbaring lemah disana. Wajahnya
sangat pucat. “Bunda. Bunda kenapa?” sambil mengelus rambut bunda. Bunda
menepis tanganku. “Kamu itu anak haram Dera. Kamu terlahir dari gadis
yang hamil di luar nikah. Dan ayahmu. Ayahmu mati tertabrak mobil
saat dia akan kabur meninggalkan bunda”. Aku tertergun dengan ucapan
bunda. Aku menangis di kamar sampai tertidur. Ah tapi aku tak
memperdulikannya.
Pagi ini tak ada pukulan bunda menyapaku. Aku langsung pergi ke kamar
bunda. Ternyata bunda masih terbaring disana. Dan, bunda tidak sadarkan
diri. Aku langsung membawanya ke rumah sakit. Bunda pun dirawat disana.
Aku tidur di sampingnya. Air
mataku turun saat memegangi kakinya yang dingin. Aku teringat kata
dokter yang memeriksa bunda tadi. “Bundamu mengalami gagal ginjal. Dia
harus segera dioperasi. Kalau tidak…” ah aku tak mau mengingat kata
terakhirnya itu. Aku terus saja mencari orang yang mau mendonorkan
ginjalnya untuk bundaku. Dengan bayaran aku akan menjadi pembantunya
seumur hidup kepada pendonor itu. Sampai akhirnya…
Bunda bangun, matanya terlihat sayu. Dia mencari-cari seseorang, ya
Dera. Dimana Dera?. Bunda melangkahkan kakinya untuk mencari Dera.
Tangannya memegang perut yang masih sakit setelah operasi itu. Bruk
bunda bertabrakan dengan suster. Bunda menanyakan keberadaan Dera.
“Anakmu ada di ruang itu bu. Tadi beliau yang telah mendonorkan
ginjalnya”. Bunda kaget, anak yang sering disiksanya itu malah
menyelamatkan penjahatnya. “Dera siapa kamu? Mahluk apa kamu? Hatimu
bagai bidadari nak”. Bunda berencana akan meminta maaf kepada Dera.
Tangannya yang gemetar tidak sabar untuk memeluk Dera. Langkahnya
dipercepat. Dan sampailah di kamar itu. Tapi?
Ternyata hanya ada sesosok orang yang terbaring dan ditutupi kain
putih. “Maaf bu, anak ibu sudah tiada” ucap suster yang tadi. Bunda
langsung gontai. Suster membantu langkah bunda ke arah jasad Dera. Bunda
memanggil Dera histeris. Tangis bunda bergema di kamar itu. Bunda
memeluk jasad itu. Matanya melihat kertas di pinggir kasur lalu bunda
membukanya. Dan isinya adalah…
Bunda sayang. Bagaimana
operasinya? Sakit bun? Tapi itu tidak sesakit ketika aku melihat bunda
terbaring lemah di kasur pasien itu. Tak peduli seberapa banyak pukulan
yang kau layangkan ke badanku ini. Pada akhirnya aku tetap ingin
memeberikan ginjalku untukmu bun. Agar bunda sehat lagi. Bunda, aku
berterimakasih karena diizinkan tidur di rahimmu lalu dilahrikan dari
perjuanganmu. Aku senang sekali ketika bunda memukulku dengan tangan
bunda. Setidaknya ada sentuhan tangan dari kedua tanganmu bun. Oh ya
bun, aku selalu mencium pipi
bunda saat bunda tidur di malam hari. Senang rasanya bun. Bunda aku
ingin bertahan sampai bunda lelah memukulku bun. Tak peduli seberapa
sakitnya itu. Karena aku hanya ingin menjagamu “SAMPAI KU MENUTUP MATA”.
Aku menyayangimu bun, lebih dari aku menyayangi diri sendiri. Selamat
tinggal bun. Hiduplah dengan baik.
Putrimu, Dera.
Cerpen Karangan: Dae Husaini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar