”Untung kamu masih bau kencur…” Istri Lik
Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Benih suaminya tak
bisa membuahiku. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik
dari tubuh kurus keringku.
Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu
besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan
mereka tak bisa mengelabuiku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan
kata-kata kotor. Mata mereka isyaratkan birahi.
Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik
Sol, tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran
di desa. Kata orang, ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang
tengah malam. Esok hari pagi-pagi buta, ia telah menghilang. Istrinya
tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap.
,
Aku tak mau lagi pergi bermain, keluar rumah hanya untuk sekolah atau
disuruh simbok ke warung. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu
bagaimana bersihkan lumpur yang
melekat. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah
bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil
berharap tak bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh diri bukan tak
ada, sayang uang jajanku tak
pernah cukup untuk beli obat serangga. Gantung diri jelas tak menarik
minat. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu.
Ketika tawaran Yu Silam datang, aku seperti kejatuhan bintang. Ia
mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Aku tahu simbok
berat hati melepasku. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu
menggodanya. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal.
Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak.
Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku, tak ada lagi aib yang
ditutupi. Aku tahu, ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus
kepalaku di tengah malam. Tentu ia paham penderitaanku, bukankah selama
sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama?
Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan
kenyataannya. Meski rumah-rumah di sana lebih bagus daripada di desa,
tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran.
”Ini bukan Jakarta, bodoh! Ini Patokbeusi, negeri seribu impian… ” sergah Yu Silam memotong tanya ini dan ituku.
”Patokbeusi ini kota, Yu Silam?”
”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya. ”Aku Ningce.”
Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. Aku mengikuti
langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. Nama yang aneh, apa nama
kota memang aneh-aneh begitu?
”Ini daerah pantura, pantai utara Jawa,” jelasnya tak sabar.
”Kenapa belum terlihat pantainya?”
Yu Silam mendengus.
Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Silam. Menyiapkan air
mandi, masak, termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Yu
Silam pulang kerja menjelang pagi. Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek
langganan. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu
kutanya kantornya di mana.
Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Silam kerja apa. Pantas saja ia
harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. Aku tak mau ambil pusing
selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku.
Untuk diriku, cukuplah uang jajan ala kadarnya. Toh aku selalu makan
kenyang di rumahnya. Kadang-kadang Yu Silam pulang membawa fuyunghai.
Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. Enaknya
luar biasa, simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur
hidupnya.
Dua tahun berlalu, Yu Silam mengeluh tak sekuat dulu lagi. Ia mulai
sering masuk angin. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit
benggol untuk kerokan. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau
pelanggannya tak sebanyak dulu.
”Ganti namamu, tak ada Limbuk yang sekurus tubuhmu.” Gurau Yu Silam.
Aku terkekeh. Mungkin waktu aku lahir, bapak berharap aku semontok
Limbuk, tokoh punakawan. Ternyata tak ada yang berubah. Yu Silam terus
saja memanggil nama asliku.
”Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho, Mbuk?”
”Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah?”
Aku cuma termangu dan membisu. ”Jangan takut, kalau kau rajin suntik tidak akan apa-apa.” Yu Silam tersenyum manis sekali.
Aku masih diam saja. Tak tahu harus bicara apa.
”Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki.” Tak ada nada cemooh dalam
suara Yu Silam, tapi hatiku serasa disilet-silet. Pedih dan perih.
Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung
remang-remang itu. Jadi ini memang kantornya Yu Silam. Untung saja Mami
di situ masih punya nurani, ataukah memang usiaku yang masih belum
cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk
menjadi dongdot 1). Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan
bersih-bersih. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di
situ.
Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega, sebab malam hari
telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik
kuda. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. Musik dangdut
berdentum keras. Truk besar banyak diparkir di luar. Sopir-sopir dengan
wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah, dikelilingi gelak
dan bisik undangan syahwat. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke
kamar-kamar di belakang. Tak tahu pasti aku, mereka sekadar melepas
lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup?
Kupikir jadi dongdot di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan,
tapi sudah jadi gengsi. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai
kebanggaan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah tak jauh dari sini.
Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang
seizin orangtua. Kelihatannya hanya Yu Silam yang satu-satunya
pendatang. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu.
”Jangan melamun saja, nanti piringnya pecah.” Mami menepuk bahuku perlahan.
Aku tersenyum malu, ketahuan bekerja tak sepenuh hati.
”Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang.”
Senyumku terhenti di tenggorokan.
Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku, ”Jangan mau digoda tamu, bilang Mami kalau ada apa-apa …”
Duh Gusti, perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan
penuh kasih. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya
harga tinggi di sini. Seandainya ia tahu kisah sedihku.
Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Tak bosan-bosan
mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Kadang-kadang juga menegur
cara berdandan dan berpakaian. Ada yang bilang Mami juga ’dosen’ alias
dongdot senior yang masih menerima tamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
Aku tak yakin, apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. Sebab
jadi primadona di sini tak bisa lama-lama, selalu saja ada yang baru
datang, dan lebih segar.
***
Empat bulan aku di sini, Yu Silam jarang kerja lagi karena
sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Aku tak tahu ia
sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Ia rutin pergi berobat entah
ke mana. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari,
malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Pulangnya selalu dengan obat
satu tas keresek.
Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. ”Besok
malam, mulailah belajar menemani tamu di meja.” Ia diam sejenak sambil
menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. ”Jangan mau diajak ke kamar
dulu ya!” suaranya tetap rendah tapi tegas.
Malam berikutnya, seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami
bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Ada dua orang lelaki
di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. Beberapa perempuan di
sana ikut juga tersenyum, ada yang tulus ada juga yang dengan bibir
setengah terangkat. Biasa itu, anak baru diterima sebagai teman juga
sebagai pesaing.
Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. Satu tamu
pergi datang tamu lainnya. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal
karena sepatu berhak tinggi. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi,
meski aku lebih banyak berdiam diri.
”Kamu baru ya?” lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
”Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja.” Senyumnya lebar seperti senyum keledai.
Untung Mami keburu menyelamatkanku. Ia pura-pura menarikku ke meja
lain. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini. Paling buaya di
dunia buaya.
Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Minggu depan
tak mungkin tugasku masih sama. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di
telinga Mami sambil memandangiku, ”Berapa?” Jantungku berdetak sekeras
musik di situ. Mami menggeleng dengan senyum menggoda, kelihatannya ia
punya rencana tersembunyi.
***
Dua orang tamu datang ke rumah. Katanya mereka dari tempat Yu Silam
biasa berobat. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan
penyakitnya.
”Lho, memangnya Yu sakit apa?”
”Pokoknya aku tinggal menunggu mati,” sergah Yu Silam kasar, memotong
maksud tamu itu untuk menjelaskan. Percumalah aku bertanya jenis
penyakitnya, paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami.
Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani
sungguh-sungguh. Kalaupun aku harus tertular, itu pasti kersaning Gusti
Allah 2). Yu Silam kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya.
Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami.
Tanpa kesepakatan, pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di
rumah Yu Silam. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang
tabungannya. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan
dan dikirim ke simbok. Namun, aku harus bicara jujur pada Yu Silam.
”Yu, aku mau jadi buruh cuci saja.”
Yu Silam terbelalak. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan.
Takut-takut aku melanjutkan, ”Aku ndak bisa Yu, kerja macam itu.”
”Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya??” Yu Silam meradang.
Aku tak berani menatap matanya. Bagaimana menjelaskannya? ”Sudah
kucoba. Sudah kucoba Yu, tapi aku ndak bisa.” Jeritku dalam hati.
”Pergilah sejauh yang kau suka. Biarkan aku membusuk di sini!!!” teriaknya parau.
Kupeluk ia dengan air mata, ”Tidak Yu… tidak… kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik.”
Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat
penyelamatku. Aku tak bisa kembali ke desa lagi. Biarlah simbok hidup
dengan adik lelakiku. Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk
memulai hidup baru bersama Yu Silam. Di tempat yang benar-benar baru,
bukan di desa. Aku tak bisa kembali ke sana. Pandangan
perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku.
Juga pandangan mata penuh birahi pemuda-pemuda desa.
Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu.
Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Tak sanggup
kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang
berkesadaran. Aku tak mau jadi dongdot.
***
Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur.
”Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu?” tanyanya beruntun.
Aku menggeleng cepat-cepat, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.”
Mami ikut menggeleng-geleng. Tubuhnya yang tak lagi langsing
bergoyang-goyang. ”Tapi kenapa? Kenapaaa??” kedua tangannya terbuka
lebar.
Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Mami kelihatan tak puas, mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang.
”Saya…saya… saya sudah tak perawan lagi, Mi…” bisikku pelan.
Perempuan setengah baya itu terbelalak, seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi.
”Saya korban perkosaan,” lanjutku lirih. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa.
Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar.
Ia mengangguk lemah. Dengan latar belakang segelap itu, mungkin
dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini.
Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. Aku siap kembali ke tugas
lama, bersih-bersih, cuci piring, dan membuang sampah-sampah. Tapi
setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah.
Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. Bibir Mami bergetar,
suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka, ”Nasibmu sama seperti
diriku dulu, Mbuk…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar