Siapa aku?” aku berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerak di bibir.
Yang kutahu aku adalah seorang perempuan. Kuliah di universitas dan jurusan yang kuinginkan. Memiliki nilai di tiap semester
seperti yang kuinginkan; ya, selalu IPK di atas 3,00 karena aku ingin
pintar, lulus dengan nilai yang memuaskan, lantas berkarier menjadi apa
yang kuinginkan. Aku memiliki banyak teman, baik perempuan dan lelaki di
kampus, di rumah, di sekolahku dulu, dan di beberapa komunitas di mana
aku aktif di dalamnya. Dan aku menyukai berdandan. Aku merawat rambutku
yang bergelombang panjang, merawat kulitku dengan beragam perlengkapan,
memulas wajahku yang tampak ceria dengan warna, dan memakai baju yang
aku padankan dengan segala gaya yang aku suka. Menabur parfum vanila yang kugunakan sejak aku kelas 1 SMA.
,
Tetapi itu dulu. Kini yang kusadari di dalam kursi belakang taksi
yang hanya ada aku dan seorang supir taksi yang diam itu, aku tidak lagi
mengenal siapa diriku. Tidak ada bau yang mengingatkanku akan
keberadaan diriku sendiri.
Lelaki itu kuakui sungguh tampan. Umurnya beberapa tahun lebih tua
dariku. Seorang teman mengenalkannya padaku. Pandangan pertama, aku
tertegun melihat sosok tegapnya dengan wajah rupawan. Aku mendekatinya.
Ia tertarik padaku. Hingga beberapa kali berkencan, kami menjadi
sepasang kekasih.
Sekarang sudah hampir satu tahun kami berpacaran. Ia masih tetap
lelaki berbadan kokoh yang tampan. Sedangkan aku, aku tidak pernah sama
lagi. Aku mulai sering tidak masuk kelas untuk mata kuliah tertentu.
Bahkan aku mendapat nilai E untuk lebih dari dua mata kuliah. IPK-ku
turun drastis di bawah tiga. Itu semua kulakukan atas apa yang dikatakan
lelaki tampanku sebagai cinta.
Ia selalu saja mengajak bertemu di jam-jam aku seharusnya kuliah, siang
hari di sela-sela ia istirahat di kantornya. Namun, ketika aku menolak,
ia selalu marah dan mengancam untuk memutuskan hubungan. Aku
menurutinya dengan resiko yang kudapat saat ini, yaitu kehilangan
keinginanku di tempat yang kuinginkan.
Kemudian ia bertindak lebih dari yang kuduga. Saat kami bersama, ia
mulai curiga dengan semua teman lelaki yang kumiliki. Matanya memicing
tajam, dan bertanya kasar, “Barusan siapa, Sayang?”
Setelah aku menyudahi telepon dari temanku. Aku menjawab nama teman
yang menelponku secara lantang tanpa ada prasangka. Tersebutlah sejumlah
nama lelaki ketika memang teman-teman lelakiku yang menelpon. Ia
marah-marah di depanku seolah aku perempuan yang berselingkuh di
hadapannya. Sejak itu, aku menerima kehilanganku yang kedua:
teman-temanku. Rasanya bagai tidak memiliki apa pun di dunia ini,
kecuali hanya ia, lelakiku yang diharapkannya memang hanya ia seorang
yang kumiliki.
Ia menyuruhku meluruskan rambut panjangku. Katanya lagi, “Kenapa
dandanan kamu se-menor itu? Kamu ingin bertemu aku atau bertemu
laki-laki lain?” teriaknya sewaktu kami bertemu dengan aku yang
berdandan seperti biasanya. Tentu aku menjawab tidak dan menjelaskan
padanya bahwa aku senang berdandan jika bertemu orang lain, terutama
bertemu pacarku sendiri. Ia tambah marah-marah dan mengelap paksa mukaku
dengan tisu basah. Melarangku mengenakan make-up karena takut setiap
lelaki yang berpapasan denganku akan melirik lalu mengajakku menjadi
pacarnya. Sungguh aku tidak mengerti. Yang kumengerti, aku kehilangan
diriku yang selalu senang ketika aku berdandan.
Di taksi ini, aku dalam perjalanan menemui dirinya di sebuah kafe di
dekat kantornya. Rambutku lurus, wajahku tampak pucat karena tanpa
make-up apa pun, pakaianku seadanya, dan merasa benar-benar kesepian.
Aku rindu mengobrol dengan Anton di komunitas komik. Aku rindu bercanda
dengan Miki di warung makan biasa aku dan teman-teman SMA-ku bertemu
setiap akhir pekan dua minggu sekali. Aku rindu berada di tengah-tengah
obrolan di kampusku dengan teman-teman lelaki maupun perempuan. Bahkan
mungkin aku tidak lagi akrab dengan teman-teman perempuanku.
“Mau masuk ke dalam tempat parkir atau menepi di pinggir jalan saja,
Mba?” supir taksi itu bertanya. Ternyata sebentar lagi aku akan sampai
di tujuan.
“Masuk, Pak, kita menepi di lobi!”
Aku tahu ia pasti sudah menunggu di lobi. Menunggu untuk melihatku
benar-benar sendiri menemuinya. Lantas, ia yang akan membayar taksinya.
Meski aku memiliki cukup uang, ia selalu marah-marah kalau aku harus
mengeluarkan uang di depan matanya. Sungguh aku tidak mengerti mengapa
aku harus menggantungkan diriku padanya.
Taksi berbelok memasuki gedung. Menepi di lobi. Aku melihat ia
berdiri sendirian di tangga lobi. Dari balik kaca taksi, kulihat mimik
mukanya yang kesal seolah lama menunggu. Kulirik jam pada taksi sekaligus melihat argonya, lalu kutahu betul aku tidak telat sama sekali.
Supir taksi turun membukakan pintu untukku meski aku biasa membuka
pintu untuk diriku sendiri. Ia menatap supir taksi itu dengan curiga.
Membayarnya dengan dua lembar uang pecahan dua puluh ribu setelah
bertanya pada supir biaya taksiku yang hanya tiga puluh ribu.
“Simpan saja kembaliannya!” katanya ketus pada si supir taksi.
Kami memasuki sebuah kafe di gedung itu. Ia memesan dua cangkir kopi
untuknya dan untukku. Padahal aku tidak menyukai kopi. Tapi di depannya,
ia memaksaku menikmati apa yang dinikmatinya. Katanya agar aku lebih
bisa mengerti ia. Ia berbicara panjang lebar. Berkeluh kesah soal
hari-harinya tanpa aku di kantor. Aku diam saja. Sebab tanggapanku,
kutahu akan semakin membuatnya kesal. Ia hanya mau didengar.
Hari ini tepat satu tahun kami berpacaran. Ia mengajakku berkencan
biarpun baru kemarin kami bertemu sambil makan nasi goreng di warung
langganannya yang tidak kusuka dan berbelanja kemeja di toko favoritnya
yang bernuansa kaku.
Sejenak aku bercermin di kamarku setelah mandi dan memakai baju.
Diriku di cermin itu begitu pucat. Begitu menyedihkan. Sepasang mata di cermin itu menatapku. Aku tertunduk. Sepasang mata itu masih menatapku tajam. Mengingatkanku pada diriku yang dulu.
Diriku di cermin itu begitu pucat. Begitu menyedihkan. Sepasang mata di cermin itu menatapku. Aku tertunduk. Sepasang mata itu masih menatapku tajam. Mengingatkanku pada diriku yang dulu.
“Apa yang kauinginkan?” Aku mendengar suara bisik itu ketika bercermin. Kutahu ini saatnya ada diriku yang lain yang berbicara.
Spontan aku menjawab: “Banyak hal yang kuinginkan, yang ingin kuraih,
yang ingin kupertahankan. Aku ingin bahagia dengan menjadi apa yang
kuinginkan.” Aku menteskan air
mata. Aku teringat diriku yang rajin kuliah. Mendapat nilai A untuk
hampir seluruh mata kuliah. Selalu menjadi mahasiswa dengan persentasi
makalah terbaik. Menginginkan menjadi perempuan yang menggapai karier
tertinggi dengan pendidikan yang kudapat. Menginginkan kembali memiliki
banyak teman yang membuatku merasa senang.
Tiba-tiba saja aku terlonjak. Aku melepaskan baju yang kukenakan.
Membuka lemari dan mencari-cari pakaian berwarna-warni yang dulu sering
kupakai. Aku membuka laci di bawah cermin riasku. Melihat begitu banyak
tumpukan make-up yang menunggu. Dan aku merubah wajahku berwarna
pelangi. Lembut dan betul-betul tampak indah.
“Rick, mobil
Kakak bawa!” Aku berkata pada adikku yang sedang menonton televisi.
Tanpa menunggu adikku berucap, aku segera mengambil kunci mobilku di
meja, yang lama tidak aku sentuh karena pacarku melarangku membawa
mobilku sendiri.
Aku sampai duluan sebelum pacarku sampai di kafe biasa kami janji
bertemu. Aku memesan teh hangat dan sepotong kue stroberi dengan krim
yang menggiurkan, yang dibencinya karena bisa membuatku gemuk. Setelah
menghabiskan kue itu, aku mengambil buku yang kubawa dari rumah di
tasku, dan mulai membaca sambil menunggunya datang. Aku tidak menyalakan
handphone untuk sejenak.
Di ujung pintu, aku melihatnya melangkah terburu-buru kemari dengan
wajah cemberut dan kesal. Kuhapal betul tabiatnya setiap bertemu aku.
Ada saja hal yang dikeluhkan dan perlu dikomentarinya dengan muka
begitu.
“Sedang apa kamu di sini? Aku menelponmu dari tadi. Menunggumu di
depan lobi sampai setengah jam lebih.” Nada bicaranya membuat beberapa
orang menengok ke arah kami. “Apa-apaan ini? Tampilanmu seperti ingin
mencari lelaki saja!” Ia masih mengomel sambil berdiri.
Aku beranjak dari dudukku untuk mensejajarkan tinggiku dengannya yang menolak duduk sebelum selesai memarahiku.
Aku mulai angkat bicara, “Sayang, apa kau tahu siapa aku?”
“Kau adalah pacarku.”
“Aku adalah perempuan dengan nilai tertinggi di kelasku. Aku adalah
seorang dengan banyak teman. Aku menyukai berdandan. Dan aku tidak suka
memiliki rambut seperti yang kauinginkan.” Aku menarik ikat rambutku.
Menyembullah rambut panjangku yang bergelombang indah seperti aslinya.
“Aku menyukai menjadi diriku karena dengan begitu aku tahu siapa aku.”
“Apa-apaan kau ini? Bicaramu ngelantur!” Semakin banyak mata orang memandang kami.
Aku sama sekali tidak merasa malu. Entah dari mana keberanian ini
muncul. “Dan kau harus tahu bahwa aku ingin menjadi siapa diriku yang
sebenarnya. Aku bukan manekin yang bisa kaulekatkan beragam benda yang
kauinginkan sekedar untuk memuaskan hasratmu.”
Ia meracau tak karuan. Aku tidak peduli.
Kuambil bukuku. Kukeluarkan uang untuk membayar teh dan sepotong kue stroberi yang kupesan. Kutaruh uang itu di meja.
“Kita sudah berakhir. Carilah boneka sebagai temanmu. Sekedar untuk
kaudandani dan mendengar keluh kesahmu tanpa berkata apa-apa.” Aku
melangkah pergi menjauhinya keluar kafe.
Ia meneriaki namaku. Semakin jauh suaranya. Semakin aku tersadar bahwa ia bukanlah seseorang yang kuinginkan.
Aku berjalan keluar. Tak kupedulikan dirinya lagi. Untuk pertama
kalinya aku merasa menjadi diriku yang sesungguhnya: seorang perempuan
dengan banyak keinginan yang menunggu untuk diraih. Aku tetap merasa
tenang karena kucium wangi vanila pada diriku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar