Minggu, 18 Mei 2014

EMAK,AKU TELAH WISUDA


Dunia seakan berhenti berputar saat malam itu terjadi, saat dimana Emak terjatuh di kamar mandi. Wajahnya pucat… Aku takut, aku benar benar takut kehilangan Emak malam itu…
“wiyuuuuu wiyuuuuu…” sirine ambulance berbunyi saat membawa tubuh Emak menuju rumah sakit saat itu…
“Emak bangun mak, jangan seperti ini, bangun emak, bapak butuh Emak di samping bapak” terdengar suara bapak menggerutu dan berucap takut kehilangan emak malam itu, tak kalah kesedihan yang aku alami,
“Astaghfirullah’aladzim, Astaghfirullah’aladzim, la ilaha illallah, la ilaha illallah” suara kakak berdzikir di samping telinga Emak…
Sedang aku hanya menangis sambil bersandar dipinggiran jendela ambulance malam itu…
,

ABDIKU,UNTUKMU IBU

Aku terbangun di pagi itu dengan penuh kedamaian. Ku dengar kicau burung dan mentari menambah hangat sambutan pagi. Aku Silvia, umurku 17 tahun sekarang. Ibuku seorang single parent. Ya, ayahku sudah di panggil yang maha kuasa ketika umurku masih 4 tahun. Segera aku bangun dan menuju ke kamar mandi, setelah itu memakai baju seragam, dan keluar dari kamarku. Aku menengok ibu yang sedang menyiapkan dagangannya.
“Nak, sarapan dulu. Tuh makanannya udah Ibu siapin di atas meja,” kata Ibu.
“Iya, makasih ya bu,” jawabku sambil tersenyum.
Seselesainya aku sarapan, ku pakai sepatuku, kemudian pamit pada ibu.
“Bu, Silvi pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” aku pamit pada Ibu sambil mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya nak,” kata Ibu. Kalimat itu selalu Ibu ucapkan sebelum aku pergi sekolah.
,

BERJUANGLAH



Hari ini pengumuman SNMPTN. Wajar jika hati ini ketar-ketir. “udahlah kamu pasti keterima. nilaimu lo bagus” kata septi. Aku hanya tersenyum, tapi hati ini masih tak karuan. Fikiranku melayang – ada fikiran. Ada kok kakak kelasku dulu yang pintar, nilai bagus tapi dia tidak diterima.
Sore tepat pukul 17.00 wib aku ke rumah guruku bersama teman-teman rencannya mau melihat hasil SNMPTN. “Bismillah” ku ketik nomor pendaftaran dan tanggal lahirku. Tertulis ‘Maaf’ bewarna merah. Tak kulanjutan lagi. Kata itu sudah menggambarkan jelas bahwa aku tidak lolos. Tubuh ini terasa lemas. Tapi aku berusaha tegar di depan teman-teman. “gimana? diterima?” tanya guruku. Aku hanya menggelengkan kepala. “ya udah gapapa, belum rejekinya” kata pak Reno “Iya pak” kataku. “sholat maghrib aja dulu cah,” suruh pak reno kepada kami “iya pak” jawab kami bersamaan. Sesudah sholat kupanjatkan doa kepada Tuhan, tak terasa air mata ini membasahi pipiku. Tak kuasa lagi kubendung air mata ini.
,

LOMBA METEMATIKA OLIMPIADE

Hai! Namaku Lisa. Aku memang pintar di pelajaran matematika. Tapi, untuk lomba, tak pernah menang.
Aku bertanya kepada mama: “mama… Gimana nih? 2 minggu mendatang akan ada lomba matematika. aku ingin ikut, tapi aku tak pernah menang dalam lomba matematika…” Jelasku. “Hmm… Gimana kalau les private?” Tanya mama. “Boleh…” Kataku. “Besok, mama panggil guru les private”. kata mama. “Asik!!!” Kataku girang.
Keesokan harinya…
“Lisa! Guru lesnya datang” jelas mama. “Wah! Mana?” Tanyaku pada mama. “Itu…” Kata mama. “Panggil kakak saja ya… Nama kakak Olivia biasa di panggil oliv…” Jelas guru les ku. “Oh ok…” Kataku girang.
2 minggu kemudian…
Aku mendaftarkan diriku untuk ikut lomba matematika. Lombanya 2 hari lagi. aku mempersiapkan diriku untuk lomba matematika.
,

DIA BISA,MENGAPA AKU TIDAK?

Hai, namaku Hani. Sekarang, aku tengah menduduki bangku Kelas Enam semester dua. Tentu kalian tahu bukan, sebentar lagi aku harus mengikuti Ujian Nasional SD. Aku paling takut akan UN, jadi, aku memohon pada mama agar aku tidak UN, tapi, mama menolak permintaanku.
Malam ini aku tengah belajar untuk mempersiapkan UN yang tinggal tiga bulan. Hatiku berdebar kencang dan gelisah akan moment mengerikan yang akan datang itu. Karena keringat terus membasahiku, aku memutuskan untuk menonton TV saja sekedar refreshing. Mama melihatku belum tidur. Mama menegurku. Namun, aku tetap pada pendirian: ingin menonton TV malam ini juga. Karena melihatku begitu, mama mengalah dan kembali menuju kamar.
,

DIARY TERAKHIRKU

Alunan waktu terus berputar. Jarum merah terpanjang telah melewati 00.00. Kupandangi jam dindingku tanpa henti. Sesekali dinginnya angin malam masuk melalui celah angin-angin yang menusuk pori-poriku. Suasana hening terasa begitu mencekam, tapi aku masih saja belum bisa memejamkan kedua bola mataku ini. Karena bagiku ini adalah malam yang sangat spesial bagiku mungkin juga bagi yang merasakan. Malam ini adalah malam pergantian usiaku yang genap berusia 16 tahun. Aku berharap ada sesuatu yang spesial di hari ulang tahunku ini. Mata yang semula putih merona kini berubah menjadi merah bata, tapi belum jua terpejam mata ini.
“tapi semua itu hanyalah mimpi tiada akhir yang mustahil terjadi dengan kondisiku yang sekarang ini” gumamku dalam hati.
,

SEKUNTUM BUNGA KAMBOJA

Mengayuh sepeda tua berpuluh-puluh mil jauhnya, bersandar di bahu angin jalanan yang panas, berkelok-kelok medan terjal dan sekarung beras mengiringi kayuhan sepeda tuanya.
Pagi buta menyambar keriputnya kulit bapak hari itu, seolah tak heran dengan kebiasaannya membangunkanku dengan ketukan pintu pada pukul 3 pagi, inilah rutinitas keluarga kami pada saat fajar menjemput. Ya, mencari batu kali yang tak seberapa untuk menambal beban hidup.
Angin semilir menusuk ragaku yang masih ngantuk mengharuskanku untuk pegi ke kali mencari batu untuk di jual, ini sebenarnya pekerjaan selingan bapak disamping ngebecak, tapi bapak kali ini sedang tak enak badan dan harus mengantarkan batu yang sudah di kumpulkan ke kota untuk di jual sembari menarik becak,