Secuil kisah tentangku yang merupakan gadis kecil anak kampung yang
tinggal di sisi pinggir kota besar. Aku Sriami Wulandari anak pertama
dari keluarga kecilku. Keluarga kecil yang bisa dibilang berkecukupan
meski tidak lebih seperti halnya teman-temanku. Ayahku bekerja hanya
sebagai buruh sampah di sebuah pabrik. Sedangkan ibuku sebagai PRT. Bisa
dibayangkan berapa penghasilan yang di dapat dari orangtuaku setiap
bulannya.
Kadang terselip dalam hati kecilku rasa iri melihat teman-temanku
semua. Dan tak jarang ku habiskan waktuku hanya untuk berandai-andai
jika aku menjadi orang kaya.
Pasti semua akan tercukupi atau bisa dibilang lebih dari cukup. Aku mau
ini atau itu tak perlu pikir panjang lagi. Tak perlu menunggu sampai
tabunganku tercukupi., Semua bisa dibeli sesuka hati jika menjadi orang
kaya. Tapi sayang semua tak bisa ku nikmati di dunia nyataku. Di bumi
tempatku berpijak dan juga tak ku dapatkan pada kondisi keluargaku.
Ahh, tak seharusnya aku mengeluh dan terus larut dalam angan-angan
kosongku. Tak sepatutnya juga aku meminta lebih dari apa yang sudah ada
sekarang. Sama halnya aku mencekik kedua orangtuaku sendiri jika aku
terus seperti ini.
“Ayo dong ami sadar, sadar jangan terus-terusan berangan-angan ndak jelas gini. Lihat dong realita yang ada.” Desahku pada diri sendiri sembari menampar pipi dengan pelan.
“Maafkan aku ya Allah.” Cetusku pelan.
“Ayo dong ami sadar, sadar jangan terus-terusan berangan-angan ndak jelas gini. Lihat dong realita yang ada.” Desahku pada diri sendiri sembari menampar pipi dengan pelan.
“Maafkan aku ya Allah.” Cetusku pelan.
Di sebelah barat terlihat matahari tengah kembali keperaduannya
pertanda akan datangnya malam. Menit demi menit telah berlalu terdengar
adzan maghrib berkumandang. Aku pun bangun dari ranjang kesayanganku dan
bergegas mengambil air wudhu. Aku jalankan perintah agamaku. Selesai shalat aku haturkan doa pada sang pencipta dan berharap akan penghapusan dosa, kemuliaan, sekolah serta rezeki untuk kedua orangtuaku.
Selesai shalat aku dan keluarga makan malam bersama-sama. Menikmati masakan super lezat buatan ibuku tercinta.
“Ayo-ayo makanan sudah siap.” Teriak ibu memanggil.
“Yee menu lezat dari masterchef kita udah di hidangkan dik.” Jawabku sambil berlari kecil bersama adikku.
“Woow enak nih masakannya. Ibu tau deh makanan favoritku sama adik apa. Ya ndak dik?” cetusku saat melihat masakan ibu.
“Iya mbak. Ibu baik ya.” Jawab adikku singkat sambil mengambil makanan ke piringnya.
“Udah-udah ayo makan jangan bicara aja.” Sahut ibuku.
“Iya bu. Sayang ya bapak belum pulang jadi tidak bisa makan bareng.” Kataku.
“Namanya juga masih kerja. Jadi ya belum pulang sayang. Udah sekarang kita makan dulu aja.” Jawab ibuku.
“Ayo-ayo makanan sudah siap.” Teriak ibu memanggil.
“Yee menu lezat dari masterchef kita udah di hidangkan dik.” Jawabku sambil berlari kecil bersama adikku.
“Woow enak nih masakannya. Ibu tau deh makanan favoritku sama adik apa. Ya ndak dik?” cetusku saat melihat masakan ibu.
“Iya mbak. Ibu baik ya.” Jawab adikku singkat sambil mengambil makanan ke piringnya.
“Udah-udah ayo makan jangan bicara aja.” Sahut ibuku.
“Iya bu. Sayang ya bapak belum pulang jadi tidak bisa makan bareng.” Kataku.
“Namanya juga masih kerja. Jadi ya belum pulang sayang. Udah sekarang kita makan dulu aja.” Jawab ibuku.
Seusai makan malam ibu menyuruh aku dan adik untuk belajar. Ya sudah
aku langsung terbang menuju kamar mencari santapan-santapan untuk
bekalku kelak. Yups, waktunya belajar menyiapkan pelajaran besok. Aku
belajar bersama adik sekaligus mengajari adikku juga. Susah susah
gampang mengajari adikku yang satu ini. Ya begitulah anak cowok main terus yang dipikirkan.
Tak terasa jam dinding mungil telah menunjuk angka 21.00. pertanda
kami harus menyudahi belajar malam ini dan beranjak untuk menjelajah ke
pulau mimpi. Tapi sebelumnya shalat isya’ terlebih dahulu karena tadi
belum menjalankan perintah-Nya. Sesudah bermunajat pada sang khalik aku
menyiapkan pelajaranku untuk besok pagi agar tidak ada yang ketinggalan.
“AKB sudah B.Indonesia sudah Matematika sudah SEBUD sudah. Oke semua sudah siap.” Kataku sambil memasukkan buku ke dalam ransel mungilku.
“Siipp waktunya pergi ke pulau mimpi. Akan mimpi apa ya aku malam ini?” Cetusku seorang diri sambil senyum-senyum sendiri.
“AKB sudah B.Indonesia sudah Matematika sudah SEBUD sudah. Oke semua sudah siap.” Kataku sambil memasukkan buku ke dalam ransel mungilku.
“Siipp waktunya pergi ke pulau mimpi. Akan mimpi apa ya aku malam ini?” Cetusku seorang diri sambil senyum-senyum sendiri.
Di sana terlihat ranjang kesayanganku memanggilku. Bantal dan guling
seraya melambaikan tangannya yang berharap agar aku segera berlari kecil
menghampirinya. Seakan-akan mereka siap mengantarkan tuan puteri ini
menuju pulau mimpi yang di idam-idamkannya. Aku pun berlari kecil dan
segera merebahkan tubuh mungil ini ke ranjang kesayangan sembari
mendekap guling empuk seukuran lebih kecil dariku.
Samar-samar terdengar seruan adzan subuh membangunkanku dan
membuyarkanku mimpi yang tak jelas itu. Perlahan-lahan ku mencoba
mengumpulkan nyawaku yang belum kembali ke raga ini. Dan aku pun segera
mandi membersihkan tubuh ini dan menjalankan shalat subuh. Seusai shalat
subuh ku sempatkan sedikit waktu untuk membaca ayat suci Al-Qur’an
meski hanya sedikit. Selesai mengaji aku segera ganti pakaian seragam.
Jam dinding menunjuk pukul 05.30 dan aku senyum-senyum sendiri.
“Ayo mi cepat sedikit nak sudah jam berapa ini? Buruan makan nanti terlambat kamu. Teriak ibu yang sudah aku tebak sebelumnya makannya aku senyum-senyum sendiri.
“Iya-iya bu. Aku sudah siap kok dari tadi.” Jawabku seraya menghampirinya.
“Hmm enak nih masakannya.” Saat melihat menu masakan ibuku.
“Udah ayo makan sana makananmu.” Jawab ibuku singkat.
“Ayo mi cepat sedikit nak sudah jam berapa ini? Buruan makan nanti terlambat kamu. Teriak ibu yang sudah aku tebak sebelumnya makannya aku senyum-senyum sendiri.
“Iya-iya bu. Aku sudah siap kok dari tadi.” Jawabku seraya menghampirinya.
“Hmm enak nih masakannya.” Saat melihat menu masakan ibuku.
“Udah ayo makan sana makananmu.” Jawab ibuku singkat.
Selesai makan aku pun berpamitan ke orangtuaku dan mencium
tanngannya. Bergegas keluar rumah dan mengambil sepeda yang selalu setia
menemaniku kemanapun. Sepedaku menjadi saksi bisu dalam bagaimana aku
menggapai ilmu selama ini. Selama 12 tahun dia
telah menjadi kekasihku dan selalu menemani mengarungi hidup. Aku saat
ini duduk di bangku SMK kelas XII AKUNTANSI 5. Bersekolah di sekolah negeri di Surabaya yaitu SMKN 1 SURABAYA.
“Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah aku sekolah mencari ilmu. Berkahi dan berikan ridha-Mu supaya hari ini lancar serta ilmu yang aku terima dapat bermanfaat untukku dan orang lain.” Kata-kata yang selalu aku sematkan dalam hati sebelum ku kayuh sepeda untuk berangkat sekolah.
“Aku berangkat. Assalamu’alaikum.” Pamitku ke orangtua.
“waalaikumsalam. Hati-hati di jalan dan sungguh-sungguh dalam belajar.” Teriak ibuku.
“Iya bu.” Jawabku sebelum menghilang dari tikungan.
“Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah aku sekolah mencari ilmu. Berkahi dan berikan ridha-Mu supaya hari ini lancar serta ilmu yang aku terima dapat bermanfaat untukku dan orang lain.” Kata-kata yang selalu aku sematkan dalam hati sebelum ku kayuh sepeda untuk berangkat sekolah.
“Aku berangkat. Assalamu’alaikum.” Pamitku ke orangtua.
“waalaikumsalam. Hati-hati di jalan dan sungguh-sungguh dalam belajar.” Teriak ibuku.
“Iya bu.” Jawabku sebelum menghilang dari tikungan.
Aku berangkat seorang diri karena memang di kampungku tidak ada yang
satu sekolah denganku. Tapi tak jarang aku bertemu anak dari AK lain
jadi kita berangkat bersama-sama atau juga ada adik-adik sd yang
biasanya mengajakku untuk balap sepeda sampai di seberang tikungan
sebelum mereka menghilang. Tapi hari ini tak ketemui mereka semua. Tapi
meski begitu tak mengurangi semangatku yang membara di pagi hari ini. Ku
kayuh sepedaku lebih cepat dari sebelumnya agar aku segera sampai.
Sesampai di sekolah terlihat gerombolan teman-temanku sekelas. Ternyata pada banyak yang tidak sengaja bertemu disini.
“Pagi kawan-kawan.” Sapaku ke mereka.
“Pagi Amiii. Ayo-ayo bareng ke kelas.” Jawab mereka serempak.
“iya sebentar.” Kataku dengan membenarkan posisi sepedaku.
“Ndak capek ta mi ngontel tiap hari?” Tanya riza temanku.
“Ya lumayanlah dianggap olahraga aja jadi capeknya capek wajar gitu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Emang rumahmu jauh?” Tanya try.
“Ya ndak juga seh. Ayo kapan-kapan kerumahku biar tahu rumahku.” Ajakku ke mereka.
“Iya-iya boleh boleh mi.” jawab anak-anak antusias.
“Ngontel mah nggarai kentol gede tok mi.” kata salah satu temanku dengan ketusnya.
“Ya gak pa-palah mungkin udah resikonya. Yang penting aku bisa sekolah itu udah lebih dari cukup.” Jawabku.
“Aku ngunu mah yo isin.” Jawabnya seraya berlari mendahului kita semua.
“Hmm sudah jangan kau tanggapi omongan anak itu. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat dia kan? sabar aja hadepin dia mi.” nasehat dari sofi ketua kelasku.
“Hehehehe iya terserah apa kata dia aja. Yang penting bagiku cuman sekolah. Ngapain harus gengsi atau malu sama keadaan kita sendiri. Justru aku lebih malu lagi kalau aku sudah seperti ini tapi aku tidak mau usaha dan bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik.” Jawabku seraya menahan airmata agar tak menetes.
“Iyo-iyo bener iku mi.” balasnya dengan senyum dan dua jempol di acungkannya.
“Pagi kawan-kawan.” Sapaku ke mereka.
“Pagi Amiii. Ayo-ayo bareng ke kelas.” Jawab mereka serempak.
“iya sebentar.” Kataku dengan membenarkan posisi sepedaku.
“Ndak capek ta mi ngontel tiap hari?” Tanya riza temanku.
“Ya lumayanlah dianggap olahraga aja jadi capeknya capek wajar gitu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Emang rumahmu jauh?” Tanya try.
“Ya ndak juga seh. Ayo kapan-kapan kerumahku biar tahu rumahku.” Ajakku ke mereka.
“Iya-iya boleh boleh mi.” jawab anak-anak antusias.
“Ngontel mah nggarai kentol gede tok mi.” kata salah satu temanku dengan ketusnya.
“Ya gak pa-palah mungkin udah resikonya. Yang penting aku bisa sekolah itu udah lebih dari cukup.” Jawabku.
“Aku ngunu mah yo isin.” Jawabnya seraya berlari mendahului kita semua.
“Hmm sudah jangan kau tanggapi omongan anak itu. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat dia kan? sabar aja hadepin dia mi.” nasehat dari sofi ketua kelasku.
“Hehehehe iya terserah apa kata dia aja. Yang penting bagiku cuman sekolah. Ngapain harus gengsi atau malu sama keadaan kita sendiri. Justru aku lebih malu lagi kalau aku sudah seperti ini tapi aku tidak mau usaha dan bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik.” Jawabku seraya menahan airmata agar tak menetes.
“Iyo-iyo bener iku mi.” balasnya dengan senyum dan dua jempol di acungkannya.
Ya, seperti inilah kehidupan yang aku jalani. Ada sebagian
teman-temanku yang menghargai dan menyemangatiku. Ada pula yang
mencibirku dengan sesuka hatinya. Apapun yang mereka kicaukan tak pernah
ku tanggapi. Karena mereka tidak pernah merasakan berada di bawah
makannya dia tidak tahu bagaimana kerja kerasku dan keluarga memupuk dan
membangun semangat dan rasa kuat dalam hati meski sebenarnya kita lemah
dan ingin memungkiri semua ini. Celoteh dari mereka aku jadikan
motivasi dan cabuk agar aku bisa lebih baik. Agar aku bisa tunjukkan
kepada mereka aku bisa lebih melampaui dari dia meski derajat kita tak
sama.
Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Jam dinding menunjuk pukul
14.50 sudah waktunya pulang saja. Bel pulang sekolah berbunyi alunan
mars sekolah menjadi pertanda usainya pelajaran hari ini. Sorak sorai
anak-anak terdengar di dalam kelas. Ya, kita sudah kelas XII tapi
perangai kita masih ke kanak-kanakan. Seusai berdoa anak-anak
berhamburan keluar meninggalkan kelas.
Begitu juga denganku ku langkahkan kakiku menghampiri sepedaku
tersayang. Segera ku pulang karena masih ada tugas rumah yang harus ku
kerjakan. Sesampai di rumah.
“Assalamu’alaikum bu.” Ku ucapkan salam.
“Assalamu’alaikum bu.” Ku ucapkan salam.
Tapi rumah masih sepi tak terdengar balasan salamku dan tak tampak
sosok ibu cantikku di rumah begitu juga adikku. Ya berarti ibuku belum
pulang dari kerja. Mungkin adik lagi main juga. Aku lekas ganti pakaian
dan membersihkan rumah membantu ibu. Setelah itu mandi dan shalat
ashar.
Masih ada waktu luang sejenak ku gunakan untuk rehat dari aktivitas
seharian ini. Aku pun melihat TV. Tapi tiba-tiba aku teringat akan
perkataan dari temanku tadi. Terselip rasa sakit hati tapi juga greget
untuk maju. Aku pun mengambil buku diary ku dan seperti biasa akan
terselip goresan penaku disana. Selalu ini yang aku lakukan jika aku
punya rasa tak tentu. Setidaknya dengan ini aku merasa sedikit lebih
lega.
Dear diary,
hari ini aku semangat sekali mengawali hari. Tak ingin tersaingi sinar cerah layaknya mentari pagi. Tapi setelah aku bertemu dengan dia. Dan karena cibirannya aku merasa down. Ada rasa sakit hati juga, tapi ya sudahlah akan aku jadikan motivasi untuk jauh lebih baik lagi.
Penggugah semangatku untuk masa depanku. Goresan penaku:
RIBUAN MIMPI
Tatapan nanar menyapu seisi langit kamar
Pandangan kosong memikirkan tujuan hidup kedepan
Gelap gulita tanpa secercah cahaya
Hitam pekat tanpa goresan tinta warna
Tuhan
Haruskah aku seperti ini terus menerus
Tidak…
Tak mungkin aku terlahir tanpa tujuan hidup
Tak mungkin aku akan berdiam diri tanpa langkah
Tuhan
Apa rencanaMu untukku?
Aku yakin Engkau telah gariskan masa depanku
Dan juga langkah yang harus kutempuh
Tunggu siapa disana?
Sekilas bayangan ku tangkap dalam mataku
Sosok bayangan yang menjadi motivasiku
Sosok yang membuatku berani tuk bermimpi
Walau beribu-ribu banyaknya tanpa rasa takut
Sosok itu adalah keluargaku
Tanpanya tak berarti ku disini
Tanpanya tak ku miliki semangat juang
Keluargaku adalah motivasiku
Kini…
Kubuang gengsi
Kan ku songsong masa depanku
Kan ku kayuh ribuan mimpi
Ribuan mimpi perubah masa depanku
SW.A_Ami
hari ini aku semangat sekali mengawali hari. Tak ingin tersaingi sinar cerah layaknya mentari pagi. Tapi setelah aku bertemu dengan dia. Dan karena cibirannya aku merasa down. Ada rasa sakit hati juga, tapi ya sudahlah akan aku jadikan motivasi untuk jauh lebih baik lagi.
Penggugah semangatku untuk masa depanku. Goresan penaku:
RIBUAN MIMPI
Tatapan nanar menyapu seisi langit kamar
Pandangan kosong memikirkan tujuan hidup kedepan
Gelap gulita tanpa secercah cahaya
Hitam pekat tanpa goresan tinta warna
Tuhan
Haruskah aku seperti ini terus menerus
Tidak…
Tak mungkin aku terlahir tanpa tujuan hidup
Tak mungkin aku akan berdiam diri tanpa langkah
Tuhan
Apa rencanaMu untukku?
Aku yakin Engkau telah gariskan masa depanku
Dan juga langkah yang harus kutempuh
Tunggu siapa disana?
Sekilas bayangan ku tangkap dalam mataku
Sosok bayangan yang menjadi motivasiku
Sosok yang membuatku berani tuk bermimpi
Walau beribu-ribu banyaknya tanpa rasa takut
Sosok itu adalah keluargaku
Tanpanya tak berarti ku disini
Tanpanya tak ku miliki semangat juang
Keluargaku adalah motivasiku
Kini…
Kubuang gengsi
Kan ku songsong masa depanku
Kan ku kayuh ribuan mimpi
Ribuan mimpi perubah masa depanku
SW.A_Ami
Aku harus rajin belajar sungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Aku tahu
bagaimana keadaan keluargaku. Aku tahu bagaimana kerja keras yang
dilakukan orangtuaku hanya untuk menyekolahkan aku dan adikku. Rasa
lelah dan badan sakit semua tak pernah mereka rasakan. Tak pernah
sedikit pun mereka tunjukkan pada kami. Selalu terlihat seulas senyum
menghias wajah-wajah mereka tanpa mengeluh. Senyum tulus seolah tanpa
adanya beban. Meski seringkali bapak lembur hanya untuk mencari tambahan
uang.
Tugas yang menumpuk bagai sebuah gunung, ujian yang dulu menghantui
dan semua kegiatan kelas XII telah ku lalui beberapa bulan terakhir ini.
Dan tanpa kusadari lusa aku akan menghadapi UNAS.
“Ya Allah cepat sekali waktu berlalu. Serasa baru kemarin aku masuk menjadi siswi SMK dan kini hanya tinggal menghitung hari lagi aku akan melaksanakan kelulusan dan keluar dari sekolah ini.” Desahku dengan menggenggam kalender di tangan.
“Ada apa denganmu?” suara ibu membuyarkan lamunanku sesaat itu.
“Ndak pa-pa bu. Cuman sedikit takut dan khawatir untuk besok lusa.” Jawabku pelan dengan nada gemetar.
“Kenapa harus takut dan khawatir?” Tanya ibu padaku.
“Karena UNAS kan menentukan kelulusan bu. Aku takut kalau aku tidak lulus.” Jawabku lagi.
“Selama ini apa kamu malas-malasan belajar?” lagi ibu bertanya.
“Tidak juga. Aku berusaha keras belajar pagi, siang dan malam. Ibu juga tahu sendiri bagaimana usahaku.” Jelasku padanya.
“Lantas apa yang kamu takutkan? ingat kan Man Jadda Wa Jada. Barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Jadi, jika kamu kemarin belajar dengan serius semua akan memuaskan nantinya. Tetap berdoa, berusaha dan berserah diri padaNya.” Jelas ibuku dengan lembut.
“Iya bu. Terimakasih banyak. Doa kan ami ya bu untuk kelancaran dan hasilnya nanti.” Pintaku pada ibuku.
“pasti sayang doa ibu menyertaimu selalu.” Kata ibu seraya memelukku penuh hangat kasih sayang.
“Ya Allah cepat sekali waktu berlalu. Serasa baru kemarin aku masuk menjadi siswi SMK dan kini hanya tinggal menghitung hari lagi aku akan melaksanakan kelulusan dan keluar dari sekolah ini.” Desahku dengan menggenggam kalender di tangan.
“Ada apa denganmu?” suara ibu membuyarkan lamunanku sesaat itu.
“Ndak pa-pa bu. Cuman sedikit takut dan khawatir untuk besok lusa.” Jawabku pelan dengan nada gemetar.
“Kenapa harus takut dan khawatir?” Tanya ibu padaku.
“Karena UNAS kan menentukan kelulusan bu. Aku takut kalau aku tidak lulus.” Jawabku lagi.
“Selama ini apa kamu malas-malasan belajar?” lagi ibu bertanya.
“Tidak juga. Aku berusaha keras belajar pagi, siang dan malam. Ibu juga tahu sendiri bagaimana usahaku.” Jelasku padanya.
“Lantas apa yang kamu takutkan? ingat kan Man Jadda Wa Jada. Barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Jadi, jika kamu kemarin belajar dengan serius semua akan memuaskan nantinya. Tetap berdoa, berusaha dan berserah diri padaNya.” Jelas ibuku dengan lembut.
“Iya bu. Terimakasih banyak. Doa kan ami ya bu untuk kelancaran dan hasilnya nanti.” Pintaku pada ibuku.
“pasti sayang doa ibu menyertaimu selalu.” Kata ibu seraya memelukku penuh hangat kasih sayang.
4 hari telah kulewati UNAS telah kulahap habis dengan susah payah.
Kini aku hanya menunggu hasil pengumuman. Dag dig dug jantung terdengar
begitu keras. Aku dan sahabat-sahabatku saling berpelukan satu sama
lain. Satu per satu anak sudah mengetahui hasilnya. Menyebar dan semakin
menyebar luas. Harap-harap cemas aku dan sahabatku semoga hasilnya
sangat memuaskan.
“Selamat ya anak-anakku tercinta.” Kata wali kelasku.
“Bagaimana pak hasilnya?” Tanya anak seisi kelas serempak.
“Seperti yang bapak bilang tadi nak. Selamat kalian semua lulus dan sekolah kita lulus 100%.
“Yyyeee hhooorreee.” Sorak-sorai anak seisi bergema.
Saling memberi selamat satu sama lain, menangis bahagia dan terharu, saling berpelukan. Semuanya sujud syukur atas nikmat Allah SWT ini. Begitu juga dengan aku tiada kata syukur Alhamdulillah dan terimakasih untuk Allah SWT dan juga keluargaku terutama ibuku tercinta. Terlihat ada rasa bungah, lega dan bangga dari wajah kedua orangtuaku.
“Selamat ya anak-anakku tercinta.” Kata wali kelasku.
“Bagaimana pak hasilnya?” Tanya anak seisi kelas serempak.
“Seperti yang bapak bilang tadi nak. Selamat kalian semua lulus dan sekolah kita lulus 100%.
“Yyyeee hhooorreee.” Sorak-sorai anak seisi bergema.
Saling memberi selamat satu sama lain, menangis bahagia dan terharu, saling berpelukan. Semuanya sujud syukur atas nikmat Allah SWT ini. Begitu juga dengan aku tiada kata syukur Alhamdulillah dan terimakasih untuk Allah SWT dan juga keluargaku terutama ibuku tercinta. Terlihat ada rasa bungah, lega dan bangga dari wajah kedua orangtuaku.
Terimakasih ya Allah untuk semuanya. Selama 3 tahun aku sekolah
dengan bersepeda. Keringat bercucuran karena terik matahari. Rasa lelah
capek karena selalu mengayuh sepeda setiap hari. Belajar pagi, siang dan
malam hari selalu kujalani. Kini semua sudah terbayarkan. Rasa lega dan
bangga akan hasil ujian kini dapat kurasakan. Rasa takut kemarin kini
telah lenyap. Kerja keras dan jerih payah orangtuaku kini membuahkan
hasil.
Satu mimpiku untuk lulus dengan hasil yang memuaskan dapat aku
wujudkan. Tapi mimpiku tak hanya berhenti disini. Masih ada ribuan mimpi
lainnya di luar sana, di depanku mataku kelak yang menunggu kehadiran
putri ami.
Aku memang terlahir dari keluarga kecil yang sederhana. Keluarga yang
susah buat mengingikankan sesuatu. Dan harus dengan pengorbanan penuh
dalam mewujudkannya. Maka dari itu disini aku punya mimpi atau cita-cita
bisa menjadi sebagai seorang Direktur Keuangan di suatu perusahaan
ternama. Dimana nantinya aku dapat membahagaikan kedua orangtuaku dan
keluarga lainnya. Meringankan beban kedua orangtuaku. Dan aku bisa
merasakan menikmati rasanya menjadi orang yang sukses, orang yang kaya.
Dan yang paling penting mengangkat derajat orangtuaku.
Satu telah ku dapatkan kini aku semakin bersemangat untuk meraih yang
di depanku. Aku inginkan wujudkan semuanya. Semua mimpi dan menjadikan
hobiku sebagai penunjang juga di masa depan. Meski kini aku sudah tidak
mengendarai sepeda tapi akan tetap ku kayuh ribuan mimpi menuju masa
depan yang gemilang. Kini aku akan menguasai ribuan mimpi-mimpi yang
akan aku taklukan.
Cerpen Karangan: Sriami Wulandari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar