Minggu, 18 Mei 2014

EMAK,AKU TELAH WISUDA


Dunia seakan berhenti berputar saat malam itu terjadi, saat dimana Emak terjatuh di kamar mandi. Wajahnya pucat… Aku takut, aku benar benar takut kehilangan Emak malam itu…
“wiyuuuuu wiyuuuuu…” sirine ambulance berbunyi saat membawa tubuh Emak menuju rumah sakit saat itu…
“Emak bangun mak, jangan seperti ini, bangun emak, bapak butuh Emak di samping bapak” terdengar suara bapak menggerutu dan berucap takut kehilangan emak malam itu, tak kalah kesedihan yang aku alami,
“Astaghfirullah’aladzim, Astaghfirullah’aladzim, la ilaha illallah, la ilaha illallah” suara kakak berdzikir di samping telinga Emak…
Sedang aku hanya menangis sambil bersandar dipinggiran jendela ambulance malam itu…
,

ABDIKU,UNTUKMU IBU

Aku terbangun di pagi itu dengan penuh kedamaian. Ku dengar kicau burung dan mentari menambah hangat sambutan pagi. Aku Silvia, umurku 17 tahun sekarang. Ibuku seorang single parent. Ya, ayahku sudah di panggil yang maha kuasa ketika umurku masih 4 tahun. Segera aku bangun dan menuju ke kamar mandi, setelah itu memakai baju seragam, dan keluar dari kamarku. Aku menengok ibu yang sedang menyiapkan dagangannya.
“Nak, sarapan dulu. Tuh makanannya udah Ibu siapin di atas meja,” kata Ibu.
“Iya, makasih ya bu,” jawabku sambil tersenyum.
Seselesainya aku sarapan, ku pakai sepatuku, kemudian pamit pada ibu.
“Bu, Silvi pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” aku pamit pada Ibu sambil mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya nak,” kata Ibu. Kalimat itu selalu Ibu ucapkan sebelum aku pergi sekolah.
,

BERJUANGLAH



Hari ini pengumuman SNMPTN. Wajar jika hati ini ketar-ketir. “udahlah kamu pasti keterima. nilaimu lo bagus” kata septi. Aku hanya tersenyum, tapi hati ini masih tak karuan. Fikiranku melayang – ada fikiran. Ada kok kakak kelasku dulu yang pintar, nilai bagus tapi dia tidak diterima.
Sore tepat pukul 17.00 wib aku ke rumah guruku bersama teman-teman rencannya mau melihat hasil SNMPTN. “Bismillah” ku ketik nomor pendaftaran dan tanggal lahirku. Tertulis ‘Maaf’ bewarna merah. Tak kulanjutan lagi. Kata itu sudah menggambarkan jelas bahwa aku tidak lolos. Tubuh ini terasa lemas. Tapi aku berusaha tegar di depan teman-teman. “gimana? diterima?” tanya guruku. Aku hanya menggelengkan kepala. “ya udah gapapa, belum rejekinya” kata pak Reno “Iya pak” kataku. “sholat maghrib aja dulu cah,” suruh pak reno kepada kami “iya pak” jawab kami bersamaan. Sesudah sholat kupanjatkan doa kepada Tuhan, tak terasa air mata ini membasahi pipiku. Tak kuasa lagi kubendung air mata ini.
,

LOMBA METEMATIKA OLIMPIADE

Hai! Namaku Lisa. Aku memang pintar di pelajaran matematika. Tapi, untuk lomba, tak pernah menang.
Aku bertanya kepada mama: “mama… Gimana nih? 2 minggu mendatang akan ada lomba matematika. aku ingin ikut, tapi aku tak pernah menang dalam lomba matematika…” Jelasku. “Hmm… Gimana kalau les private?” Tanya mama. “Boleh…” Kataku. “Besok, mama panggil guru les private”. kata mama. “Asik!!!” Kataku girang.
Keesokan harinya…
“Lisa! Guru lesnya datang” jelas mama. “Wah! Mana?” Tanyaku pada mama. “Itu…” Kata mama. “Panggil kakak saja ya… Nama kakak Olivia biasa di panggil oliv…” Jelas guru les ku. “Oh ok…” Kataku girang.
2 minggu kemudian…
Aku mendaftarkan diriku untuk ikut lomba matematika. Lombanya 2 hari lagi. aku mempersiapkan diriku untuk lomba matematika.
,

DIA BISA,MENGAPA AKU TIDAK?

Hai, namaku Hani. Sekarang, aku tengah menduduki bangku Kelas Enam semester dua. Tentu kalian tahu bukan, sebentar lagi aku harus mengikuti Ujian Nasional SD. Aku paling takut akan UN, jadi, aku memohon pada mama agar aku tidak UN, tapi, mama menolak permintaanku.
Malam ini aku tengah belajar untuk mempersiapkan UN yang tinggal tiga bulan. Hatiku berdebar kencang dan gelisah akan moment mengerikan yang akan datang itu. Karena keringat terus membasahiku, aku memutuskan untuk menonton TV saja sekedar refreshing. Mama melihatku belum tidur. Mama menegurku. Namun, aku tetap pada pendirian: ingin menonton TV malam ini juga. Karena melihatku begitu, mama mengalah dan kembali menuju kamar.
,

DIARY TERAKHIRKU

Alunan waktu terus berputar. Jarum merah terpanjang telah melewati 00.00. Kupandangi jam dindingku tanpa henti. Sesekali dinginnya angin malam masuk melalui celah angin-angin yang menusuk pori-poriku. Suasana hening terasa begitu mencekam, tapi aku masih saja belum bisa memejamkan kedua bola mataku ini. Karena bagiku ini adalah malam yang sangat spesial bagiku mungkin juga bagi yang merasakan. Malam ini adalah malam pergantian usiaku yang genap berusia 16 tahun. Aku berharap ada sesuatu yang spesial di hari ulang tahunku ini. Mata yang semula putih merona kini berubah menjadi merah bata, tapi belum jua terpejam mata ini.
“tapi semua itu hanyalah mimpi tiada akhir yang mustahil terjadi dengan kondisiku yang sekarang ini” gumamku dalam hati.
,

SEKUNTUM BUNGA KAMBOJA

Mengayuh sepeda tua berpuluh-puluh mil jauhnya, bersandar di bahu angin jalanan yang panas, berkelok-kelok medan terjal dan sekarung beras mengiringi kayuhan sepeda tuanya.
Pagi buta menyambar keriputnya kulit bapak hari itu, seolah tak heran dengan kebiasaannya membangunkanku dengan ketukan pintu pada pukul 3 pagi, inilah rutinitas keluarga kami pada saat fajar menjemput. Ya, mencari batu kali yang tak seberapa untuk menambal beban hidup.
Angin semilir menusuk ragaku yang masih ngantuk mengharuskanku untuk pegi ke kali mencari batu untuk di jual, ini sebenarnya pekerjaan selingan bapak disamping ngebecak, tapi bapak kali ini sedang tak enak badan dan harus mengantarkan batu yang sudah di kumpulkan ke kota untuk di jual sembari menarik becak,

SENJA DI TEPI PANTAI

“Aku menyayangimu seperti halnya, aku menyayangi saudaraku, Ku tak kan Biarkan waktu dan Usia memisahkan persahabatan kita. Ku kan teriakan pada dunia bahwa kau adalah sahabat terbaikku”
Aku masih ingat awal aku bertemu dengan gadis berambut panjang, bermata belo, berbibir tipis dan kulit kuning langsat. Langit berwarna biru bersih, mentari pagi yang menghangatkan badan, kicauan burung yang merdu dan sejuknya alam, Menjadi saksi bisu pertemuan kita. Waktu itu hari kedua aku memasuki Masa Orientasi Siswa di SMP Bunda Citra, saat aku ingin memasuki halaman sekolah aku mendengar teriakan wanita dari seberang jalan SMP Bunda Citra “Hey kamu”, aku merasa teriakan itu tertuju padaku, saat aku menoleh aku melihat seorang gadis sedang mendekatiku di gerbang sekolah yaitu kamu. “Ini” Tiba tiba kau memberiku sebuah dompet berwarna hitam, aku merasa pernah memilikinya!
,

MIMPI SI ANAK KAMBING

Abil adalah bocah laki-laki berusia 7 tahun yang duduk di kelas II sekolah dasar. Abil tidak seperti anak kebanyakan yang menghabiskan waktu pulang sekolah dengan bermain. Dari kecil Abil terbiasa menghabiskan waktu untuk mengembala kambing milik tetangganya untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Sampai-sampai Abil dipanggil oleh teman-temannya dengan sebutan “si anak kambing”.
Sepulang sekolah Abil dengan menyelendangkan tas terbuat dari karung goni membawa kambing-kambingnya ke padang rumput di pinggir hutan.
Di tengah perjalanan Abil bertemu teman-temannya yang tengah asyik bermain di lapangan.
“hai teman-teman lihat ada si anak kambing” teriak salah seorang temannya sambil menunjuk ke arahnya.
,

DUNIA BARU DALAM KERTAS LIPAT

Di sini aku berusaha menuliskan beberapa kata dari secarik kertas pelangi yang berisi dengan penuh pengharapan. Harapan yang tak akan tinggal sebagai bulatan kertas yang terobek secara percuma, yeah aku akan berusaha wujudkan dengan cita cita.
“Mama minta kelak kamu menjadi orang yang berhasil nanti,” mencoba menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk mata.
Aku tercenung, seakan kata itu menelusuri lubuk hati dan mengikat prinsip bahwa aku selayaknya menjadi seseorang yang lebih baik, namun aku bingung harus memulai dari mana.
Saat di Kampus,
,

PERJALANAN SEORANG SANTRI

Gue gak pernah kefikiran untuk tinggal yang namanya di pesantren. Dan menjadi seorang santri (ngapain juga tinggal di pesantren, mana enak disuruh ngaji terus). Waktu itu adik gue baru lulus SD. Dia gak tahu mau sekolah dimana. Akhirnya bokap gue bilang mending di pesantren aja. Terus gue pojokin mulu dia biar gak mau kalau dimasukin ke pesantren (apa sih enaknya di pesantren?). Ini nih hal yang paling gak gue suka. Gue juga yang akhirnya kena sama bokap gue. Masa iya gue ditawarin masuk ke pesantren. Padahal gue kan udah sekolah di SMP. Emang apes banget nasib gue. Gue dikasih pilihan mau masuk pesantren sekarang (kelas 2 sampai kelas 3) atau nanti waktu SMA.,

MATAHARI DI BULAN DESEMBER

Udara segar, belum terkontaminasi polusi pabrik dan asap kendaraan bermotor serta hijau daun, masih asri warnanya. Hanya sesekali tersentuh debu-debu jalan yang ingin menghampiri sekedar bercerita sedikit. Terkadang kupu-kupu yang menyorotkan sejuta warna, berputar-putar mengitari taman di sudut desa yang sering aku kunjungi demi hanya melepaskan lelah setelah berhari-hari sibuk dengan aktivitas sekolah. Ya, ku pikir inilah tempat yang paling bisa menghiburku dari setiap masalah. Teman yang paling bisa mengerti perasaanku bila semua orang memaksaku dengan keputusan mereka.
,

DISIPLIN ITU PENTING

Hai teman-teman, namaku Siska Wati aku anak kedua dari tiga bersaudara, umurku sekarang 21 tahun, kebiasaan burukku terjadi ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, umurku waktu itu 18 tahun, kebiasaan burukku ialah sering datang terlambat ke sekolah, aku malas merapikan kamarku, dan aku selalu menunda-nunda mengerjakan PR dari sekolah. Oh.. iya teman-teman jangan tiru kebiasaanku yang buruk itu ya! Pasti teman-teman ingin mendengarkan lagi ceritaku yang lebih lanjut, begini ceritanya:
Waktu itu, aku duduk di kelas 3 SMAN Karya Bangsa, hidupku tak begitu indah setiap hari, aku terus dimarahi oleh ibu karena hidupku yang tidak disiplin.,

HUJAN DAN MATA PELANGI

Mata pelangi itu tak lagi tersenyum. Tatapannya menusuk ke ulu hatiku. Bahkan kali ini, menohok sampai ke jantungku. Aku menunduk. Padahal, aku sempat melihat rembulan hadir menghiasi kerinduannya padaku. Hangat. Ketika ia mencium tanganku.
“Kak, apa aku harus selalu mengalah?” Ucapnya pelan namun jelas kurasakan gejolak dasyat menyusup ke telingaku.
“Kenapa kau bilang begitu?” Suaraku hampir tak terdengar. Khawatir, emosinya meledak dan menjadi tontonan banyak orang.
“Dulu, aku dikorbankan agar sekolahmu tetap lanjut. Masih tak cukup?” Nada bicaranya melemah namun tatapannya masih tajam.
,

TANTANGAN ITU PASTI ADA

Hujan pun turun membasahi tubuhnya, dia bahkan tidak tahu apa yang dilakukan sekarang yang ia tahu hanyalah bagaimana bertahan hidup tanpa seorang ibu.
Hujan pun turun begitu deras, ia melangkahkan kakinya ke tempat perlindungan yang ada di seberang jalan dengan membawa secarik kertas yang baru saja diberikan oleh guru sekolahnya. Ia sekali melirik, membaca tulisan itu dan kembali menutupnya. Deras air matanya terus jatuh membasahi pipi mulusnya. Entah apa yang ada di fikirannya, ia terus menangis sampai cerahnya matahari muncul kembali menyinari tempat ia duduk.
Ia pun berdiri, tersenyum melihat sinar matahari, menghapus air matanya dan berkata “Aku pasti bisa menjalani keadaan ini”. Ia bergegas pulang, melewati hutan tanaman bunga untuk mempercepat dirinya sampai ke rumah, karena adik-adiknya pasti sudah menunggunya dari tadi.
,

SENJA &CATATAN TENTANG KITA

Senja tengah mematung di barat cakrawala. Arak-arakan awan mulai berganti warna, dari biru laut menjadi oranye kemerahan. Sinar keemasan dari barat cakrawala menyemburat ke seluruh arah mata angin. Serpihan kemilau emasnya menyilaukan mata bagi siapapun yang tengah menikmatinya.
Senja menjadi pertanda bahwa sang surya akan kembali ke peraduannya dan tak lama lagi akan tergantikan oleh rembulan. Dan kemudian turunlah Batara Kala. Sebelum batara kala turun, burung-burung berlalu lalang kembali ke sarangnya di rerimbunan dahan-dahan pohon.
,

GADIS DI KAKI BUKIT PROLO


Gadis manis berambut panjang itu bernama Maryati, gadis yang duduk beralaskan terpal di beranda rumahnya itu sedang memisahkan biji-biji jagung dari bongkotnya untuk diolah menjadi nasi jagung nantinya. Di bawah Bukit Prolo, bukit yang masih jajaran Pegunungan Kendheng yang membentang dari Kabupaten Jombang, Nganjuk, Bojonegoro dan Ngawi. Gadis manis berkulit sawo matang itu tinggal bersama orang tua dan sanak keluarganya. Bukit yang dihiasi oleh tanaman padi di sepanjang terasering milik warga setempat, pemandangan yang sangat indah jika dilihat dari kejauhan, ditambah lagi dengan keberadaan rumah-rumah warga yang berdiri kokoh di kaki Bukit Prolo dibangun dari kayu jati pilihan dengan tanah yang masih berupa tanah, bukan tegel atau keramik, hunian yang menurutku sangat sederhana.
,

KESABARAN & PERJUANGAN PUTRI


Pada sore itu Putri bermain dengan teman temannya di perkampungan yang ia tempati selama bertahun tahun itu. Banyak orang menyebutnya dengan Desa Pusi. Ia bersyukur bisa bertempat tinggal di Desa Pusi karena menurutnya kampungnya itu adalah perkampungan yang sangat bersih, warga warganya pun sangat bertanggung jawab atas kedisiplinan di kampung nya itu.
Setelah lama bermain-main, tiba tiba datanglah seorang wanita cantik berjilbab yang bernama Ibu Siti, itu adalah salah satu tetangga Putri, ia berlarian dan berteriak keras memanggil-manggil Putri.
“Putrii.. Putri..” suara keras Bu Siti terdengar di telinga Putri.
“ada apa Bu.. sepertinya ibu serius sekali memanggil nama saya.” Jawab Putri
“ibu kamu sakit di rumah nak, cepat kamu pulang..” gumam Bu Siti dengan raut wajah panik bercampur sedih.
,

ARTI PENTINGNYA PERSAHABATAN

Bel sekolah sudah berbunyi waktunya semua siswa masuk ke dalam kelasnya masing masing, dan tidak ada satu siswa yang masih berada di luar kelasnya. memang pada dasarnya sekolah SDN Bhakti ini adalah sekolah yang sangat tertib.
Pada saat pelajaran tidak ada satu pun siswa yang masih di luar kelas. semua siswa mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh gurunya dengan baik. di SDN Bhakti ada beberapa siswa yang sangat cerdas di kelasnya yaitu kelas 5A. siswa itu selalu menjawab pertanyaan yang ditanyakan guru kepadanya dengan betul. Ia bernama Yani, Friska dan Ana. Mereka bertiga mempunyai hobi yang sangat berbeda kalau Yani hobinya membaca, Ana hobinya menulis sedangkan Friska hobinya menggambar. Sekarang di kelas 5A sedang ada pelajaran Bahasa Indonsia yang dibimbing oleh Bu Fitri. Bu Fitri adalah guru baru di sekolah ini jadi siswa kelas 5A kurang akrab dengan Bu Fitri.
,

MENUNTUT ILMU

Dengan kuat aku terus goes sepedaku untuk menuntut ilmu ke sekolah. Aku ingin sekali mendapatkan ilmu yang berguna dan bermanfaat. Maka dari itu aku giat untuk menuntutnya. Walaupun ya, sedikit cape sih. Soalnya sekolah MD aku kan lumayan jauh. Tapi demi mendapatkan ilmu aku rela.
Tak lama kemudian akhirnya aku pun sampai di sekolah. Aku langsung menuju ruang kelas. Sampai di kelas, sahabat-sahabat ku menyapaku dengan penuh senyuman. Karena tadi aku berangkatnya agak telat jadi pas aku duduk, eh bel masuk berbunyi. Semua anak-anak masuk lalu membaca doa.
“Assalammu’alaikum..” salam pak guru.
“wa’alaikumsalam..” jawab anak-anak serempak
,

PELANGIKU TIADA TERGAMBAR


Fajar mulai menyingsing. Langit semakin terang. Embun yang semalam telah tiada, namun jejak keringat nenek belum juga lepas. Masih saja nenek membuat gorengan untuk dipasarkan setelah ini. Sedangkan kakek yang terlihat tertidur pulas sembari menunaikan Sholat Shubuh. Aku yang selesai menunaikan kewajibanku, langsung benganti seragam. Dan masih ku sempatkan memberikan sedikit keringatku untuk membantu nenek menyiapkan dagangannya. Yah, begini lah rutinitas keluarga kecil seorang Zara Aisyah. Setiap harinya, nenek berjualan gorengan di pasar. Sedangkan saat siang sampai menjelang sore, kakek bekerja menjadi buruh tani. Tanpa keringat yang bercucuran ini, aku tidak mungkin bisa duduk di bangku sekolah. Saat ini aku memasuki tahun terakhir Sekolah Menengah Atasku.
,

RAHASIA BINTANG KELAS

“Duh, dapat enam lagi!” seru Heru kesal ketika Pak Dodi membagikan hasil ulangan IPA-nya.
“Kamu pasti dapat sepuluh!” katanya pada teman sebangkunya, Fajar.
“Ah, cuma dapet sembilan, kok” kata Fajar merendah. “Sembilan? Kamu bilang dapet sembilan cuma?”
Uh, rasanya Heru ingin berteriak keras di telinga Fajar. “Dapat nilai sembilan seperti keajaiban buatku!”
Heru memang tidak heran kalau Fajar selalu dapat nilai bagus tiap ulangan. Fajar kan bintang kelas. Tentu saja dia pintar.
“Benar kan, sambil menutup mata pun kamu bisa mengerjakan semua soal dengan gampang!” Heru selalu berkata begitu pada Fajar. Sampai suatu hari, Heru benar-benar merasa cemas. Ulangan matematikanya mendapat nilai empa! Padahal ia sudah berusaha belajar semalaman.
,

SIKAPKU UNTUK BANGSAKU

Kini setelah mendapat pesetujuan dari keluarga. Ryan sekarang tercatat sebagai salah satu mahasiswa di universitas negeri terbaik di Jakarta Fakultas Hukum. Sejak dulu Ryan memang sudah memimpikan untuk bisa menyandang gelar sarjana hukum, sama seperti sahabatnya Arif yang sekarang juga mengambil jurusan hukum. Bedanya adalah Arif berada di bawah naungan salah satu Universitas terbaik di Inggris. Meskipun sekarang mereka terpisah oleh jarak yang cukup jauh, namun intensitas komunikasi mereka tetap berjalan terus. Maklumlah, kedua orang ini memang sudah begitu dekat sejak kecil. Namun kali ini mereka harus terpisah sejenak untuk mimpi mereka masing-masing.
,

HADIAH TERINDAH DARI IBU

Sejak aku kecil, aku hanya dapat merasakan kasih sayang dari seorang nenek, dan ayah. Tentu kalian akan bertanya?. Ya, Ibuku ketika aku kecil, ibu hanya mencari uang buat kebutuhanku, ayah membantu dengan gajinya per bulan yatu gaji seorang polisi Pegawai Negeri, mengetahui harga kebutuhanku seperti susu bubuk, camilan roti anak dan uang jajan ku.
Ketika itu aku berada di bangku taman kanak-kanak dimana aku baru mengenal apa itu teman, dan apa itu satu ditambah dua. Ketika aku di rumah, aku tidak pernah merasakan berteman dengan anak sekitar rumahku. Karena nenek melarangku untuk keluar rumah,

KU KAYUH RIBUAN MIMPI

Secuil kisah tentangku yang merupakan gadis kecil anak kampung yang tinggal di sisi pinggir kota besar. Aku Sriami Wulandari anak pertama dari keluarga kecilku. Keluarga kecil yang bisa dibilang berkecukupan meski tidak lebih seperti halnya teman-temanku. Ayahku bekerja hanya sebagai buruh sampah di sebuah pabrik. Sedangkan ibuku sebagai PRT. Bisa dibayangkan berapa penghasilan yang di dapat dari orangtuaku setiap bulannya.
Kadang terselip dalam hati kecilku rasa iri melihat teman-temanku semua. Dan tak jarang ku habiskan waktuku hanya untuk berandai-andai jika aku menjadi orang kaya. Pasti semua akan tercukupi atau bisa dibilang lebih dari cukup. Aku mau ini atau itu tak perlu pikir panjang lagi. Tak perlu menunggu sampai tabunganku tercukupi.,

PERJUANGAN MENUNTUT ILMU

Perkenalkan nama saya supardin, biasa disapa adin saya anak pertama dari lima bersaudara. Saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana, walaupun demikian saya memiliki motivasi yang sangat besar dalam hal dunia pendidikan. perjuangan saya bisa dikatakan sangat ekstrim, dan penuh tantangan bukan berati perjuangan saya menjadi pupus, justru hal tersebut yang membuat saya kian semangat.
Kepahitan itu kian membuat kehidupan keluarga ku terpukul, setelah ayah ku pergi meninggalkan kami semua, tentu semua tanggung jawab dibebankan kepada ibu. Mengingat usia kami yang masih sangat kecil dan masih membutuhkan kasih sayang.
,

UN DILEMA SANG GURU

Di luar terdengar lagu dangdut murahan dibunyikan keras-keras. Sedangkan aku.. aku menjejalkan lagu korea ke telingaku. Bukan tidak mencintai karya negeri sendiri. Tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan akan jatuh kemana. Hari-hari sudah cukup menekan disini tanpa lagu-lagu dangdut itu. Sedikit pelepas ketegangan hanya itu yang aku butuhkan. Alunan lembut suara IU… sejenak… bisa membuatku melupakan badai yang sedang berkecamuk di hati, pikiran dan tubuhku.
Entah kemana idealisme itu sudah kulemparkan. Mungkin seperti batu hitam yang jatuh ke laut dalam atau seperti bumerang milik suku Aborigin yang kini sedang berbalik menyerangku. Yang kulakukan adalah pengkhianatan.,

TAK ADA MAWAR YG TAK BERDURI

Ketika itu Silvy sedang merenungi nasibnya yang selalu buruk. Ia memang mempunyai hobby melamun, dan merenungi kejadian yang sudah dilaluinya. Saat itu Silvy sedang berada di tepi danau dekat rumahnya. Rupanya ia melamun bahwa dirinya mempunyai cita-cita mulia menjadi seorang guru teladan. Silvy memang mempunyai impian tersebut sejak kecil.
(Dalam lamunannya, Silvy sedang mengajar di sebuah sekolah SMPN ternama di kota. Kala itu ia kebingungan melihat murid kesayangannya tidak masuk sekolah. Sepulang mengajar, ia menemui murid tersebut. Namun tak disangka, di tengah perjalanan ia bertatap muka dengan seorang lelaki dan berkenalan dengannya. Raka, itulah namanya.)
Tak lama kemudian, Silvy terbangun dari lamunannya akibat teriakan adiknya yang bernama Syila.
,

DI SYURGA ALLAH

Ingat nggak 7 tahun lalu, kita mengalami kecelakaan, dengan tidak sengaja mobil kamu menabrak motor yang aku kendarai, yang mengakibatkan aku harus mengalami keretakan pada tulang punggung ku, saat itu dengan penuh penyesalan, dengan air mata yang terus mengalir melewati pipimu kamu meminta maaf kepadaku.
Karena kejadian itu aku jadi kenal sama kamu, hingga suatu ketika kamu pernah bilang sama aku, kalau kamu sangat kagum sama aku, karena aku adalah tulang punggung keluargaku, aku harus mencari uang untuk biaya kuliah ku dan biaya sekolah adikku, aku juga yang harus mencari uang demi pengobatan ibu ku yang sakit akibat syok mendalam karena diceraikan oleh ayahku demi wanita lain
,

Minggu, 04 Mei 2014

SELAWAT DEDAUNAN

Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.
,

MATI DALAM ANGAN

Kami berenam langsung berlari keluar dari lubang perlindungan menuju tempat yang direncanakan. Sementara Kapten Ade berlari ke arah lain untuk memancing perhatian regu tembak dan berhasil, semua tembakan langsung mengarah padanya. Aku sempat melirik Kapten Ade, sungguh luar biasa. Dia berlari meliuk-liuk menghindari tembakan seperti sedang bermain kejar-kejaran dengan anak kecil. Aku jadi penasaran siapa sebenarnya Kapten Ade ini? Sepertinya dia berbeda dari yang lain. Tapi sekarang tidak ada waktu untuk memikirkannya, aku harus fokus pada tugas.
Begitu sampai di tempat yang dimaksud Jaja langsung memberikan instruksi.
“Andi, siapkan senjatamu. Bagitu kuberi aba-aba aku beserta yang lain akan segera memberikan tembakan ke arah musuh dan kau langsung melakukan tugasmu. Dan yang paling penting setelah Andi melakukan satu kali tembakan, mau kena atau tidak kita langsung bersembunyi lagi di sini. Paham?”
,

BATAS TIDUR

Jika hendak tamasya, kami akan pergi ke batas tidur, tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas. Benda-benda, gedung, gunung, laut, pohon, dan ternak terangkat, namun tetap terpegang erat di tempatnya. Kicau burung, suara serangga, dan desau angin, jernih dan jelas sumbernya. Bisikan-bisikan menjadi percakapan nan merdu.
Sebelum berangkat kami akan berkumpul di lembah Astungkara, di hamparan yang kami sebut campuhan, terbentuk oleh pertemuan dua sungai: Tukad Telagawaja dan Tukad Tugtugan. Orang-orang memercayai, campuhan adalah lembah suci, tempat mencari keheningan dan pelepasan. Seorang guru akan membimbing kami, menyodorkan ajakan dan kepastian, ke wilayah mana kami akan tamasya.
,

TUNGGU

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”
”Hah?!”
Saya bukan orang yang mengerti bahasa isyarat. Apalagi kalau itu mengandung makna filosofis berat. Saya cuma tahu karena saya merasa. Bukan karena teori-teori yang tercantum dalam buku-buku yang pemikir sepertinya biasa baca. Saya hanya mau mencinta. Apakah lewat buku-buku bermartabat itu baru cinta bisa dicerna?
Ia selalu menyebutkan nama-nama terkenal yang saya tidak kenal. Ia selalu menyebutkan nama-nama yang bahkan di dalam kepala saya pun tak akan lama mengental. Badiout? Platoy? Badut yang letoi, begitu yang selalu ada di dalam kepala saya tercantol. Bukan karena pemikiran mereka tentang kebenaran yang tidak saya pahami. Tapi lebih karena setiap kali melihat badut yang letoi, saya merasa tak sampai hati.
Saya tidak pernah habis pikir mengapa ada karakter semacam badut di sirkus. Rata-rata mereka sebenarnya berbadan kurus. Bermuka tirus. Hanya kosmetik di mukanya memberangus. Dan buntalan di perutnya yang besar membungkus. Sehingga ia kelihatan lucu dan mungkin bagus. Bagi mata orang-orang tua yang membawa anak-anaknya hanya untuk sejenak melupakan haus. Haus hiburan. ,

KUNANG2 DILANGIT JAKARTA

Ada benarnya juga kelakar teman- temannya. ”Kau tahu, Jane, itulah risiko punya pacar zoologist. Kamu harus lebih dulu menjadi primata yang menarik untuk membuatnya tertarik bercinta denganmu.”
”Justru itulah untungnya. Aku tak perlu cemas. Karena Peter lebih tertarik memperhatikan binatang langka ketimbang perempuan berambut pirang.” Dan ia tertawa walau sebenarnya merasa konyol bila menyadari: betapa ia mesti berebut perhatian kekasihnya, justru dengan binatang-binatang langka seperti itu.
Peter pernah cerita perihal burung bulbul langka yang berhasil ditemukannya bersama rombongan peneliti Worldwide Conservation Society di perbukitan kapur dataran rendah Laos; penemuan yang menurut Peter begitu menakjubkan, karena belum pernah dalam 100 tahun terakhir ditemukan spesies baru di Asia. Kau tahu, kicau burung bulbul itu jauh lebih merdu dari burung bulbul dalam dongeng HC Andersen. Bulu-bulunya hijau mengilap. Peter pernah pula bercerita tentang kucing emas yang misterius dan tak mungkin dijumpai, tapi ia berhasil melihatnya di pegunungan Tibet, sedang melesat memanjat pepohonan dengan gerakan yang bagai terbang.
,

PELITA HIDUPKU

Pikiranku melayang ke masa silam. Hari-hariku terselip dengan berbagai sensasi. Ocehan ibu dan ayah tak pernah terhiraukan dalam nuraniku. Yang hanya terpikir dalam benakku hiruk pikuk canda tawa di setiap hariku.
Sering kali ibu termenung dengan memasang wajah murung hingga meneteskan deraian air mata dari raut wajahnya. Huruf demi huruf merangkai berbagai kalimat yang dipanjatkan setiap menghadap sang khaliq demi mewujudkan kesadaran akan kesesatan dalam jiwa dan raga sang anak.
Rasa bersalah tak pernah tersirat dalam benakku. Maaf yang meluncur dari bibirku tak pernah terdengar oleh sang indera. “Akankah amanah Tuhan mampu aku taklukkan?” kata ibu. Tangisan air mata mengucur di mata ibu.
,

TAK LEKANG OLEH WAKTU

Rom dan Sam masih menodong supir bus yang malang itu. Karena ditodong, akibatnya supir itu tidak konsentrasi dalam menyetir. Seekor anjing tiba-tiba melintas mendadak. Supir bus terkejut bukan main. Ia berusaha mengerem, namun, ia kehilangan keseimbangan, bus itu berbelok secara tiba-tiba, dan jatuh ke danau. Semua penumpang menjerit. Joe merasakan pipinya terbentur, dan mulutnya dipenuhi air. Bus itu sekarang mengapung di danau. Airnya sebatas pinggang Joe sekarang. Joe menjerit dalam hati. Kenapa sih untuk mengikuti audisi The Master saja berbagai rintangan harus dia hadapi? Dari mulai dirampok, ditusuk, kerusuhan, dan sekarang ini..
Joe berusaha tetap tenang. “Abu?” panggilnya pelan. Abu ternyata tidak pingsan. “Ya. Aku disini.” kata Abu. “Rain?” panggilnya. “Ya, ya, aku hidup!” jawab Rain.
Joe merasa lega sekarang. Kemudian ia menoleh. Ia baru sadar ternyata penumpang bus itu kebanyakan anak-anak!
,

LARA SI FRIHARTINA SI GADIS PRIHATIN

Malam yang sunyi, itulah yang senantiasa menemani malam malam ku. Tak ada yang istimewa, bintang bertaburan seperti biasanya ditemani bulan separuh yang berwarna putih. Sesekali terdengar suara lolongan anjing yang sedikit membuat bulu roma merinding. No body special! padahal aku sangat menginginkan kehadiran tiga sosok inspiratif bagiku biarpun aku belum sempat mengenalnya, merabanya, merasakan hangat dekap tubuhnya, melihat indah senyum dan kelembutan tangannya. Ya itulah nasib sialku.
Akulah Lara Prihatini, gadis malang 19 tahun yang sejak kecil telah ditinggal mati kedua orangtuaku karena kecelakaan maut di daerah Jakarta Selatan 14 tahun silam. Sungguh menyedihkan memang. Waktu itu, aku dan adikku yang baru berumur 2 tahun hanya bisa menangis terisak isak menyaksikan kedua orangtuaku dibawa dengan ambulan lalu dimasukkan ke dalam keranda mayat dan dibawa dengan iringan lantunan shalawat menuju tempat peristirahatan terakhir mereka.,

PAHLAWAN SENJA

Entah sudah berapa lama aku meninggalkan tanah kelahiranku ini, rasanya seperti mimpi bisa kembali melihatnya. Bangga rasanya melihat apa yang sudah terjadi disini, banyak yang berubah. Yak, semua karena dia. Dia adalah anugrah yang diberikan Tuhan untuk kami, untuk kami semua yang tinggal di dalam keterpurukan, untuk kami yang menganggap ini semua mustahil tapi baginya ini adalah tantangan yang harus dilakukan untuk menjadi mungkin. Ya, bagiku dan bagi semua orang dia benar-benar anugrah Tuhan yang begitu besar.
,

KARANGAN BUNGA DARI MENTERI

Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini.
”Pokoknya gue empet ngerti nggak? Empeeeeeeet banget!”
”Kenape emang?” Tanya Ira, sohibnya.
”Empeeeeeeeeeetttt banget!!”
Ah elu! Empat-empet-empat-empet aje dari tadi! Empet kenape Sit?”
Di tengah pesta nikah putrinya, di gedung pertemuan termewah di Jakarta, Siti merasa perutnya mual. Tadi pun belum-belum ia sudah tampak seperti mau muntah di wastafel.
”Emang elu bunting Sit?” Ira main ceplos aje ketika melihatnya.
”Bunting pale lu botak! Gue ude limapulu, tau?”
”Yeeeeeee! Mane tau elu termasuk keajaiban dunie!”
Usia 50, hmm, 25 tahun perkawinan, seperti baru sekarang ia mengenal sisi yang membuatnya bikin muntah dari suaminya.
,

DI PERSIMPANGAN PANTURA

”Untung kamu masih bau kencur…” Istri Lik Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku.
Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. Mata mereka isyaratkan birahi.
Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Sol, tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran di desa. Kata orang, ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Esok hari pagi-pagi buta, ia telah menghilang. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap.
,

PEMANGGIL BIDADARI

Kenangan itu seperti kotak-kotak kardus yang berserak. Seperti saat ini ketika kumasuki desa tempat Simbah Ibu tinggal.
Batu-batu jalan setapak seperti memuntahkan kembali rindu yang tiba-tiba mencuat seperti kancing yang lepas begitu saja dari baju seragam anak sekolah. Ketika kumasuki desa itu, malam mulai merapat pada warna jingga di cakrawala. Malam yang selalu menakutkan bagi anak-anak ketika ibu mereka memberi warna hitam pada sebuah hari di mana matahari sedang penat menampakkan cahayanya. Malam pada akhirnya selalu menjadi kutukan. Tak ada satu pun yang menyukai malam di desa itu, hanya Simbah Ibulah yang selalu menyukai waktu di mana semua pekat menjadi penguasa sebuah hari dan sunyi.
,

SERAGAM

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
,

MALAIKAT

Ini adalah kisah cintaku dimana aku bertemu dengan seorang malaikat yang tidak bersayap, tidak bercahaya, dan tidak dari dunia lain tapi malaikat ini adalah malaikat yang menyerupai manusia, sikapnya yang lembut, mata ya yang bersinar, dan senyum ya yang mengugah gairah, tapi bukan karena itu aku mencintainya tapi karena ketulusanya yang rela menerima gadis kotor seperti aku ini.
Berawal dari sebuah kisah cinta biasa dimana sang malaikat hanyalah seorang fans fanatikku yang tiada pernah ku hargai kehadiranya namun ia tidak peduli bagaimana aku memperlakukanya
“Hei… kamu” bentaku pada ya
“kamu memangilku” tanya nya dengan begitu lugu
“kenapa kamu melihat ku dengan cara seperti itu”
“tidak apa-apa, aku hanya meyukai kecantikanmu, itu saja” puji nya
Pujiannya itu membuatku merasa sombong akan kecantikan ku tapi siapa yang peduli dengan pujian lelaki miskin seperti dia
,

SEPENGGAL CINTA FATIMAH UNTUK BUNDA

Kudapati seorang wanita rupawan duduk rapi menadakan tangannya mengharapkan do’anya dikabulkan oleh sang ilahi, ia menangis mengeluarkan bulir-bulir mutiara segarnya setelah seharian penuh ia bekerja, aku melihatnya dan memandangnya dengan senyuman, “itu bundaku” wanita tegar yang nampak gagah di usianya yang tak muda lagi, ingin rasanya kupeluk ia dari belakang lalu ku tenangkan ia… Tapi, tapi aku tidak bisa…Yang selalu kuharapkan adalah agar allah swt selalu melindunginya dan selalu menenangkannya di saat ia bersedih, ia terbangun dari duduknya membuka mukena indahnya dari tubuh rentahnya, hatiku bergetar tatkala bunda melihat ke arahku, ia melihatku dengan cinta tapi apa yang sering aku lakukan, aku tak pernah menyadari bahwa ia menatapku dengan hati tulusnya, “bunda andai bisa aku berikan separuh hidupku, akan aku berikan itu karena bunda lebih membutuhkannya daripada aku, sungguh bisakah aku hidup tanpamu bunda?”
,

TUHAN SELAMATKAN AKU DARI ZINA

Di luar sangat menakutkan. Angin bertiup kencang. Berdiri bulu romaku melihat pepohonan terpontang panting tumbang di dekat rumah. Kucoba mengalihkan perhatian, mengambil headset kemudian memutar musik sekeras-kerasnya.
Suara gemuruh angin membuatku takut. Wah… wah… wah… tak bisa kubayangkan betapa takutnya aku jika hari ini kiamat terjadi.
Tak lama angin bertiup kencang. Akhirnya rintik hujan berlomba turun menghujam bumi. Leganya melihat air yang jatuh dari langit itu. Degupan di dadaku berhenti.
Kejadian ini membuatku merenung untuk memperbaiki diri dari kesalahan dan mulai perbanyak amal kebaikanku. Siapa tau kiamat datang tiba-tiba, dan aku tidak punya banyak bekal menghadapinya.
Semalaman sulit rasanya memejamkan mata. Hatiku menjerit seolah memintaku bertobat.
Tobat… tobat… tobat…
,

KETIKA SETANGKAI BUNGA MATI

“ma, pa lihatlah pelangi itu indah banget ya, aku senang sekarang apa yang aku impikan bisa terwujud semua berkat kak Bunga” kata Mekar adik tiri aku.
Kini aku sedang menikmati indahnya pelangi bersama keluarga baruku, dalam hati aku sangat berterima kasih sama sahabatku yang sangat aku rindukan, karena dia kebahagiaan ini bisa aku rasakan dan aku bisa dapat melihat indahnya pelangi yang selama ini tak dapat kulihat, aku juga bisa melihat bunga yang selama ini aku hanya bisa mencium baunya yang wangi, walau aku nggak bisa melihat cantiknya wajah asli sahabatku itu, tapi aku tetap senang bisa melihat semua keindahan yang tuhan berikan dan yang selama ini tidak bisa aku rasakan.
,

PENANTIAN TERAKHIR

Wita itulah panggilanku di sekolah baruku, hari pertama sekolah sama seperti sekolah-sekolah lainnya tak lain dan tak bukan pasti perkenalan lalu pemilihan ketua kelas, tapi beda denganku tak seperti yang aku bayangkan sebelum sampai sekolah. Hari pertama sekolah justru menjadi hari terburuk yang pernah aku rasakan karena aku tak secantik cewek-cewek yang bersekolah di situ bnyak sekali murid-murid lain yang menertawakanku. Huuu entah apa yang mereka tertawakan ku anggap saja angin lalu.
Hari-hari selanjutnya pun sama tak ada hari tanpa ejekan yang menyakitkan sampai-sampai ejekan itu memperkenalkanku dengan dimas adalah cowok ganteng yang letak kelasnya tak jauh dari kelasku. Semakin hari ejekan itu menjadi kebal di telingaku bahkan ketika dimas memanggilku dengan panggilan “witut” seperti ada yang bernyanyi di telingaku mungkin cinta telah mengubah maknanya di hatiku.
,

ARTI SAHABAT

Namaku altha. aku baru saja lulus SD. perkiraanku jadi anak smp itu asik dan seru. setelah hari pertama aku masuk di smp. rasanya sih biasa saja. mungkin karena aku belum terlalu akrab sama teman baruku kali ya.
Waktu istirahat pun tiba. karena aku tidak terlalu akrab aku hanya bisa duduk duduk saja di lapangan sambil memakan makanan yang baru ku beli dari kantin. tidak lama kemudian ada anak cewek yang mengajakku berkenalan, nama nya sekar.
“hay. kok sendiriann sih.?”
aku pun menjawabb “hay juga. iya nih aku belum akrab sama teman baruku”
“oh iya. kamu suka foto gak?”
“suka banget. aku narsis banget kalau di foto.”
“hahah kita sehati dong”
,

UNTUK AYAH

Sepintas Kareen melewati rumah itu. Matanya berbinar ketika sesosok bidadari cantik tepat di depan rumah tersebut. Di ingat sosok bundanya yang telah pergi 3 tahun lalu.
“Bunda.. sayangnya itu hanya khayalanku.” Batinnya.
Di rumah…
“Kareeen! Sini !”
“Ada apa Yah?”
“Ada apa ada apa. Dari mana saja kamu! Kerjaan kamu masih banyak di rumah!”. “Braaak!!” Pintu kamarnya tertutup kencang.
“Tuhan, tolong sadarkan ayah..” Air matanya bercucuran.
Tak lama, ponsel Kareen berdering.
,

SAMPAI KU MENUTUP MATA

Tarian hujan di atas genting semakin meramaikan pementasan alam malam ini. Belum lagi nyanyian gerimis yang menjadi pembuka acaranya. Sempurna memang. Sesempurna Tuhan yang telah menciptakan sesosok bunda kepadaku. Walaupun bunda tidak mengindahkan kehadiranku. “Kamu mati saja” bosan aku mendengarya. kalimat itu yang selalu bunda lontarkan kepadaku.
“Kamu dari mana saja tolol?” jam segini baru pulang. Kamu enggak lihat di luar hujan deras?”
“Maaf bun, tadi di sekolah ada pelajaran tambahan.” Aku menjawabnya senang. Setidaknya bunda menghawatirkannya.
“Apa kamu senyum-senyum Dera? cepat siapkan makan untuk nanti”
Kutundukan kembali kepalaku, senyumku redup setelah sedikit menyala tadi. “Ah bunda. Tak peduli seberapa keras kau meyuruhku mati. Aku akan tetap hidup untuk menjagamu” gumamku sambil berjalan ke arah dapur.
,

PENGORBANAN

Semuanya berawal dari pertama aku mengenal pria bernama tama. Awalnya aku hanya merasa kagum, tapi setelah aku mengenalnya lebih lama aku merasa nyaman berada di sampingnya.
Suatu hari ia menemui ku, ia mengungkapkan perasaannya kepada ku. Inilah awal hubungan kami, aku sangat bahagia memilikinya dan dia pun selalu berkata seperti itu kepada ku. Hubungan kita begitu indah, sampai suatu hari keluarga ku berkata “bahwa mereka tidak merestui hubungan ku dengan tama”. Aku mulai meneteskan air mata dan bergegas menghubungi tama untuk menceritakan apa yang terjadi.
Keesokan harinya tama menemui ku, ia meminta izin untuk menemui orangtua ku. Ia berjanji akan membuat keluarga ku menyukainya dan merestui hubungan kita. Tapi, usahanya tidak berhasil. Akhirnya hubungan kita terhenti sampai di situ.
,

AYAH BUNDA TERSENYUMLAH

Hai, aku Kenny. Tepat tanggal 2 November kemarin, usia ku genap 7 tahun. Bagi sebagian orang, masa kecil digunakan untuk bermain bersama teman sebaya. Tapi tidak denganku. 3 tahun yang lalu, aku divonis terkena penyakit Retinoblasma. Bahasa Indonesianya sih kanker mata. Dokter bilang, penyakit ini umumnya terjadi dari bayi hingga usia 5 tahun. Tapi entah kenapa sampai sekarang kanker itu masih bersarang di mataku. Malah sekarang bola mataku nampak menonjol. kalau kata para dokter, bupthalmos. Itu artinya kanker ku ini sudah stadium lanjut.
Bunda bukannya tak mau mengobati kanker yang sudah menemani hari-hariku selama lebih kurang 4 tahun ini. Tapi masalah ekonomilah yang menghalangi bunda. Bunda hanya tinggal denganku. Jauh dari keluarga. Ayah? Entahlah. Dan bunda hanya bekerja sebagai guru TK. Gajinya mungkin tak seberapa.
,

KOTAK KEADILAN

Arden meninggalkan ruangan tersebut. Sebuah bangunan besar mirip gudang. Yang telah ditinggalkan pemiliknya bertahun-tahun lalu mungkin. Ruangan gelap penuh dusta, kebohongan dan amarah. Yang di sudut-sudutnya bergelantungan banyak sarang laba-laba, di setiap inchi lantainya penuh dengan debu tebal berwarna hitam. Aroma ruangan itu juga sangat menyiksa hidung. Bau kotoran tikus dan lembab karena disfungsi ventilasi. Apalagi ditambah dengan bau darah segar yang membasahi salah satu sudut ruangan tersebut. Seonggok mayat laki-laki yang tercelup di atasnya. Belum kaku, masih hangat dan berbau anyir darah. Arden mengusap hidungnya menggunakan lengan jaketnya, yang menjadi satu-satunya bagian dari jaket jeansnya yang tidak kotor terkena debu dari ruangan. Dia terus melangkah keluar. Ke arah jalan kecil dan menuju ke arah selatan. Hujan deras dan dinginnya malam di Cinunuk menjadi penambah rasa bagi panjangnya malam ini untuknya. Tersenyum, puas dan seperti hidup untuk kedua kalinya.
,

ONE BY ONE

Yang bisa bertahan hidup dialah yang akan menjadi penguasa. Begitulah hukum rimba yang berlaku. Kita hanya bisa mensyukuri betapa nikmatnya hidup walau terkadang kita juga harus hati-hati dengan kematian. Saat ini aku berada dalam sebuah lingkungan yang dekat dengan kematian dan tidak adanya sebuah kedamaian. Kekerasan selalu menyapaku di setiap hari. Namun hati sebenarnya berbicara lain. Hati ini tidaklah cocok dengan lingkungan seperti itu. Lalu dari manakah aku berasal? Apakah itu juga menjadi penting bagi kalian? Justru mulai dari pertanyaan seperti inilah bahkan pertengkaran-pertengkaran itu terjadi.
,

CUKUPLAH ALLAH BAGIKU MAKA CUKUPLAH AKU

Hari Sabtu, hari nasional tanpa buku. Ah itu dulu. Sekarang kapan pun, hari apa pun, jam berapa pun, aku harus rela menunda istirahatku hanya demi ngejar-ngejar dosen pembimbing yang super sibuk. Ternyata begini repotnya nyusun skripsi. Juga hari ini. Bu Lia memintaku datang ke kampus. Itulah alasan kenapa aku di sini sekarang. Tepat di depan kantor jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI.
Aneh sekali. Skripsiku ini lagi-lagi tak luput dari dosa-dosa kecil penggunaan EYD. Perbaikan lagi. Cetak ulang lagi. Keluar uang lagi. Intinya akhir minggu di bulan ini uangku semakin menipis.
Aku berjalan menuju kantin. Kampus tidak seramai biasanya, tentu saja. Aku sudah menginjak anak tangga terakhir. Lelah juga naik turun tangga lantai tiga. Di hari Sabtu ini tak sedikit yang datang ke kampus. Dua orang duduk di kursi dekat pintu masuk, satu orang sedang baca mading, beberapa orang mengotak-atik komputer tempat cek nilai, dan satu orang yang baru masuk gedung ini dan menyapa orang disana-sini. Pak Ridwan.
“Pagi Re!” giliran ia menyapaku.
,

BUAH KESABARAN

Secara tak sengaja Angkasa melihat Embun sedang jalan berdua dengan seorang pria yang seumuran dengannya di sebuah pusat perbelanjaan. Beberapa kali ia mengucek matanya hanya untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah lihat. Tampak oleh matanya Embun begitu sumringah berjalan beriring dengan pria itu. Benar, Angkasa tidak salah lihat. Itu benar Embun, saudara sepupunya yang cukup dekat dengannya. Sayangnya, Embun tidak menyadari kehadiran Angkasa yang saat itu tengah mengamatinya.
Angkasa tidak mengenal siapa pria disamping Embun. Selama ini Angkasa kenal betul siapa saja yang menjadi teman Embun. Mulai dari teman kerja, teman mengaji hingga teman rumahnya. Karena memang rumah Angkasa dan Embun bersebelahan.
Angkasa tidak langsung menyapa Embun seketika itu juga. Ia tidak mau langsung membuat Embun malu jika ia melabraknya langsung. Angkasa berusaha tetap berfikir positif.
,

Jumat, 02 Mei 2014

PERTEMUAN 5 SAHABAT

Suara Adzan Mengalun Indah memanggil hamba Allah untuk menjalankan sebuah kewajiban yaitu sholat subuh. Sejenak Sang surya menampakkan cahaya terangnya. Suara ayam berkokok mengiri kemunculan sang surya. Suasana pagi yang indah tuk awali sebuah perjalanan kehidupan. Hidup yang penuh misteri tuk dipecahkan. Ada yang bilang hidup adalah sebuah perjuangan, hidup adalah sebuah dramatisme atau cerita yang tak ada habisnya sebelum hembusan nafas terakhir. Penuh dengan suka cita dan duka nestapa.
Mentari pagi yang muncul dari arah timur seakan menjadi saksi awal hariku. Waktu itu jarum panjang jam di dinding masih di angka 6 tapi aku harus sudah meninggalkan rumahku yang terletak di ujung kota Kudus. Hari ini tepat hari sabtu, sekolahku mengadakan acara persami. Acara yang diadakan oleh Dewan Galang SMP 9 Bintang Ini di ikuti oleh 200 siswi. Dengan karisma abu-abu aku diantar oleh kakakku menuju SMP ku tercinta.
,

DEMI HARI YANG MENANTI DI UJUNG HARAPAN

Pagi itu, ketika udara terasa basah oleh embun pagi, aku memulai rutinitas mingguanku menjelajahi kota. Dengan berbekal sepatu sport, aku pun melesat menyusuri jalan setapak sekitar rumahku. Belum 100 meter aku berlari, lagi-lagi hal yang sama seperti minggu lalu kembali terulang. Aku melihat seorang gadis muda sedang menyusuri gang sempit yang ada di pertigaan jalan besar. Hal itu menjadi hal yang aneh mengingat gang sempit yang ia masuki adalah gang buntu yang tidak ada apa-apa di dalamnya. Sangat aneh pikirku, tetapi aku berusaha tidak peduli dan melanjutkan langkah kakiku.
Sudah 3 minggu sejak hari itu, dan sudah 3 kali pula aku mendapatinya masuk ke dalam gang buntu yang sama. Rasa penasaran sudah tak mampu lagi ku tahan. Dengan sedikit keberanian, aku mengikutinya. Ketika memasuki mulut gang, aku sempat terganggu dengan jalannya yang basah dan bau sampah.
,

HIDUP BERAWAL DARI MIMPI

Perjalanan hidup memang harus di hadapi dengan besar hati… sepertinya ratna yang menjalani hidupnya jauh dari kata MAPAN . dia adalah seorang gadis dari 4 bersaudara.. ratna adalah anak terahir dari pasangan ibu diah dan bapak retno.
Ratna adalah seorang anak perempuan yang setiap harinya berjulan bayam , itupun milik orang lain ia hanya menjualnya saja.. dari seikat bayam yang di jualnya ia hanya mendapat uang 100 rupiah saja.. tapi ia tak pernah menegeluh… kata ratna berbicara sendiri dalam hatinya” ya allah kapan kau akan memberikan hidup yang layak untuk aku dan seluruh keluargaku terutama kedua oarng tuaku” tapi ratna slalu ceria dalam menghadapi dengan ceria kehidupannya.. bahkan ia bermimpi menjadi pengusaha yang sukses dalam tidurnya.
Tiba suatu saat ia di ajak oleh tetangganya yang bernama ibu maimunah.. ia di ajak bekerja di salon oleh ibu maimunah…. Hari pun berganti dengan hari , 3 tahun lamanya bekerja pada ibu maimunah sebagai karyawan di salon ibu maimunah…
,

YANG KAU PINJAM DARI GARUDA

Sambil merapatkan syal dan mendekap kertas-kertas di dada, Ryan mempercepat langkah. Cuaca makin dingin, batin Ryan dalam hati. Angin yang dinginnya menggigit menerpa wajah Ryan yang kekuningan, khas kulit orang Asia. Jalanan tampak sepi. Wajar saja, hari sudah senja dan ini sudah masuk musim gugur. Cuaca yang dingin dan berangin tidak akan membuat orang tahan berlama-lama di luar. Tapi bagi Ryan, cuaca ini sudah menjadi sesuatu yang akrab, bahkan mulai disenanginya.
Mata Ryan menjelajahi jalan kecil yang dilaluinya. Lalu seperti kebiasaannya saat kebetulan pulang pada saat senja, ia mampir ke kedai kopi kecil yang ada di ujung jalan kecil itu. Kedai kopi yang sepi dan kecil. Ryan berbelok dan membuka pintu kedai kopi, suara lonceng kecil yang berdentang menyambutnya. Dan ia segera duduk di meja yang biasa ia duduki. Meja yang dekat dengan jendela yang menghadap keluar. Agak terpojok memang, tapi jauh lebih tenang daripada tempat yang lain,

MIMPI UNTUK DUNIA

Hari ini tanggal 11 september 2012, 6 buah handphone terus berbunyi tepat pukul 00.00 wib. Satu… dua… tiga…. Mimpi untuk Dunia….. itulah suara keenam sahabat berteriak di sebuah perkampungan. Seketika lampu rumah penduduk terus menyala, pintu-pintu terbuka dalam selang waktu yang bersamaan, para lelaki mulai berteriak, mengejar kami.
“kabur……” kata Fadil sambil berlari
Kamipun segera berlari dengan cepat mengikuti Fadil dengan ekspresi ketakutan di kejar warga. Waktu itu Fatur yang berbadan besar seketika berlari cepat. Seketika aku, Fadil, Fahri, Faisal, dan Fahma terkejut dan tertawa melihat Fatur dapat berlari kencang mengalahkan Fahma yang terkenal dengan larinya yang cepat, tak kami sadari ternyata warga semakin dekat dan satu… dua… tiga…. Lari….
,

DI BALIK DUKAKU ADA DUKA YANG LAIN

Saat itu rencana keluargaku berlibur ke Pulau Bali. Aku sangat bahagia, karena selama ini aku hanya bisa mendengar cerita teman–temanku yang pernah ke sana, atau melihat di internet situs–situs yang menceritakan keindahan pulau Bali.
Kami sengaja berangkat malam, dengan alasan suasana malam jauh lebih tenang, tidak panas, tidak terlalu ramai, dan cukup indah. Selain itu kami juga akan mampir dulu ke rumah kakek di Surabaya. Ternyata kami tidak menyadari bahwa perjalana malam berresiko tinggi. Saat malam datang rasa kantuk pun tiba. Jika sudah mengantuk, tidak ada obat yang lebih nikmat selain tidur. Aku tidur di bangku belakang sambil memeluk boneka kesayangannku. Sedangkan mama menemani papa di kursi depan. Saat keheningan malam menghampiri, hawa dingin menusuk dada, jalan semakin gelap, ditambah kabut malam yang menghalangi ruas jalan. dan
AA……….
,

AKU BISA SENDIRI

Namanya Oni. Ia anak miskin. Bapaknya selalu merantau, dan emaknya… hm, Oni hanya tahu emak membuka warung dan dagang makanan kecil. Oni sekolah di SD Bintang Spesia, SD favorit, Ia mendapat beasiswa untuk sekolah disana. Seragam Oni sekarang kekecilan, dari kelas 1 sampai kelas 4 ini, ia masih mengenakan seragam yang sama. Begitu pula sepatunya, sudah kekecilan juga, ia ingin meminta pada emak, tapi tak tega mengucapkannya. Ia hanya akan membebani emak, jika emak tau seragam dan sepatunya telah kekecilan, pasti emak berusaha keras mendapatkan uang.
Teman-teman Oni semua orang kaya, setiap hari Oni yang selalu datang pagi melihat mobil teman-temannya yang bagus melewat, terutama adalah Shafira yang membuat mata Oni terpana, Shafira adalah anak paling kaya di sekolah itu. Oni menatap mobil mewah Shafira melewat, lalu Shafira, kakaknya yaitu kak Olivia dan adiknya Sharine keluar dari mobil. Mobil itu harganya sekitar 600-700 juta rupiah,

JALAN HIDUPKU

Ku pandangi langit sore ini. Terasa kelam dan redup, meski sebenarnya hari ini cerah. Namun hati yang risau ini membuatku merasa kelam. Aku duduk di depan rumah yang hanya berdinding kardus-kardus bekas. “Sampai kapan aku terus begini? Huft… Aku ingin sekolah,” ucapku dalam hati sambil melamun. “Dion, kamu nggak ngaji, Nak?” Tanya Ibu yang keluar dari pintu rumah. “Nggak, Bu. Dion lagi malas,” jawabku singkat.
Ibu menyandingku duduk di atas kursi panjang. Dan memberiku nasehat, agar aku tetap semangat dalam segala hal. “Lho, nggak boleh gitu donk. Memangnya kamu tidak ingin jadi orang sukses? Kamu ingin jadi dokter, kan? Ayo donk semangat, Dion nggak boleh malas ngaji yach. Siapa tahu kamu bisa jadi penerusnya Ustadz Falah (guru ngajiku),” tutur Ibu sambil mengelus rambutku. “Bagaimana Dion bisa jadi dokter kalau Dion nggak sekolah? Dion ingin sekolah, Bu…” jawabku cetus. Ibu hanya diam dan menundukkan kepala,

MESIN PEMAHAT MIMPI

“Sial!” Danu mendesis kesal. Ia membungkukkan badannya sampai sembilan puluh derajat, dengan napas yang belum stabil. Keringat mulai membasahi tempatnya berpijak. Bagai gutasi di ujung daun, peluh itu turun satu-satu dari rambutnya yang meruncing karna basah. Terik matahari membakar lintasan lari yang berwarna kemerahan.
“Latihan lagi ya Dan. Kalau di dalam sekolah saja kalah dengan Topan, apa kabar di tingkat Provinsi minggu depan? Ini baru simulasi tingkat kota Dan. Di tempat kedua saja tidak cukup. Rekor larimu masih kalah jauh dengan Topan.” Seorang laki-laki paruh baya menepuk punggung Danu. Danu lantas berdiri dengan tegak, menghadap laki-laki itu. Namanya Setya dia pelatih tim atletik di SMA. “Kita beruntung, sekolah kita punya dua kandidat yang lolos. Memang lebih beruntung lagi kalau kita dapat dua tempat di podium juara. Tapi, lakukan saja sebisamu.” Kata Setya lalu beranjak menuju Topan. Mereka saling berpelukan. Ish berasa sudah menang?! Percaya diri sekali. Pikir Danu kesal.
,

GADIS BERJILBAB PILIHAN

Gadis Berjilbab Pilihan
Cantik nian akhlak gadis berjilbab, mengajar anak di gubuk yang tua
Daerah gubuk tempat si miskin, baca dan tulis huruf Al-Qur’an
Berbagi kasih pada putra harapan…
Diterik mentari si gadis cantik berbagi kasih
Kerja tanpa pamrih dengan hati bersih
Dan ikhlaas hati…
Sepenggal lagu lawas dari grup musik qosidah Nasidaria, mengingatkanku pada sahabat karibku. Jilbab yang pernah diberikannya, masih aku simpan dengan baik, dan sering aku kenakan. Lama aku tak berjumpa dengannya. Aku rindu akan kebersamaan dengannya, canda tawa yang menghiasi kebersamaan kami, susah senang kami hadapi dengan hati yang lapang. Tapi, kini ia telah pergi jauh. Aku sangat merindukannya. ’Obi, dimana persahabatan kita yang dulu?’ tanyaku dalam hati.
,

TAMBANG KEMATIAN

Pagi datang dan bersemayam seperti biasa, tentang embun yang tergelincir di daun, gelap yang perlahan mulai memudar, sampai embus angin saat suara sunyi malam mulai reda.
Gemericik air samar-samar terdengar hingga kamarnya. Dia perlahan mulai memaksa agar bisa terjaga. Setelah memijat-mijat matanya dengan jari telunjuk dan jempol kanan, samar-samar pandangannya mulai menjadi jelas.
Seseorang sedang berwudu
Di remang-remang ruang kamar, tangannya menjelajah mencari telefon genggam yang tadi malam dia simpan di samping bantal. Masih pukul empat pagi, udara dingin masih beredar, mengancam orang-orang untuk tetap bersembunyi di balik selimut. Setengah sadar dia terdiam melihat layar telefon genggamnya. Tidak memedulikan lagi suara gemericik tadi, dia kembali pada lelap yang tak bisa tertahan lagi.
Juga, suara gemericik itupun mulai berhenti
,

KADO TERBAIK UNTUKKU DARINYA

Prolog
Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahirrahmanirrahim
Allah Allah Allah
Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang Yang Maha Mengabulkan Lagi Maha Bijaksana
Tunjukkan semua kekuasaanmu yang belum kami ketahui ya Allah
Kabulkan semua doa kami ya Allah
Hanya padamu kami memohon dan hanya padaMu kamu meminta
Dan hanya kepadaMu pula kami berserah diri
,

SELALU ADA JALAN

Ini kisah tentang perjalan hidup Adang Ahmad Sabanda. Dia adalah seorang pengusaha sukses, yang sekarang menguasai perjual-belian di bidang pertanian dan pertenakan. Beliau memulai usahanya ketika baru saja lulus SMA. Begini ceritanya…
Dulu kira-kira pada tahun 1986, Ahmad (nama kecilnya) adalah seorang pelajar di SMA 35 Jakarta, beliau memang tidak terlalu pandai. setelah lulus sekolah beliau sangat ingin kuliah, akan tetapi apa daya kedua orang tua nya hanyalah pekerja serambutan, sehingga tidak mampu membiayai ahmad untuk kuliah. Sehingga ahmad hanya menganggur saja di rumah. Ahmad memang di kenal sebagai tukang bicara, apa saja dia bicarakan entah itu benar atau salah. Walaupun banyak orang yang sudah tidak mempercayai ahmad, akan tetapi masih ada beberapa orang yang masih menaruh kepercayaan kepada ahmad, salah satunya ialah kepala desa yaitu, H Mastur.
,

SAJADAH BUAT EMAK

“Endraaa, mandi!” Emak memanggilku. Kutinggalkan lapangan. Itulah tempat bermainku dan kawan-kawan. Tidak luas sih, tapi cukuplah bagi kami bermain kejar-kejaran sampai badan dan baju basah kena keringat.
Tak ingin Emak memanggilku untuk kedua kalinya, aku berlari menuju halaman belakang rumah. Tidak langsung pergi mandi sih, badanku masih basah dengan keringat. Nih, malah ada keringat menetes dari sela-sela rambutku, mengalir turun sampai leherku. Lagi pula kata Emak kalau badan masih berkeringat sebaiknya tidak buru-buru mandi. “Nanti malah sakit. Tunggulah sebentar sampai suhu badanmu normal. Tidak kaget jadinya waktu kena air,” begitulah nasihat Emak.
,

ALLAH SWT MEMANG MAHA ADIL

Dari selembar kertas kutulis pengalamanku yang membuatku menangis. Menangis deras untuk sebuah benda yang hilang. Betapa pentingnya benda itu untukku dan keluargaku. Benda itu hanyalah sebuah hp dan sebuah mobil pick up yang menemani ayahku bekerja, ayahku seorang mebeler (memiliki usaha membuat kursi dan meja sekolah). Karena itu aku menangis karena untuk membeli hp saja aku harus menyisihkan uang jajanku. Dan orangtuaku pun harus memulai menabung untuk membeli mobil lagi.
Saat itu aku akan memulai kehidupan baru. yaitu MOS di SMKN 1 KARAWANG. Yang tidak lain sekolah yang kuinginkan. Aku sangat bahagia memulai kehidupan baru di SMKN 1 KARAWANG. aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaku adalah laki-laki yang sudah bekerja di PT kusuma Jaya sebagai drafter (gambar bangunan), dan aku seorang pelajar yang memulai kehidupannya di SMK, dan adikku yang masih duduk di TK (Taman Kanak-Kanak)
,

AKU IBU DAN PIANO

 
Januari 1996
Alunan suara piano menyejukkan hati pendengarnya. Para juri menutup kedua matanya. Senyuman tersungging di bibir mereka. Gerakan jemari sang pianis bergerak dengan serasi dan lembut. Chopin – Etude Op 10 Number 3. 4 menit 21 detik. Dalam waktu 4 menit saja, semua orang di ruangan itu tersentuh hatinya. Satu persatu dari mereka berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Para juri tidak bisa berhenti tersenyum. Begitu juga dengan sang pianis. Sang pianis berdiri dan menghadap ke para penonton dan memberikan hormat dengan hati yang sangat puas.
“Keren banget!” Teriak Debby
“Aku sampe merinding tadi! Itu benar-benar pertunjukkan terbaikmu, Fhina!” Maria meranggkul sahabatnya itu.
Fhina tersenyum senang. Kedua tangannya memeluk piala yang baru saja ia dapatkan. “Makasih ya sudah datang tadi.”
,