Minggu, 27 April 2014

DIA IBUKU

Seperti biasa ketika aku sedang dilanda masalah yang berkaitan dengan urusan hati atau lebih suka ku sebut dengan perasaan, aku akan duduk di atas atap genteng rumah yang bewarna hijau lumut dan melamun disana. Melipat kedua kaki di dada dan memeluknya erat. Ku goyangngkan tubuh ke depan dan ke belakang. Aku yakin bila ada seseorang yang melihatku pasti akan mengira aku sedang ditiup angin. Hal itu di karena tubuhku yang kurus dan kecil. Bolehkah aku menggantinya dengan kata imut? Kata ‘kecil’ rasanya terlalu tidak aku sukai untuk sebutan fisikku.
Kembali ke cerita awal bagaimana aku bisa terdampar di atas genteng dan memandangi sekumpulan wanita disana yang mengelilingi gerobak si Mamang penjual sayur keliling di desaku. Aku melihat mereka tertawa, dan suara yang paling aku kenali adalah suara ibuku. Yah, beliau disana berkumpul dengan teman-temannya dan bergosip. Membicarakan masalah suami-suami mereka atau membicarakan anak-anak mereka. Saling menebar kesombongan dan keangkuhan. Aku benci saat-saat seperti itu. Aku benar-benar benci, karena ajang pamer kehebatan masing-masing akan membawa dampak bagiku.
Bagaimana caranya?
,

HARUS KUAT SEBAGAI ULAT


Seperti biasa, pada pagi buta Andi harus bersiap menuju sekolah dengan mengendarai sepeda butut kepunyaan ayahnya. Andi terlahir dari keluarga yang kurang berada, dimana dia harus mencari uang sendiri untuk keperluan sekolahnya. Seusai sholat subuh, Andi selalu memetik kangkung di rawa belakang rumahnya. Kegiatan ini rutin dilakukan demi memenuhi keperluan sehari-hari. Dengan singkong rebus sebagai sarapan pagi ditambah air tajin bekas mananak nasi, tampaknya perut Andi cukup bergembira karena telah mendapatkan asupan gizi yang akan bermetabolisme menjadi energi dalam menyongsong aktivitas hari ini.
“Emak, Andi sudah siap nih mau pergi ke sekolah!” kata Andi kepada emaknya.
“Oh ya nak, jangan lupa 10 ikat kangkung tadi dibawa yah! Titip ke mbok Leni di pasar pagi lematang sana,” sahut emak Andi.
“Iya emak, sudah andi letakan di keranjang sepeda,” balas Andi.
Emak pun segera menuju depan rumah, Andi langsung pamitan sambil mencium tangan emaknya. Kegiatan ini selalu dilakukan Andi tiap mau pergi sekolah, dia yakin kalau mencium tangan emaknya, maka semesta alam akan memperlancar semua kegiatannya. Andi sangat mencintai emak dan akan selalu menyayangi emak sampai kapanpun dan dimanapun.
,

JEJAK-JEJAK KEAJAIBAN MIMPI

Keajaiban itu, berawal saat mahasiswa baru yang bernama Tira menginjakkan kakinya di sebuah kampus tersohor. Yaitu institut teknologi bandung, dengan tekad yang kuat untuk menuntut ilmu di kampus tersebut. Ia mulai membuat jejak-jejak mimpinya. Setelah disambut dengan hangat di kampus tersebut, ia mulai menuliskan mimpi-mimpinya pada dua lembar kertas dan ia tempelkan pada dinding kamar kostnya. Pada suatu ketika ada teman-teman Tira yang berkunjung ke kostnya dan mereka melihat dua lembar kertas yang tertempel dinding kostnya tersebut mereka membaca isi dari dari dua lembar kertas tersebut yang berisikan impian-impian yang dituliskan oleh Tira. Setelah itu teman-teman Tira pun berkata padanya “hahaha, sudahlah Tir… itu kan cuman hayalan kamu aja”, ujar teman-teman Tira dengan ekspresi menyindirnya. Lalu Tira menjawabnya dengan santai “gak apa-apa kok sob siapa tau suatu hari nanti jadi kenyataan”, lalu teman-teman Tira tersadar akan semangat yang besar dari Tira mereka pun memberikan dukungan untuk Tira dan berkata “oke deh Tir semoga aja impianmu itu bukan jadi pajangan belaka”,

IMPIAN HATI MENJADI HABIBIE

Suatu ruang gelap ramai. Siang hari menuju sore
Tampak 4 orang sedang menuju bioskop, keempat sahabat yang dibayangkan tokoh Pahlawan Habibe (B.J. Habibie) dengan Ibu Ainun di suatu layar bioskop.
Diyah dan Retno tampak mengantri untuk membeli karcis di suatu ruang. Yang tampak lelah menunggu karcis sambil berdiri. Dan akhirnya mereka mendapatkannya.
“Teman-teman, ini karcisnya sudah dapat!.”
“Mana-mana?” Sambil berlari menuju ke tempat Diyah dan Retno.
“Ayo, kita cepat masuk ke Bioskop!.”
“Iya, ntar malah ketinggalan ceritanya.”
Setelah semua selesai menonton bioskop, tampak keempat anak keluar dari bioskop dan berdiri di depan bioskop sambil mencari tempat duduk untuk bersinggah dan membeli sebuah makanan ringan.
,

KESEDERHANAAN SEBUAH CITA-CITA

Sore yang indah, ditemani oleh bunyi ombak dan semilir angin yang kian beriringan dengan suara daun kelapa yang tak mau berhenti untuk melambai. Suasana tenang disini setidaknya dapat mengurangi rasa penatku. Kudengar decitan kursi roda yang makin lama kian mendakatiku. Kulihat sosok yang memang akhir-akhir ini sering bersamaku di tempat ini. Aku sangat bingung jika melihat ekspresi wajahnya terkadang dia terlihat sangat tenang dan terkadang dia terlihat datar.
“Apa hari ini kau baik-baik saja?” tanyaku padanya karena memang dia adalah sosok yang sangat sulit ditebak, bukannya jawaban yang kudapat tapi hanya senyum kecil yang mengembang di bibirnya. Aku semakin bingung dengan semua tingkahnya, sangat aneh bagiku karena memang dia sosok yang pendiam tak banyak kata yang dia lontarkan untukku.
,

DI BALIK AIR HUJAN

Rintik-rintik air hujan yang jatuh terdengar begitu berirama di sore ini dengan cahaya matahari yang mulai meredup. Begitu indah dipandang mata.
Sore ini aku hanya duduk di halte bis untuk berteduh sambil memperhatikan jalan yang mulai dibanjiri air hujan. Terlihat orang-orang menghindari hujan dengan payung atau berteduh di halte atau teras pertokoan pinggir jalan, yah seperti aku ini. Pandanganku menangkap seorang bocah lelaki mungkin berusia 8 – 9 membawa karung tengah memunguti botol bekas air minum di pinggir jalan lalu dimasukan botol-botol itu ke dalam karung yang ia bawa tanpa takut akan kehujanan. Bocah itu tak peduli dengan pakaian dan tubuhnya sudah basah kuyup ditambah dengan udara dingin yang lumayan menusuk tulang, bocah itu tetap semangat menysuri jalan mencari botol-botol bekas lainnya. Ketika karung itu dirasa cukup penuh bocah itu pun beranjak dari jalanan itu dan pergi entah kemana.
,

TAMAN SURGA

Di balik sebuah jalan kehidupan yang terkadang kelam dan terang, kini aku berada di tepian jurang tanpa dasar yang ku sebut dengan sebuah jalan pilihan. Sebuah jalan pilihan dalam hidup yang aku sendiri pun tak tahu akan di mana jalan yang penuh dengan jurang di sisi kanan dan kirinya ini bermuara.
Di ruang ini aku terperangkap, terkekang dan terkurung. Di sebuah ruang yang hanya berukuran sekitar 3 x 4 meter inilah aku habiskan hari-hariku tanpa ku tahu sampai kapan aku akan berada di sini. Hanya sinar mentari yang masuk dari sela-sela ventilasi yang menjadi temanku kala pagi menjelang dan hanya cahaya dari sebuah lampu yang menjadi temanku di kala malam tiba. Dan hanya sehelai kain tipis yang ku kenal sebagai selimut inilah yang menjadi penghangat tubuhku di kala udara dingin menghampiri bersamaan dengan jatuhnya hujan yang diiringi oleh suara petir dan kilatan cahaya yang menakutkan.
,

ARTI SEBUAH KEHIDUPAN

Apa itu kehidupan… Apakah orang seperti aku tak boleh mengetahuinya, kenapa aku dilahirkan di dunia ini hanya untuk belajar, bekerja mencari nafkah dan tak tau apa itu arti sebuah kehidupan, apakah aku memang tak pantas tau apa itu sebuah kehidupan, ketika aku sendiri tak ada yang menemani, kenapa aku tak bisa apa apa kenapa aku hanya bisa bergantung kepada kedua orangtuaku, sekolah aku dibiyayai orang tuaku, bekerja pun aku hanya ikut orangtuaku. Apa aku tak pantas punya jalan kehidupan sendiri, apa aku tak pantas hidup yang mengenal apa itu sebuah kehidupan.
“herman cepat ambilkan dokumen ayah di ruang dokumen” perintah ayah singkat.
“iya yah..!” segera aku turun ke lantai dua untuk mengambil dokumen yang ayah pinta.
Tak kusangka sangka ketika aku melewati jendela kaca di lantai dua itu aku melihat seseorang yang sedang mengambil plastik sampah yang berceceran di halaman kantor. Aku pun memperhatikanya beberapa saat, ternyata pemuda itu tak asing bagiku, ternyata ia adalah firman teman ku waktu di sma dulu, aku pun segera turun menghampirinya
,

BERSAMAMU KU GANTUNGKAN MIMPIKU

Malam sudah sangat larut, semilir angin di luar sana pun telah memainkan senandung tidur, agar mata mata yang lelah seharian terlelap di peristirahatannya. Hingga kota ini sunyi seperti kota tanpa penghuni. Tapi kenapa tidak denganku? Dua kelereng hitam ini masih saja bergelinding kesana kemari padahal sedikitpun aku tak menjentiknya. Telah aku coba memejamkannya tapi tetap tak bisa, kelopak mataku seolah ada benda kecil yang menahan agar dia tetap kembali terbuka.
Kegelisahan inilah yang mengatur otakku, untuk tidak mengirim pesan istirahat ke mataku. Kegelisahan ini juga menghentakkan hati ku menjadi sebuah pemikiran hinggaku dihinggapi insomnia akut malam ini. Duduk, berdiri telah ku lakukan sekian kali tapi tetap tak menenangkanku. Mataku mencari apa saja yang dapat membawaku ke alam bawah sadarku. Hingga akhirnya mata ku berhenti tepat pada sebuah tulisan di atas tempat tidur. Bermimpilah! Maka Allah akan memeluk mimpi-mimpimu. Bukankah Dia mengisyaratkan dalam firman-Nya: “berdo’alah, maka Aku akan mengabulkannya”
,

CAHAYA DI KEGELAPAN

Ketika sang surya mulai memudar,orang-orang berduyun-duyun pergi ke balai desa.
“Pak,bagaimana desa kita bisa maju jika bapak melarang investor menanamkan modalnya?”
“Saya sependapat dengan saudara Sam.Bapak sebagai lurah tidak seharusnya melarang investor berinvestasi.Saya ingin desa kita lebih maju dari kota jakarta”.
“Ha..ha..ha..!”Semua orang ikut tertawa mendengar celetukan salah satu dari peserta rapat,

KELUARGAKU MOTIVASIKU

Kicauan burung di pagi hari yang saling bersautan, Mugkin itu biasa dan sudah tradisi di pedesaan, rasanya pedesaan tidak lengkap tanpa adanya kicauan burung. namun pagi ini, pagi yang berharga dan yang beda bagiku setelah sekian lama aku di rantau orang kini akhirnya aku bisa bangun pagi di tanah kelahiranku, LAMPUNG TIMUR tercinta.
Di tengah kebahagiaan ku tersimpan kesedihan ketika aku melihat ayah dan bundaku di pagi buta meraka sudah bergegas untuk bekerja keras demi anak-anaknya. Buruh koret atau sering orang berkata upahan ya itulah pekerjaan orangtuaku, walau begitu tapi aku tetap bangga mempunyai orangtua yang sangat sayang padaku. Orangtuaku motivasiku ya… aku termotivasi dari mereka, sungguh pengorbanan yang mereka lakukan untuk anaknya takkan bisa tuk digantikan oleh apa yang ada di dunia ini.
,

DIA SAHABAT ATAU PACARKU

Sejak lama ku sudah menjalin persahabatan dengannya. Sebut saja nama samarannya Dewa. Setiap kali ku selalu bertatapan dengannya, tapi ku malu untuk tersenyum dengannya. Ku sering mengecewakannya. Tapi ia selalu membantu aku. Aku jadi semakin sayang padanya. Ku pernah bercerita tentang orang yang ku suka. Tapi kenapa ia tak merasa cemburu ya? Aku jadi semakin bingung.
Suatu hari aku bertemu dengannya, namun aku bingung apa yang harus kukatakan. Karena kalau kita saling bicara hanya lewat sms. Jadi, agak grogi aja kalau bicara dengannya. Tiba-tiba ia memanggil namaku.
,

IMPIAN ANAK PEMULUNG

“pak ni minum dulu” aku menyodorkan minum untuk bapaknya yang sedang asik meremukan kaleng-kaleng bekas yang kami cari. Bapak menerima minuman yang ku sodorkan tanpa berkata-kata. Mungkin karena bapak sedang lelah jadi dia tidak terlalu meresponku pikirku dalam hati.
Inilah pekerjaanku dan ayahku untuk menyambung hidup kami. Terpaksa pekerjaan ini yang harus kami jalani setelah ayah diPHK dari perusaanya dan ditambah lagi harta kami habis untuk pengobatan ibuku yang sedang sakit keras. Dan imbasnya aku pun juga harus putus sekolah karena bapak tidak sanggup lagi membayar uang sekolahku. Namun aku tidak kecewa karena aku tahu pasti tuhan memiliki rencana yang indah dibalik kejatuhan kami dan cita-citaku juga tidak terlalu tinggi aku hanya ingin menjadi seorang pemain sepak bola.
,

ARTI SEBUAH WAKTU

Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”.
,

RENCANA ALLAH PASTI INDAH

Aku dikasih kabar oleh saudaraku yang bernama Pak Supri, bahwa akan ada pertunjukan wayang kulit di desanya pada hari Jum’at, tempatnya berada di lapangan. Dalangnya Ki. H. Anom Suroto dan Ki Bayu Aji. Jarak antara rumah Pak Supri dan rumahku kira-kira 21 Km, aku disuruh hadir ke sana untuk melihat pertunjukan wayang kulit, aku senang sekali karena Dalangnya adalah Dalang kesukaanku.
Aku pergi ke rumah temanku untuk membicarakan tentang pertunjukan wayang kulit, aku dan temanku memang suka wayang kulit, dan temanku memutuskan bahwa dia bisa melihat wayang kulit bersamaku, mendengar keputusannya, aku senang sekali, lalu aku langsung pamit dan menuju ke rumah pamanku untuk memberitahu bahwa akan ada pertunjukan wayang kulit di desa Pak Supri, dalangnya Ki. H. Anom Suroto dan Ki Bayu Aji.
,

PIALA INI UNTUK IBU

Sedikit tergesa-gesa, Risky berlari melintasi halaman rumahnya. Dengan wajah terlihat gembira, sesekali anak kelas 1 SMP itu memandangi piala yang digenggamnya. Sepertinya ia sudah tidak sabar lagi menunjukkan piala itu pada ibunya dan membuktikan hobi sepakbola yang ia banggakan bisa membuahkan prestasi.
“Ibuu…Risky pulaang ,” ucap Risky setengah berteriak sambil membuka daun pintu.
Risky tertegun, disudut ruang tamu banyak sekali tetangga yang duduk bersimpuh mengerumuni ibunya. Risky mencoba melangkah mendekat. Sejurus kemudian Risky melihat ibunya menangis sambil menyebut-nyebut namanya.
“Ibuu..ibu kenapa, ini Risky bu.. ini piala yang Risky janjikan kemarin, Risky berhasil jadi juara satu buu..,” teriak Risky mulai dilanda kekhawatiran. Namun rupanya tak seorangpun mendengar teriakannya, termasuk ibunya yang suara tangisannya semakin keras.
,
cerpen

Cerpen / cerita pendek (short story) adalah jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita tentang manusia dan seluk beluknya lewat tulisan pendek.

· Cerpen pertama kali dikenalkan oleh pengarang-pengarang Amerika.
Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.

Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.

Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.

Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.

Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.

· Sumber penulisan cerpen

1. Pengalaman hidup (pribadi atau orang lain)

2. Pengetahuan

3. Imajinasi

4. Sumber lainnya

· Dalam penulisan cerpen, usahakan permasalahan yang diangkat itu hanya ada satu. Tema dan konflik pelaku jangan kebanyakan, sehingga hasil cerpen lebih kuat.

· Bagaimana memulai sebuah cerpen? Ada beberapa cara untuk mengawali sebuah cerpen, di antaranya:

1. Memulai dengan suasana ruang/alam

Tempat itu cukup jauh dari keramaian. Jalanan menuju ke tempat itu semakin lama semakin menyempit dan buruk. Di kiri kanan jalan penuh dengan hutan. Suara-suara binatang menegakkan bulu roma….

2. Memulai dengan situasi waktu

Belum terlalu larut, tapi suasana sepi seakan mencekik malam. Dua orang petugas bar kelihatan mengantuk. Toko sudah sepi sejak tadi. Gerimis membuat orang malas untuk keluar rumah…

3. Memulai dengan dialog

“Parmin… Parmin… Aduh kemana pembantu geblek ini. Nah… Ginah…. Aduh, sama saja. Brengsek….” (Si Padang, karya Harris Effendi Thahar)

4. Memulai dengan melukiskan fisik tokoh

Laki-laki itu belum terlalu tua, tapi terlihat seperti sudah berusia 80-an. Rambutnya sudah memutih. Tulang pipinya bertonjolan. Kalau berjalan badannya setengah membungkuk, tertatih….

5. Memulai dengan model surat:

Alina tercinta,

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja – dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja… (Sepotong Senja untuk Pacarku, karya Seno Gumira Adjidarma).

· Menulis cerpen di media massa

1. Ketik rapi (2 spasi)

2. Sertakan surat pengantar bahwa cerpen itu benar-benar cerpenmu dan belum pernah dimuat di majalah/Koran lain.

3. Masukkan ke dalam amplop dan kirim ke alamat redaksinya

Hal-hal yang sering terjadi pada penulis pemula:

1. Aturan penulisan yang tidak tepat

Aturan penulisan yang benar:

- Jarak baris dalam penulisan cerpen: 2 spasi

- Puisi diketik 1,5 spasi

- Artikel atau esai: 2 spasi

2. Tulisan tidak sesuai dengan jenis/atau misi media

3. Tulisan sudah basi

4. Penggunaan diksi (pilihan kata) dan tata bahasa

- penggunaan yang lebih baik untuk kata sunyi, sepi, atau lengang dalam baris puisi

- penggunaan tanda baca, terutama dalam penulisan kalimat langsung untuk fiksi

- Penerapan penggantian paragraf untuk kalimat percakapan

- Pemakaian EYD (nama orang, kata ganti, kata depan, dsb)

5. Bingung

- Cara/teknik penulisan

- Cara mengirim cerpen ke media massa

- dll

sumber by :http://bahasaindonesiaanna.blogspot.com/2011/10/cerpen-adalah.html