Sore ini aku hanya duduk di halte bis
untuk berteduh sambil memperhatikan jalan yang mulai dibanjiri air
hujan. Terlihat orang-orang menghindari hujan dengan payung atau
berteduh di halte atau teras pertokoan pinggir jalan, yah seperti aku
ini. Pandanganku menangkap seorang bocah lelaki mungkin berusia 8 – 9
membawa karung tengah memunguti botol bekas air minum di pinggir jalan
lalu dimasukan botol-botol itu ke dalam karung yang ia bawa tanpa takut
akan kehujanan. Bocah itu tak peduli dengan pakaian dan tubuhnya sudah
basah kuyup ditambah dengan udara dingin yang lumayan menusuk tulang,
bocah itu tetap semangat menysuri jalan mencari botol-botol bekas
lainnya. Ketika karung itu dirasa cukup penuh bocah itu pun beranjak
dari jalanan itu dan pergi entah kemana.
, Aku masih memperhatikan bocah itu yang tanpa gentar berjalan menembus air hujan. Aku bertanya-tanya, kenapa bocah itu melakukan hal itu dia bisa saja sakit karena itu. Mungkin ia melakukan itu untuk bisa bertahan di kota besar ini, fikirku. Padahal di sisi lain di kota ini para pejabat tengah asyik hidup bermewah-mewahan.
Huh.. aku menghela nafas kecewa. Entahlah aku tak mengerti kehidupan meraka, gumamku dalam hati. Lalu ku lihat lagi ke arah perginya bocah itu lagi dan ternyata sejak tadi bocah itu telah lenyap dari pandanganku.
TAMAT
Cerpen Karangan: Nurhikmah Hakiki
, Aku masih memperhatikan bocah itu yang tanpa gentar berjalan menembus air hujan. Aku bertanya-tanya, kenapa bocah itu melakukan hal itu dia bisa saja sakit karena itu. Mungkin ia melakukan itu untuk bisa bertahan di kota besar ini, fikirku. Padahal di sisi lain di kota ini para pejabat tengah asyik hidup bermewah-mewahan.
Huh.. aku menghela nafas kecewa. Entahlah aku tak mengerti kehidupan meraka, gumamku dalam hati. Lalu ku lihat lagi ke arah perginya bocah itu lagi dan ternyata sejak tadi bocah itu telah lenyap dari pandanganku.
TAMAT
Cerpen Karangan: Nurhikmah Hakiki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar