Sejak lama ku
sudah menjalin persahabatan dengannya. Sebut saja nama samarannya Dewa.
Setiap kali ku selalu bertatapan dengannya, tapi ku malu untuk tersenyum
dengannya. Ku sering mengecewakannya. Tapi ia selalu membantu aku. Aku
jadi semakin sayang padanya. Ku pernah bercerita tentang orang yang ku suka. Tapi kenapa ia tak merasa cemburu ya? Aku jadi semakin bingung.
Suatu hari aku bertemu dengannya, namun aku bingung apa yang harus kukatakan. Karena kalau kita saling bicara hanya lewat sms. Jadi, agak grogi aja kalau bicara dengannya. Tiba-tiba ia memanggil namaku.
, “Diyah!” kata Dewa
“Iya! Ada apa ya?” Ku menjawab sapaannya dengan grogi.
“Eh! Gimana? Kamu udah ketemu sama orang yang kamu suka?”
Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, aku segera pergi karena aku grogi bertatapan dengannya. Aku jadi semakin bersalah dengannya.
, “Diyah!” kata Dewa
“Iya! Ada apa ya?” Ku menjawab sapaannya dengan grogi.
“Eh! Gimana? Kamu udah ketemu sama orang yang kamu suka?”
Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, aku segera pergi karena aku grogi bertatapan dengannya. Aku jadi semakin bersalah dengannya.
Sepulang sekolah, aku segera sms-an dengannya. Ku takut jika ia akan
marah denganku. Ku mengirimkan sms yang berisi bahwa ku sangat bersalah
dengannya karena ku selalu menghindar dari hadapannya. Tak lama
kemudian, ia pun menjawab smsku bahwa ia tak merasa kecewa denganku.
Karena ia tahu bahwa perempuan pasti akan malu jika bertatapan dengan
cowok.
Ku selalu berfikir kalau ku suka dengannya. Namun kurasa ia takkan
pernah suka sama aku. Karena ia hanya menganggapku teman biasa. Tetapi,
ku punya dua rasa untuknya. Yaitu yang pertama: ku suka padanya, dan ku
ingin dia bisa jadi pacarku. Yang kedua: Ku ingin bersahabatan
dengannya. Hal inilah yang membuatku bingung. Jadi yang mana yang harus
ku pilih? Terpaksa ku memilih yang pertama, karena belum ada tanda-tanda
suka darinya.
Cerpen Karangan: Diyah Novi Sekarini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar